
"Nggak ada apa-apa kok, Mel. Gue cuma mau ngecek aja.” Kevin perhatian.
“Idih…ngecek? Kayak apaan aja lo ini?”
“Tadi siang lo ada masalah apa sama Rafa?” tanya Kevin tiba-tiba.
Melani kaget,”A-apa?”
“Gue lihat lo kayaknya lagi nangis gitu setelah ketemu sama Rafa? Kenapa? Apa Rafa nyakitin lo?”
Hah? Kok Kevin bisa tahu sih soal masalah itu? Jangan-jangan tuh cowok mata-matain gue lagi, sama kayak dulu gue berusaha keras minta maaf sama Rafa? Nih cowok matanya banyak banget sih, di kampus? Kayaknya hampir semua gerak-gerik gue, pasti Kevin tahu? Melani heran.
“Nggg…emang lo lihat?”
“Iya, gue lihat.”
“…”
“Terus, emang lo ada masalah apa Mel, sama Rafa?” Kevin mengulangi pertanyaannya.
“Oh, enggak ada apa-apa, kok.” Melani menutup-nutupi, karena memang sebenarnya nggak ada masalah yang serius kecuali tentang moment masa lalu yang Melani pikir, Kevin belum saatnya untuk tahu.
“Beneran nggak ada masalah apa-apa?” suara Kevin terdengar kurang yakin.
__ADS_1
“Iya, Vin. Nggak ada masalah apa-apa, kok. Kalau sampai Rafa berani macem-macem sama gue, biar gue tonjok dia! Lo tenang aja!”
Kevin tertawa,”Iya, iya, gue percaya kok sama lo. Lo kan jagoan!”
“Hehehe…bisa aja, lo?!”
Melani dan Kevin asyik mengobrol sampai larut malam, Melani sama sekali nggak tahu kalau sejak tadi Rafa berusaha menghubunginya, tapi nomor Melani selalu sibuk. Dengan mengobrol dengan Kevin, Melani bisa sedikit melupakan tentang masalahnya tadi siang.
“Nih cewek lagi ngobrol sama siapa, sih? Dari tadi diteleponin nomernya sibuk terus?” Rafa heran.
***
Hari berikutnya Melani bertemu dengan Rafa di kampus, namun mereka hanya saling beradu pandang, tanpa saling menegur sapa. Rafa memandang Melani dengan kacamata hitamnya, dan Melani memandang Rafa dengan tatapan bingung dan nggak tahu harus berbuat apa. Melani jadi merasa kikuk berhadapan dengan Rafa. Mereka berdua bersikap seperti nggak saling kenal. Mungkin mereka masih butuh waktu untuk menyesuaikan diri setelah kejadian yang cukup mengejutkan kemaren. Rafa dan Melani masih belum siap dan belum tahu harus bersikap bagaimana saat ini. Akhirnya merekapun hanya sempat berpapasan sebentar, lalu saling pergi sendiri-sendiri.
Kejadian seperti itu pun berlangsung selama tiga hari berturut-turut. Sudah tiga hari Rafa dan Melani nggak saling bicara, bahkan telepon atau SMS pun juga enggak.
Kalaupun mereka nggak sengaja bertemu di kampus, mereka hanya saling melempar pandang nggak jelas tanpa ngomong apa-apa, lalu pergi ke tujuan masing-masing. Sudah tiga hari ini juga Melani libur jadi asisten pribadinya Rafa, soalnya Rafa nggak menyuruhnya untuk melakukan
pekerjaan yang aneh-aneh seperti biasanya. Gimana mau nyuruh, mereka aja udah tiga hari jadi orang asing dan seperti nggak saling kenal.
***
“Mel, Mel, ikut gue yuk!” Diandra menarik Melani saat Melani mau pulang,”Gue mau ngomong sama lo.”
__ADS_1
“Aduh, ada apa sih, Di?”
“Ayo sini! Gue mau ngomong hal yang penting banget sama lo!” Diandra tetap menarik-narik tangan Melani.
“Aduh, iya, iya. Tapi jangan narik-narik tangan gue gini, dong! Lo pikir nggak sakit, apa?”
Diandra melepaskan tangan Melani,”Iya, maaf, Mel.”
“Lagian lo mau ngomong apaan sih, Di? Kayaknya heboh banget?” Melani heran.
“Ya udah, yuk! Kita ngomong di kantin aja, yuk! Sekalian makan siang. Gue laper!”
“…”
“Udah, ayo cepetan!”
*
Melani dan Diandra berada di kantin Bi Ijah. Semangkuk bakso dan segelas air mineral berada di hadapan mereka masing-masing, tapi mereka sama sekali nggak berminat untuk memakannya. Diandra masih mau membicarakan hal yang penting pada Melani.
“Apa? Lo mau ngomong apa sih sama gue, Di? Kok kayaknya penting banget?” tanya Melani bingung karena dari tadi Diandra belum juga menanyakan apa-apa padanya.
TBC
__ADS_1