
“Iya, iya. Gue ikut lo.” Melani terpaksa.
“Ya udah, ayo!” Rafa jalan duluan. Melani menyusul di belakang sambil mengetik SMS pada Kevin.
Vin, sori banget gue nggak bisa pergi sama lo. si bos gila nggak ngijinin gue buat pergi.
Kevin yang membaca pesan itu tertawa dengan isi SMS Melani. Dia baru tahu sekarang, ada yang berani ngatain Rafa gila.
Ya udah nggak papa. Lain kali kita kan masih banyak kesempatan.
***
Rafa berjalan di antara rak-rak buku di sebuah toko buku langganannya. Dia sedang serius mengamati berderet-deret buku yang dipajang di rak-rak. Sementara Melani mengikuti di belakang dengan muka bete. Baru juga sekitar tuga puluh menit muter-muter toko buku, Rafa sudah berhasil membuat Melani capek dengan setumpuk buku yang dibawanya. Melani heran, nih cowok kok hobi banget ngoleksi buku-buku beginian? Padahal kalau dilihat-lihat dari sifatnya yang kayak gitu, nggak mungkin kalau si Rafa ini tipe-tipe kutu buku kayak anak-anak pada umumnya. Melani bisa berpikir begitu, karena belum tahu saja di kamar Rafa banyak koleksi buku-buku novel yang hampir menyulap kamarnya menjadi sebuah toko buku kecil.
__ADS_1
Melani mengamati Rafa yang saat ini sedang serius membaca sinopsis sebuah novel yang tebal sekali, dan sepertinya dia juga berniat untuk membelinya.
“Ngapain lo ngelihatin muka orang kayak gitu?” Rafa bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang dia pegang.
Melani kaget, kok Rafa bisa tahu kalau dirinya sedang memperhatikannya,”Eh?”
“Nih, bawa bukunya!” Rafa menambah tumpukan buku di tangan Melani dengan buku tebal yang tadi baru saja dia baca sinopsisnya.
“Eh, terserah gue ya, mau beli buku sebanyak apa? Tugas lo itu cuma bawain belanjaan gue plus nggak pake ribut.”
“Tapi kan gue capek, Raf. Dari tadi kita kan udah muter-muter toko lima kali. Masa masih mau belanja buku lagi, sih?” Melani keberatan.
“Baru juga muter-muter lima kali. Biasanya gue nggak bakalan pulang sebelum muter-muter sampai dua puluh kali.” Rafa kembali berjalan mengitari rak-rak buku, mengamati setiap buku yang dirasa menarik untuk dibaca.
__ADS_1
“Hah? Dua puluh kali?” mata Melani membelalak,”Lo jangan gila ya, Raf! Lo pikir gue robot apa, disuruh muter-muter dua puluh kali di toko buku seluas ini? Udah gitu sama bawa buku sebanyak ini, lagi?”
“Eh, lagian nggak ada yang nyuruh lo buat bawa-bawa tuh buku kemana-mana. Kan lo juga bisa naruh buku itu ke kasir terus tinggal ke sini lagi. Gitu aja ribet banget?”
Melani mendengus kesal, dia sama sekali nggak kepikiran sampai ke situ. Kenapa sih, dia jadi telmi banget kayak gini kalau lagi sama Rafa?
“Ngapain lo masih diem di sini aja? Udah sana, taruh bukunya di kasir terus balik lagi ke sini!”
“Iya, iya!” Melani pergi ke tempat kasir yang letaknya lumayan jauh dari tempatnya dan Rafa berada, mengingat begitu luasnya toko buku itu.
Setelah meletakkan buku-buku belanjaan Rafa yang seabrek itu di meja kasir, Melani kembali ke tempat Rafa tadi sesuai perintah. Tapi Rafa sudah nggak ada lagi di tempat itu, pasti sudah muter-muter lagi nggak tahu kemana.”Aduh, tuh cowok ngilang kemana, sih? Baru juga ditinggal sebentar, eh udah ngilang gitu aja?”
TBC
__ADS_1