
Asisten, dateng ke sini sekarang.
Lagi-lagi Melani mendapatkan pesan dari si bos galak untuk melaksanakan tugas yang entah apa itu.
Ke mana? Ke kelas lo?
ANA Group.
Melani membelalakkan matanya. "ANA? ANA Group? Maksudnya?
Nggak usah banyak tanya. Cepetan ke tempat parkir, Pak Digo udah di sana buat anterin lo ke kantor gue.
Jadi sekarang ini Rafa sedang ada di kantor? Dan untuk apa juga dia menyuruh Melani datang ke Kantornya? Mau nyuruh apaan sih dia?
Di tempat parkir ternyata pak Digo sudah ada di sana sesuai perintah Yang Mulia Rafael.
***
Melani sampai di ANA Group dna langsung disambut oleh pak Amar di pintu masuk. Sedangkan Pak Digo menunggu di mobil bertugas mengantarkan Melani pulang nanti.
Melani memasuki ruang kantor milik Rafa. Dan bertemu Rafa di sana. Melani baru melihat Rafa dengan penampilannya sebagai CEO memakai setelan jas lengkap dan sedang sibuk di belakang meja kerjanya.
Di ruangan luas berAC itu hanya ada mereka berdua setelah pak Amar undur diri.
"Mau ngapain lo nyuruh gue ke sini?" tanya Melani.
"Tuh." Rafa menunjuk di bawah meja lebih tepatnya sesuatu yang dia ada tertawa di depan Melani.
__ADS_1
Melani melihat ke bawah dan melihat ada beberapa lembar kertas terjatuh di sana.
"Gue nggak sengaja jatuhin beberapa berkas penting. Ambilin." Rafa berkata dengan dinginnya sambil terus sibuk membolak-balik dokumen di tangannya.
Darah tinggi Melani langsung naik."JADI LO NYURUH GUE JAUH-JAUH KE SINI CUMA BUAT NGAMBIL INI?"
"Hm."
"Lo udah gila ya, Raf? Kenapa nggak lo ambil sendiri aja sih? Atau lo suruh aja sekretaris lo buat ngambil. Kenapa harus gue?"
"Terserah gue. Gue kan bos."
Melani hanya bisa menghela napas. Rafa ini benar-benar membuatnya jengkel setengah mati.
"Udah cepet ambilin. Mau gue periksa soalnya."
"Duduk sana." Rafa menunjuk sebuah sofa di sudut ruangan.
"Kalau udah nggak ada tugas lagi gue pulang aja, ya. Gue masih ada kuliah siang ini, Raf."
"Ini kan masih pagi. Kuliahnya siang kan? Jadi di sini aja siapa tahu gue ngejatuhin kertas lagi." ujar Rafa menyebalkan.
Melani sudah ingin menonjok Rafa tapi ditayangkan. Dia pun nurut dan duduk di sofa sesuai perintah bos.
Pak Amar masuk ke dalam dan kelihatannya mau memberikan informasi pada bosnya
"Pak, ada kabar gembir dari pak Denis di Surabaya. Beliau mengatakan kalau persiapan proyek di sana berjalan lancar. Warga yang awalnya menolak untuk pindah sekarang mereka menyetujui setelah dibayar sepuluh kali lipat sesuai perintah Anda."
__ADS_1
Melani menguping dan tak mau berpikir. Itu juga bukan urusannya.
Rafa mengangguk ringan. "Sudah pasti akan berhasil. Setelah pak Denis pukanafdari Surabaya, katakan pada semua orang di perusahaan kita akan makan malam. Saya yang traktir."
Pak Amar mengangguk, " Baik Pak."
"Anda boleh keluar."
Pak Amar undur diri dan sempat tersenyum ramah pada Melani yang duduk di sofa.
***
Melani terkejut sekali, setelah sampai di kampus,Kevin benar-benar mengajaknya makan siang di kafe kampus hari ini. Bahkan Kevin sudah memesankan makanan-makanan yang serba mahal untuk Melani. Melani jadi merasa nggak enak hati sama Kevin.
“Aduh, Vin. Mustinya lo nggak perlu mesen makanan yang terlalu mewah kayak gini. Kan harganya mahal. Sayang kan, kalau duit lo cuma lo hambur-hamburin buat mesen makan siang aja. Padahal gue lo pesenin yang biasa aja juga udah seneng banget kok, Vin.”
Kevin malah tertawa kecil dan geleng-geleng kepala,”Ya ampun Mel, Mel. Lo segitunya banget sih, mikirin soal harga? Bagi gue, semahal apapun makanan ini nggak sebanding sama rasa seneng gue udah bisa traktir lo. Gue seneng banget lagi Mel, bisa nraktir lo.”
Melani nyengir,”Oh, gitu ya? Makasih ya, lo udah baik banget sama gue, Vin!”
“Iya, sama-sama. Kita kan temen. Ya udah, yuk! Makan!”
Melani melanjutkan acara makan siangnya. Begitu banyak makanan di hadapannya, dia sampai bingung bagaimana cara menghabiskannya.
“Oh iya, Mel. Soal yang tempo hari itu gimana?”
TBC
__ADS_1