My CEO My Ex Boyfriend

My CEO My Ex Boyfriend
49


__ADS_3

“Huh, lo tuh ngeselin banget, sih? Lo suruh gue baca novel setebel ini, sementara lo asyik-asyikan tidur? Enak banget lo? Nggak. Gue nggak mau.”


Melani melempar novel di dekat Rafa dan berdiri,”Mendingan gue pulang.”


“Emang lo berani ngelanggar perjanjian?” tanya Rafa,”Lo pengen bokap lo jadi pengangguran?”


“…” Melani kesal, Rafa selalu menggunakan alasan itu untuk memberikan semacam ancaman padanya.


“Gimana? Lo mau apa enggak?”


“Iya, iya, gue bacain, Bos!” Melani duduk di pinggiran tempat tidur dan mengambil novel dengan terpaksa.


“Bagus, bagus.”


“Terus gue kapan pulangnya, nih? Ntar ayah sama ibu gue cemas di rumah.”

__ADS_1


“Udah, tenang aja! Mereka nggak bakalan cemas, kok. Pokoknya lo nggak boleh pulang sebelum gue tidur!”


“Emang bokap lo juga nggak marah kalau gue di sini sampe malem?”


“Bokap gue lagi keluar negeri.”


Pantesan aja, dari tadi dia nggak melihat ada papa Rafa di rumah.


“Udah bacain!”


“Tapi, Raf…”


“Iya, iya.” Melani dengan malas mulai membuka novel yang tebal itu dan membacanya dengan keras. Rafa mendengarkan sambil memejamkan matanya.


Jarum jam menunjukkan pukul 23.00 WIB.

__ADS_1


Melani masih terus membaca novel sambil sesekali menguap lebar. Matanya sudah lengket sekali pengen tidur. Melani menoleh dan melihat Rafa sudah tertidur pulas. Wajah tidur Rafa terlihat sangat polos kalau lagi tidur begitu. Beda kalau lagi melek, pasti bawaannya marah-marah terus. Untuk beberapa saat Melani memperhatikan Rafa yang sedang tidur. Baru kali ini Melani merasa Rafa seperti berubah menjadi orang lain saat sedang tidur, bukan menjadi Rafa galak yang selama ini dia kenal.


Rafa manis banget, deh! Kalau lagi tidur gini, mukanya polos banget!


Melani tanpa sadar mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Rafa. Saat Rafa bergerak, Melani kaget dan baru sadar dengan apa yang dia lakukan. Dia segera menarik tangannya kembali. Dia sendiri juga nggak habis pikir, kenapa tadi pake mau pegang-pegang Rafa segala?


Aduh, gue ngapain sih, ini? Ngapain tadi gue pake mau megang-megang Rafa segala? Apa gue udah…ah, nggak mungkin. Nggak bener, nih. Gue nggak boleh kayak gini! Rafa itu bukan siapa-siapa gue!


***


Melani terbangun dari tidur nyenyaknya di pagi hari yang cerah. Dia merasakan sinar matahari yang hangat masuk ke dalam kamarnya. Melani menguap lebar-lebar dan menarik kedua tangannya ke atas. Daat dia membuka matanya, dia merasa sangat bingung, melihat suasana kamarnya yang nggak sama seperti biasanya. Dia merasa tempat itu bukanlah kamarnya.


Mata Melani yang masih lengket itu menyapu seluruh ruangan. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat dia melihat foto Rafa di dinding kamar. Diapun baru ingat kalau dari semalam dia masih berada di kamar Rafa, dan mungkin ketiduran karena terlalu lelah.


Saat ini Melani berada di tempat tidur Rafa lengkap dengan selimut tebalnya. Melani bingung kenapa dia bisa ada di tempat tidur, padahal seingatnya tadi malam dia duduk di karpet, dan setelah itu nggak ingat lagi apa yang terjadi. Melani celingukan mencari Rafa, tapi cowok itu nggak kelihatan batang hidungnya. Pikiran Melani pun sudah kemana-mana.

__ADS_1


“Hah? Aduh…apa yang terjadi sama gue tadi malem?” Melani memeriksa tubuhnya sendiri dan masih berpakaian lengkap,”Kok gue bisa tidur di sini, sih? Gue tidur di sini? Satu ranjang sama Rafa?” Melani sudah berpikir yang enggak-enggak,”Jangan-jangan tadi malem gue sama Rafa…” Melani buru-buru membuah jauh-jauh pikiran jeleknya itu.


TBC


__ADS_2