My CEO My Ex Boyfriend

My CEO My Ex Boyfriend
47


__ADS_3

Melani tiba di rumah besar Rafa. Untuk sekilas, dia sangat terkejut dengan sambutan dari puluhan pelayan yang ada di rumah itu.


Pelayan-pelayan itu memperlakukan Melani seperti tamu yang wajib mereka hormati. Dari mulai turun dari mobil, sampai masuk ke dalam rumah, sambutan para pelayan membuat Melani malah merasa gugup dan canggung.


Belum juga selesai terkagum-kagum melihat kemegahan rumah Rafa yang memang baru kali ini dilihatnya, eh sudah ditambah dengan sambutan hormat puluhan orang yang selama ini memang baru pertama kali dialaminya. Sudah sejauh ini Melani berjalan, tapi dari tadi dia nggak melihat tampang Rafa. Dimana sih tuh cowok? Ngumpet dimana dia?


“Nona, Tuan Muda meminta Anda untuk langsung ke atas menuju kamar beliau!” ujar pengawal yang tadi mengawal Melani dari rumah,”Mari saya antar!”


Melani dengan langkah ragu, berjalan menaiki anak tangga mengikuti pengawal yang mengantarnya ke kamar Rafa. Setelah beberapa saat, merekapun tiba di depan kamar Rafa.


Melani masih nggak tahu, harus masuk ke dalam atau balik pulang ke rumah. Soalnya baru sampai di depan pintu dan belum ketemu sama Rafa aja, dia udah males banget. Ngapain sih tuh cowok nyuruh-nyuruh dia dateng terus disuruh ke kamarnya segala? Mau ngapain sih?


“Nona, silahkan masuk! Tuan Muda sudah menunggu.!” ujar pengawal itu,”Baiklah, Nona. Saya permisi dulu!” pengawal itu membungkukkan badannya.


“Eh, tunggu, tunggu, Pak!” Melani memegang tangan pengawal itu, mencegahnya supaya tidak pergi.


“Iya, Nona? Ada yang bisa saya bantu?”


“Aduh, Pak. Tolong jangan tinggalin saya sendirian! Saya takut, Pak. Nanti kalau saya diapa-apain sama Rafa gimana?” Melani cemas, penyakit curigaan langsung kambuh ketika tahu Rafa menyuruhnya ke kamar.


Pengawal itu tersenyum,”Nona tidak perlu cemas! Tuan Muda tidak akan berbuat apa-apa pada Nona.”


“Tapi, Pak. Saya nggak mau cuma ditinggalin berdua aja sama Rafa. Bapak kan tahu sendiri, Rafa itu orangnya gimana. Pasti dia punya maksud nggak baik sama saya. Kalau nggak, ngapain dia nyuruh saya ke kamarnya? Kenapa nggak dia aja sih, yang keluar? Iya kan, Pak!” Melani terus nyerocos.

__ADS_1


Pintu terbuka, muncul Rafa di mulut pintu. Pengawal itu menundukkan kepala, Rafa mengisyaratkan pengawal itu untuk pergi.


Sementara itu, Melani malah melongo kaget melihat kemunculan Rafa. Seperginya pengawal itu, Melani hanya tinggal berdua dengan Rafa. Sepertinya tadi Rafa keluar karena mendengar ribut-ribut di luar kamar.


“Eh, ngapain tadi lo ngomong yang enggak-enggak soal gue sama Pak Digo?” semprot Rafa.


Melani mengernyitkan alisnya,”Pak Digo??? Siapa sih?” Melani memasang tampang begonya.


“Orang yang tadi itu namanya Pak Digo.”


“Oh…” Melani manggut-manggut.


“Ah oh, ah oh? Terus tadi ngapain lo ngomong yang jelek-jelek soal gue ke Pak Digo?” Rafa kembali bertanya pada Melani,”Lo ini masih aja curigaan sama gue. Lo pikir gue penjahat apa, yang wajib lo curigain terus?”


“Mulai deh, curigaan lagi sama gue!”


Melani cemberut.


“Udah yuk! Masuk!” Rafa menarik Melani ke dalam kamar.


“Eh, eh, eh, lo jangan macem-macem ya, sama gue! Gue bisa lapor polisi!” Melani panik, soalnya Rafa narik-narik dia memaksanya masuk ke kamar, dan pintunya juga ditutup. Mau ngapain sih, nih cowok?


“Duduk!” Rafa menyuruh Melani duduk di sofa.

__ADS_1


Begitu memasuki kamar Rafa, lagi-lagi Melani terkejut melihat suasana kamar Rafa yang luas dan mewah. Melani saja sempat berpikir kalau kamar Rafa jauh lebih luas daripada rumah kontrakannya. Mata Melani menyapu seluruh ruangan, terkagum-kagum dengan barang-barang dan interior-interior mewah yang ada di kamar itu. Serba mahal dan lengkap. Kamarnya juga sangat rapi dan bersih.


Melani melihat foto-foto Rafa di dinding kamar, serta foto seorang laki-laki yang diduga Melani sebagai papa Rafa.


“Udah, nggak usah terkagum-kagum terus ngelihatin kamar gue! Biasa aja!” ujar Rafa yang melihat dari tadi Melani nggak berhenti mengamati kamarnya.


Melani kaget,”Eh, sebenernya apa sih, tujuan lo nyuruh gue ke sini malem-malem? Udah cepetan to the point aja! Biar gue bisa cepetan pulang!”


“Terserah gue dong, mau cepet apa enggak!”


“Apa??? Eh, gue peringatin ya, lo jangan macem-macem sama gue!” Melani mengancam.


“Bikinin gue nasi goreng!”


“Apa?” Melani memperjelas apa yang barusan dikatakan Rafa,”Apa lo bilang tadi?”


“Bikinin gue nasi goreng!” Rafa mengulangi.


“Jadi lo nyuruh gue ke sini cuma buat bikinin lo nasi goreng???”


Rafa mengangkat kedua bahunya,”Ya.”


TBC

__ADS_1


__ADS_2