
Fandy mengangguk,”Iya. Sebenarnya masih banyak bagian-bagian dalam novel ini yang aku suka, tapi aku paling suka bagian yang itu.”
“Kok kita samaan, sih?!” Melani tampak senang.
Saat melani duduk berdua dengan Fandy di bajaj sambil mendengarkan lagu If You’re Not The One, Melani pergi makan mie ayam di warung pinggir jalan dengan Fandy, Melani dan Fandy membaca novel berdua di atas bukit, semua itu kembali dia hubungkan dengan kejadian mirip yang dialaminya bersama Rafa. Melani nggak tahu dan selama ini nggak pernah berpikir kalau Fandy sudah berubah menjadi Rafa, bos yang selama ini selalu bersamanya dan bikin dia dongkol seharian.
Rafa masih terus membiarkan Melani menatap matanya. Baru kali ini Rafa membiarkannya, setelah sebelum-sebelumnya Rafa selalu berusaha menghindar supaya Melani tidak sampai menatap matanya karena takut rahasianya akan terbongkar.
Sedangkan Anthony merasa seperti orang ketiga melihat Rafa dan Melani begitu serius saling bertatap muka. Dia merasa sangat nggak rela melihat mereka berdua, tapi kalau pun ingin marah itu bukan saat yang tepat, yang ada nanti Melani justru akan semakin marah padanya, mengingat sebagaimana care-nya Melani pada Fandy dulu. Anthony pun memutuskan untuk pergi meninggalkan mereka berdua.
Melani menangis. Entah tangisan bahagia atau tangisan kesedihan, Melani sendiri tidak tahu. Yang dia tahu, sekarang ini dia merasa senang bisa bertemu dengan Fandy yang selama ini dirindukan kehadirannya,”Jadi…lo adalah…”
Rafa memandang ke bawah, dia nggak tega melihat Melani menangis. Rahasia yang selama ini berusaha keras dijaganya, akhirnya hari ini terbongkar juga oleh Melan,”Mel…gue…”
Melani berbalik dan berlari meninggalkan Rafa.
“Melani!” Rafa memanggil Melani tanpa beraharap Melani akan kembali dan menemuinya. Dan memang benar, Melani ridak menghiraukan panggilan Rafa, dia terus berlari.
“Maafin gue ya, Mel?”
__ADS_1
***
Malam ini hujan turun deras. Melani memandangi novel sampul putih berjudul White Love yang ada tanda tangan Fandy di sebelah tulisan judul. Melani sedih sekali teringat tentang Fandy, dan hari ini dia dikejutkan dengan sebuah kejadian yang membongkar sebuah rahasia besar bahwa orang yang selama ini dia kenal sebagai Beryl Rafael Pradipta – anak tunggal seorang pengusaha sukses di Jakarta sekaligus cro ANA Group itu adalah Fandy, seseorang yang sejak dulu dirindukannya dan dicarinya. Melani sama sekali nggak mengira, kalau ternyata Rafa itu adalah Fandy.
Mulanya Melani hanya menganggap kemiripan antara Rafa dan Fandy merupakan sebuah kebetulan karena Melani terlalu merindukan sosok Fandy yang sudah menghilang dari kehidupannya selama lima tahun.
Melani menoleh ke boneka beruang besar berwarna putih pemberian Rafa tempo hari. Boneka itu berada di atas tempat tidur Melani dan menemani tidurnya selama beberapa hari ini. Lalu Melani kembali mengalihkan pandangannya ke novel yang sedang dipegangnya. Seharusnya Melani bahagia karena akhirnya bisa bertemu dengan Fandy, moment itu sudah ditunggunya selama lima tahun ini. Tapi kenapa saat ini hatinya justru gelisah? Melani belum bisa sepenuhnya menerima kenyataan itu.
“Kalau lo emang Fandy…kenapa lo nggak bilang aja sama gue dari dulu, Raf?” Melani meraba novel itu,”Kenapa lo malah nyembunyiin semuanya dari gue? Apa lo nggak pengen gue tahu tentang siapa lo sebenernya? Kenapa gue nggak boleh tahu? Atau jangan-jangan, lo emang pengen ngelupain gue?”
***
Sementara di luar hujan deras, Rafa termanung sendirian di kamarnya. Dia juga sedang melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan Melani. Dia memandangi novel berjudul White Love yang sudah ditandatangani sama Melani. Rafa ingat dulu waktu dia masih menjadi Fandy, Melani pernah menyuapinya waktu makan mie ayam di warung pinggir jalan. Lalu saat dia sudah menjadi Rafa, dia juga pernah menyuruh Melani untuk menyuapinya makan nasi goreng. Dan Rafa merasa kalau rasanya tetap sama, baik waktu menjadi Rafa atau Fandy, dia tetap merasakan kebahagiaan yang sama saat Melani menyuapinya.
Melani memeluk boneka beruangnya dengan erat sambil tiduran,”Kenapa sih Raf, lo musti bohong sama gue? Jadi itu ya, alasannya kenapa selama ini lo nggak mau gue sampe lihat mata lo? Karena lo tahu, gue akan ngenalin lo begitu gue lihat mata lo!” Melani memandangi bonekanya dan memainkannya,”Lo boleh berubah jadi siapapun, boleh berubah jadi kayak apapun, tapi tetep mata lo nggak bisa bohong, Raf. Tatapan mata lo tetep tatapan mata Fandy saat ngelihat gue.”
Rafa berdiri dan berjalan menuju jendela kamarnya yang terbuka. Angin malam mengibar-ngibarkan kelambu jendela kamarnya. Hujan maish turun dengan lebatnya, udara dingin masuk ke dalam kamar. Dia melihat keluar, nggak jelas apa yang dilihatnya. Pikirnnya masih tertuju pada Melani, apalagi saat ingat tadi siang Melani menangis di depannya. Rafa nggak pernah berharap melihat Melani menangis, mimpipun dia nggak mau melihat Melani menangis.
Melani mengambil HP nya dan mencari-cari nama Rafa. Dia bermaksud untuk menelepon Rafa. Tapi belum juga namanya ketemu, Melani sudah ragu. Dia bingung mau ngomong apa sama Rafa nanti? Apalagi setelah tahu kalau Rafa itu Fandy. Melani melempar HP nya ke sampingnya dan mengurungkan niatnya untuk menelepon Rafa. Melani belum siap. Dia juga dari tadi nggak mendapat telepon atau 1 SMS pun dari Rafa. Apa mungkin Rafa juga sedang mengalami hal yang sama seperti yang dia rasakan sekarang? Jujur, Melani sangat berharap kalau Rafa juga merasakan hal yang sama dengannya, karena tanpa disadarinya, selama ini Melani tanpa sengaja juga sudah menaruh rasa suka pada Rafa sebelum tahu kalau dia sebenarnya adalah Fandy.
__ADS_1
HP Melani tiba-tiba berbunyi, Melani kaget dan segera saja menyambar HP nya dengan harapan Rafa yang meneleponnya.
“Halo? Rafa?” Melani tersenyum lebar.
“Bukan. Ini Kevin.”
Senyuman di bibir Melani lenyap seketika, ternyata yang meneleponnya bukan Rafa melainkan Kevin. Melani jadi merasa malu pada Kevin, lagian Melani jadi bingung kenapa dia pengen banget dapat telepon dari Rafa? Padahal kalau orangnya telepon beneran, dia juga masih bingung mau ngomong apa dan bersikap bagaimana?
“Eh? K-Kevin?”
“Kenapa? Lo berharap kalau Rafa yang telepon?”
“Oh, enggak kok. Enggak. Tadi gue cuma…cuma…” Melani bingung mencari-cari alasan.
“Cuma apa? Udah, nggak usah bohong! Lo pasti lagi nungguin telepon dari Rafa, kan?!”
“Enggak, kok. Beneran. Buat apa gue nungguin telepon dari dia?”
“…”
__ADS_1
“Udahlah, lupain aja! Nggak usah dibahas lagi! Oh iya, ada apa, Vin?” Melani berusaha mengalihkan pembicaraan.
TBC