My CEO My Ex Boyfriend

My CEO My Ex Boyfriend
97


__ADS_3

"Di, Do…gue mau keluar bentar. Lo berdua tunggu di sini aja, ya?” Meelani keluar kamar dengan langkah tergesa-gesa, Diandra dan Aldo mengejarnya karena mencemaskan keadaan Melani.


“Mel, tunggu, Mel!”


Melani mengedarkan pandangannya ke seluruh lobi, mencari-cari keberadaan Rafa. Dia yakin Rafa ada di sekitar situ, dan pasti tadi Rafa juga yang mengirimkan mawar putih untuknya. Karena nggak menemukan Rafa di lobi, Melani menaiki lift untuk pergi ke lantai satu, takut Rafa keburu pergi.


Sementara itu, Diandra dan Aldo kehilangan jejak Melani.


“Aduh, Do. Si Melani kemana, sih?” Diandra celingukan tapi nggak melihat ada tanda-tanda Melani di situ.


“Abis lo sih, tadi lama banget jalannya?” Aldo ikutan celingukan.


“Kok lo malah nyalahin gue, sih?” Diandra nggak terima.


“Ah, udahlah! Daripada berantem mendingan kita cepet nyari Melani!” ujar Aldo,”Kita ke sana, kita ke sana!” Aldo menunjuk suatu arah dan langsung menarik Diandra.


Melani masih mencari-cari Rafa ke seluruh tempat di rumah sakit yang mungkin dilewati Rafa. Dia berjalan di antara kerumunan orang yang berlalu-lalang di dekat taman rumah sakit. Mata Melani terus menyapu seluruh tempat untuk bisa menemukan Rafa.


Raf, gue tahu lo ada di sini. Lo ada dimana sih, Raf? Kenapa lo nggak nemuin gue aja?

__ADS_1


Melani melihat seorang laki-laki sedang berjalan jauh di depannya di antara orang-orang. Kalau dilihat-lihat drai postur tubuh dan model rambutnya yang bagian belakang agak berdiri-berdiri itu, Melani yakin kalau itu pasti Rafa. Dia puun mempercepat langkahnya, bahkan sampai berlari.


“RAFA!!! RAFA!!!” Melani berteriak memanggil orang itu.


Cowok yang dipanggil Melani itu tetap berjalan, seperti tidak mendengarkan panggilan Melani.


“Rafa, tunggu Raf!” Melani berhasil memegang tangan cowok itu dan membalikkan tubuhnya. Ternyata cowok yang di depannya itu bukan Rafa, mereka hanya mirip bagian belakangnya saja.


“Mm…maaf?” cowok itu terlihat bingung dengan Melani yang tiba-tiba menghalangi jalannya.


Melani kecewa dan merasa nggak enak hati pada cowok itu,”Oh…m-maaf, Mas. Saya salah orang. Maaf ya, Mas?”


Melani tampak putus asa, dia nggak berhasil menemukan Rafa. Sebenarnya dia masih ingin terus mencari Rafa sampai ketemu karena dia bisa merasakan kehadiran Rafa di rumah sakit itu. Tapi dengan kondisinya yang masih lemah, Melani belum kuat untuk terus berjalan.


Raf, lo dimana, sih?


Tanpa diketahui Melani, Rafa melintas di belakangnya. Rafa berjalan tanpa tahu ada Melani di dekatnya. Jantung Melani berdebar-debar, dia merasakan semakin dekat dengan keberadaan Rafa. Saat Melani membalikkan badannya, dia berharap akan melihat Rafa, tapi tetap tidak terlihat sosok Rafa di sana. Melani tidak melihat sosok Rafa dari sekian banyak pengunjung rumah sakit.


Diandra dan Aldo muncul dari suatu arah, begitu melihat Melani mereka segera bergegas menghampirinya.

__ADS_1


“Mel, lo nggak apa-apa, kan? Lo kemana aja sih, tadi? Gue sama Aldo tuh panik nyariin lo? Lo itu belum boleh jalan-jalan dulu! Nanti kalau lo sakit lagi gimana? Gue itu cemas mikirin lo!” Diandra nyerocos khawatir.


Sementara Diandra nyerocos, Melani tetap diam saja. Dia kecewa karena perasaannya salah, Rafa nggak ada di rumah sakit itu atau mungkin dia sudah pergi.


“Ya udah. Lo kembali ke kamar aja, ya? Gue nggak mau sampai lo kenapa-napa, Mel!” Diandra mengantar Melani kembali ke kamarnya, diikuti Aldo.


***


Sampai esok harinya, Rafa tetap nggak menunjukkan batang hidungnya di rumah sakit untuk menjenguk Melani. Melani kebingungan sendiri. Dia terus mencoba untuk mengSMS Rafa, bahkan meneleponnya. Tapi tetap saja Rafa nggak bisa dihubungi, semua SMS yang dikirim Melani juga satupun nggak ada yang dibalas oleh Rafa.


Duh, Rafa. Lo kemana sih, sebenernya? Lo marah sama gue? Emang gue punya salah apa sama lo?


Melani memandangi HP nya, berharap Rafa akan meneleponnya, meskipun dari kemaren harapannya itu belum terkabul sampai hari ini.


Melani menoleh. Kevin tertidur di sofa yang ada di sudut ruangan. Kevin sudah dari tadi pagi menemani Melani, sampai ketiduran di situ. Melihat Kevin, Melani jadi sangat merasa bersalah.


Selama dua hari dia di rumah sakit, Kevin yang selalu menemaninya, bahkan sampai ketiduran seperti itu. Kevin begitu perhatian pada Melani, tapi kenapa Melani justru malah terus-terusan memikirkan orang lain yang jelas-jelas nggak pernah menemaninya ataupun menjenguknya? Rafa sedikitpun nggak pernah datang untuk menjenguk dia dan menanyakan keadaannya. Kemarinpun hanya mengirimkan bunga untuk Melani dengan menitipkannya pada suster tanpa datang sendiri menemui Melani. Kalau dipikir-pikir, Kevin jauh lebih baik daripada Rafa. Tapi kenapa Melani nggak bisa berhenti memikirkan Rafa?


Maafin gue ya, Vin. Gue tahu lo baik banget sama gue. Tapi gue juga nggak tahu kenapa, gue nggak bisa berhenti mikirin Rafa?

__ADS_1


TBC


__ADS_2