
Baru lima detik Rafa merebahkan tubuhnya di sofa untuk melepas lelah, terdengar suara ketukan pintu dari luar.
“Siapa?”
“Maaf, Tuan Muda,” terdengar suara seorang pelayan wanita di luar.
Rafa dengan malas beranjak dari tempat duduknya dan membuka pintu kamar. Pelayan itu segera menundukkan kepala begitu Rafa keluar. Saat berbicara dengan majikan, semua pelayan diwajibkan tidak boleh memandang wajah majikan,”Ada apa?”
“Tuan Besar ingin bertemu dengan Anda di ruangannya.”
“Memangnya Papa pulang?” Rafa bertanya seolah sangat nggak peduli papanya ada di rumah atau tidak. Karena selama ini Papa jarang di rumah, dia sibuk mengurus bisnis di Amerika. Pulang pun paling sering sebulan sekali, itupun di rumah hanya numpang tidur saja.
Setelah bangun, Papa kembali mengurus perusahaannya yang di Jakarta, bertemu dengan klien-klien penting di luar kota, dan jarang sekali bertemu atau sekedar ngobrol dengan Rafa. Kali ini Rafa sedikit heran, tumben sekali Papa ingin bertemu dengannya,”Ya udah. Bentar lagi aku ke ruangannya.”
Pelayan menganggukkan kepalanya,”Baik. Permisi, Tuan Muda!” palayan itu pergi setelah membungkukkan badannya di depan Rafa.
*
TOK TOK TOK
“Masuk!”
Rafa membuka pintu sebuah kamar dan melihat ada ruangan kantor yang berpindah ke rumah. Di ruangan luas itu, terlihat ada sebuah meja besar beserta tempat duduknya, rak-rak yang penuh dengan buku dan dokumen-dokumen penting, sebuah TV layar datar, komputer dengan layar LCD, laptop, sofa panjang di sudut ruangan, serta sebuah kulkas satu pintu. Itu adalah ruangan kerja papa Rafa yang bisa dibilang lebih mirip ruangan kantor yang berpindah ke rumah.
Sebuah kursi putar di belakang meja kerja berbalik, terlihat seorang laki-laki berwajah wibawa, berkumis tipis, dan berumur kira-kira 45 tahun-an sedang tersenyum memandang Rafa. Dua detik kemudian, laki-laki itu beranjak dari kursi empuknya, berjalan ke arah Rafa dan memeluknya.
“Rafael…Papa kangen sekali sama kamu!” Papa memeluk Rafa dan menepuk-nepuk punggung Rafa. Rafa hanya membiarkan papanya memeluknya tanpa ada balas memeluk papanya,”Bagaimana kabar kamu, Raf?”
“Baik,” jawab Rafa singkat.
Papa melepaskan pelukannya, lalu kembali duduk di kursi empuknya yang ada di belakang meja kerjanya,”Ayo duduklah! Papa sudah lama tidak ngobrol dengan kamu.”
Rafa duduk berhadapan dengan papanya dengan perasaan malas. Mereha hanya dipisahkan oleh sebuah meja kerja papanya.
“Bagaimana kuliah kamu? Apa semuanya baik-baik saja?"
“Ya,” lagi-lagi Rafa hanya menjawab singkat sambil matanya mengamati barang-barang yang ada di meja papanya. Dia melihat setumpuk map yang pastinya adalah dokumen-dokumen penting milik papanya.
"Bagaimana dengan orang-orang di kantor? Mereka semua memperlakukan kamu dengan baik, kan?"
__ADS_1
"Ya."
"Apa semua pekerjaan kamu lancar? Nggak ada masalah apapun, kan? Kalau ada masalah, kamu bilang aja sama Papa. Papa akan bantu kamu."
"Ya."
Papa tersenyum saja dan memgangguk.
“Lalu bagaimana hubungan kamu dengan Cyntia? Apa kalian masih pacaran sampai sekarang?”
“Iya, masih.” Rafa melihat laptop Papa yang dalam posisi tertutup di atas meja.
“Papa senang sekali, kalau akhirnya kamu memutuskan untuk berpacaran dengan Cyntia. Dia itu gadis yang baik, dan papanya juga rekan bisnis Papa. Papa sudah kenal betul dengan keluarganya. Papa berharap, kali ini kamu benar-benar serius menjalin hubungan dengan wanita. Jangan cuma main-main seperti pacar-pacar kamu yang sebelumnya!” Papa berkata penuh harap pada Rafa.
Rafa nggak menjawab, kali ini dia melihat sebuah rak yang penuh dengan buku yang ada di belakang papanya.
“Apa kamu benar-benar mencintai Cyntia?”
“…”
“Papa sangat berharap, kalau Cyntia yang nantinya akan menjadi istri kamu.”
“Rafa?” Papa terlihat sedikit bingung.
“Aku nggak suka Papa terlalu mengatur aku dalam hal apapun. Apalagi masalah calon istri.”
“…”
“Papa ingat perjanjian kita dulu, kan?! Aku bersedia menuruti keinginan Papa untuk menggantikan Papa di perusahaan, tapi Papa nggak berhak untuk mengatur dengan siapa aku akan menikah.”
“Rafa, Papa tidak bermaksud memaksa kamu atau mengatur kamu. Papa hanya mengemukakan pendapat Papa saja. Tolong kamu jangan salah paham dulu!” wajah Papa terlihat sangat cemas seakan takut kalau Rafa akan marah dan meninggalkannya.
“Kalau begitu, Papa jangan pernah campuri urusan pribadi aku!” ucapan Rafa terdengar seperti sebuah ancaman di telinga Papa,”Kalau enggak, Papa tahu kan aku bisa melakukan apa?”
“Iya, iya. Maafkan Papa, Rafa!” Papa buru-buru menjelaskan. Dia benar-benar sangat takut kalau Rafa akan meninggalkannya,”Papa janji. Papa tidak akan ikut campur dalam hal apapun! Papa janji. Asalkan kamu tidak membatalkan penjanjian itu!”
Rafa mengangguk,”Oke.”
Papa bernapas dengan lega, rasanya semua masalah telah terselesaikan. Kalau dipikir-pikir, sikap Rafa dan papanya bukanlah menunjukkan sikap anak dan ayah, melainkan lebih mirip sikap dua orang rekan bisnis yang akan mengadakan perjanjian kerjasama.
__ADS_1
“Berapa lama Papa di rumah?” Rafa bertanya, yang sebelum Papa menjawab pun sepertinya dia sudah tahu jawabannya.
“Besok pagi Papa akan kembali ke Kanada. Ada bisnis penting dengan salah satu perusahaan di sana. Kamu nggak apa-apa kan, kalau Papa pergi lagi?”
“Memangnya selama ini aku pernah melarang Papa untuk tidak pergi? Enggak, kan?!”
“…”
“Kalaupun seandainya aku melarang Papa untuk tidak pergi, apa Papa akan tinggal? Apa Papa akan membatalkan kepergian Papa ke Kanada demi aku?” kali ini pun Rafa tahu apa jawaban papanya. Papanya nggak akan mungkin membatalkan kepergiannya hanya demi Rafa. Mungkin, kalau dunia kiamat baru papa akan membatalkan kepergiannya ke Kanada.
Papa menghela napas dan menelan ludah. Dia tahu Rafa sedang memprotesnya karena selama ini dia terlalu sibuk bekerja dan jarang ada di rumah. Biarpun Rafa tidak mengatakannya secara langsung, tapi Papa tahu maksudnya,”Rafa, kamu harus tahu. Kalau Papa melakukan semua ini juga hanya untuk kamu. Karena Papa sayang sama kamu.”
Rafa hanya diam. Mungkin semua itu memang untuknya karena seperti yang dia tahu, keluarga mereka hanyalah tinggal mereka berdua saja. Dan tentang rasa sayang Papa padanya, Rafa tidak pernah meragukannya.
"Iya, Pa."
" Ya sudah. Bagaimana kalau nanti malam kita makan malam berdua? Papa pengen ngajak kamu makan malam berdua di restoran berbintang? Kamu ada waktu, kan?"
Rafa mengangguk. "Iya, Pa."
*
Rafa keluar dari ruangan Papa dan kembali ke kamarnya. Dia jatuhkan tubuhnya ke atas kasur dengan posisi telanjang---memandangi langit-langit kamarnya.
Ponselny bergetar. Ada panggilan masuk dari seseorang.
"Halo?"
"Pak Rafa, ini saya."
"Iya, Pak Amar, ada masalah?"
Ternyata yang menelepon adalah sekretarisnya. "Tidak ada masalah apapun, Pak. Saya hanya mau mengingatkan Anda bahwa besok kita ada meeting pagi dengan Tuan Richard, jadi saya harap Anda datang pagi ke kantor."
"Baik, Pak. Saya akan ke kantor besok pagi. Hm."
Rafa mengakhiri panggilannya dan memejamkan matanya---tidur.
TBC
__ADS_1