My CEO My Ex Boyfriend

My CEO My Ex Boyfriend
18


__ADS_3

“Saya pasti akan bayar, Pak. Tolong beri waktu beberapa hari! Saya akan bayar semuanya. Tapi jangan bawa ayah dan ibu saya!” Melani berusaha keras memohon pada rentenir itu.


“Bawa mereka!” Doso memerintahkan semua anak buahnya untuk membawa ayah dan ibu Melani.


“Baik, Bos!” ke empat orang pengawal itu membawa ayah dan ibu keluar rumah dengan paksa.


“Ayah, Ibu!” Melani berlari mengejar ayah dan ibunya,”Ayah, Ibu. Jangan pergi, ya? Mel nggak mau sendirian di sini!”


“Maafkan Ayah dan Ibu ya, Mel!” Ayah berkata dengan sangat menyesal,”Ayah dan Ibu cuma bisa nyusahin kamu aja.”


“Iya, Mel.” Ibu menyambung sambil menangis,”Kamu baik-baik di rumah, ya! Jaga diri baik-baik!”


“Ibu. Ibu jangan gitu, dong! Mel nggak mau Ayah sama Ibu pergi! Pak, tolong jangan bawa ayah dan ibu saya pergi! Saya pasti bayar utang-utangnya!” Melani kembali memohon pada rentenir.


Namun Doso tetap tidak bergeming. Dia tetap pada pendiriannya untuk membawa ayah dan ibu pergi.

__ADS_1


“Ayah, Ibu. Jangan pergi! Mel nggak mau sendirian.” Melani menangis dan berusaha mencegah para anak buah Doso itu membawa ayah dan ibunya.


Tiba-tiba langkah para anak buah Doso beserta Doso terhenti melihat seseorang berdiri di depan mereka dan menghalangi jalan mereka. Melani dan kedua orang tuanya juga nggak kalah kagetnya melihat orang itu. Doso tampak sedikit terkejut melihat seseorang yang tiba-tiba muncul di tengah-tengah keributan itu.


Rafa berdiri di depan mereka dengan mengenakan kacamata hitam seperti biasanya, kedua tangannya dimasukkan ke saku celananya. Wajahnya terlihat sangat santai seperti menghadapi seorang anak kecil. Berada di antara Doso dan anak buahnya yang seram-seram itu, nggak membuat Rafa menampakkan ketakutan sedikitpun.


“R-Rafa?” Melani terkejut melihat Rafa tiba-tiba muncul di rumahnya.


Ayah tampaknya sudah sangat mengenali sosok Rafa. Dia tersenyum lebar melihat Rafa,”Pak Rafa?”


Melani dan Ibu kaget mendengar Ayah memanggil Rafa dengan sebutan 'pak',”Pak?” Melani memandang Ayah dan Rafa secara bergantian.


Doso berjalan mendekati Rafa dengan tatapan muka seperti memandang seorang anak kecil,”Siapa kamu? Berani ikut campur urusan saya?”


“Berapa utang mereka?” Rafa langsung to the point saja ke pokok masalah.

__ADS_1


Doso mengernyitkan alisnya,”Utang???”


“Berapa utang yang harus mereka bayar?”


"Seratus juta.”


Rafa mengeluarkan selembar cek dan menuliskan nominal lima puluh juta di cek itu, lalu menandatanganinya,”Ini cek. Seratus juta.” Rafa memberikan cek.


Melani dan kedua orang tuanya saling beradu pandang bingung. Rafa yang membayar utang mereka?


Doso menerima cek itu, melihat tulisan lima puluh juta di cek itu, lalu tersenyum puas dan mencium ceknya.


“Saya sudah bayar utangnya. Sekarang lepaskan mereka!” pinta Rafa yang tetap bersikap dingin,”Dan jangan pernah lagi mengganggu kehidupan mereka!”


Doso memberikan isyarat pada ke empat anak buahnya untuk melepaskan ayah dan ibu Melani. Ayah dan Ibu pun bebas. Mereka tampak sedikit lega karena satu masalah yang besar telah terselesaikan dengan bantuan Rafa.

__ADS_1


“Baiklah, saya tidak akan mengganggu lagi keluarga kecil yang bahagia ini. Terima kasih Tuan…” Doso membaca nama di cek yang dipegangnya, dan bersikap seolah terkesan dengan nama yang ada di situ,”Tuan Beryl Rafael Pradipta. Permisi!” Doso pergi diikuti ke empat pengawalnya. Mereka memasuki mobil hitam yang tadi terparkir di depan rumah Melani. Dalam hitungan detik, mobil itu sudah hilang dari pandangan.


TBC


__ADS_2