My CEO My Ex Boyfriend

My CEO My Ex Boyfriend
91


__ADS_3

“Tapi tolong beri Papa satu kesempatan lagi untuk bisa menjadi ayah yang baik buat kamu! Papa janji akan melakukan apapun untuk kamu. Kalau kamu mau Papa tidak pergi ke luar negeri lagi, oke Papa akan turuti. Kamu mau Papa membatalkan semua janji dengan klien supaya Papa bisa tetap di rumah, iya Papa akan lakukan. Kalau kamu menolak untuk menggantikan posisi Papa di perusahaan, Papa tidak akan memaksa kamu lagi. Kamu mau minta apa, tinggal bilang sama Papa. Papa akan menuruti semua keinginan kamu, asal kamu tidak meninggalkan Papa!” ujar Papa penuh harap, dia sungguh-sungguh takut akan kehilangan Rafa.


Rafa menatap papanya, berusaha mencari kebenaran di wajah papanya. Rafa ingin tahu, apakah papanya sungguh-sungguh akan melakukannya demi dia?


“Tolong kali ini kamu percaya sama Papa! Maafkan semua kesalahan Papa! Dan kalau memang Papa kurang bisa memahami kamu selama ini, Papa harap kamu bisa memberitahu Papa bagaimana Papa bisa memahami kamu? Papa cuma punya kamu di dunia ini, Raf. Tolong jangan tinggalkan Papa!” Papa memasang wajah penuh penyesalan dan penuh permohonan.


Rafa menganggukkan kepalanya pelan.


“Kamu mau memaafkan Papa?” tanya Papa setengah masih belum percaya.


“Iya, Pa. Aku juga minta maaf, tadi udah kasar sama Papa.”


Papa tersenyum bahagia dan memeluk Rafa. Dia sangat bahagia hari ini, karena akhirnya dia bisa menjadi ayah yang sebenarnya untuk Rafa,”Terima kasih, Rafa. Papa bahagia sekali. Terima kasih.”


Rafa memeluk papanya dengan kebahagiaan yang amat besar di hatinya. Hari ini Rafa baru benar-benar merasakan pelukan seorang ayah yang selama ini belum pernah didapatkannya. Rafa baru bisa merasakan kasih sayang ayahnya yang sesungguhnya. Dulu Rafa selalu berpikir, kalau Papa mengajaknya ke Jakarta hanya untuk kepentingan Papa sendiri. Tapi sekarang Rafa baru tahu kalau papanya sungguh-sungguh sayang padanya.


***


“Jadi kemaren Cyntia ke Busan?” Melani kaget mendengar cerita Kevin tentang Cyntia.

__ADS_1


“Iya. Mungkin itu jalan terbaik buat dia. Dengan dia pergi jauh, siapa tahu dia bisa melupakan Rafa?”


Melani nggak sepenuhnya setuju dengan apa yang dikatakan Kevin. Memang sih, untuk bisa melupakan orang yang sangat dekat dengan kita itu tidak mudah. Dengan pergi jauh dan tidak lagi saling bertemu, besar kemungkinan akan berhasil melupakannya. Tapi biarpun saling berjauhan, selama hati dan pikiran kita tetap tertuju pada orang itu, bukan nggak mungkin akan sangat sulit untuk melupakannya. Karena Melani juga pernah mengalaminya.


“Sebenernya gue kurang setuju kalau Cyntia pergi, tapi dia bilang dia butuh suasana baru dimana dia akan mencoba menjalankan kehidupannya tanpa bayang-bayang Rafa. Dan gue cuma bisa dukung keputusan dia itu!” Kevin menambahkan.


“Rafa udah tahu?”


“Udah. Kemaren setelah Cyntia berangkat, gue udah kasih tahu dia.”


“Kenapa nggak kasih tahu Rafa sebelum Cyntia pergi?”


Melani hanya bisa manggut-manggut saja, nggak mau memberikan komentar karena takut salah ngomong. Pandangan Melani tertuju pada Rafa yang sedang membeli es tebu di seberang jalan. Melihatnya Melani juga jadi ingin untuk minum es tebu. Wajahnya pun bersinar-sinar.


“Rafa emang nggak pernah berubah!” Melani berdiri tanpa mengalihkan pandangannya dari Rafa.


“Mel, lo mau kemana?” tanya Kevin.


“Eh, itu. Gue mau beli es tebu dulu, ya?” Melani segera melesat pergi sebelum Kevin sempat bertanya lagi.

__ADS_1


“Es tebu?” Kevin mengikuti Melani yang berlari keluar lingkungan kampus. Saat itu Kevin melihat Rafa sedang beli es tebu di seberang jalan,”Itu si Melani semangat mau beli es tebu, apa cuma mau nyamperin Rafa, sih?” Kevin heran dan geleng-geleng kepala.


Melani berdiri di pinggir jalan dan memanggil Rafa yang ada di seberang jalan,”RAFA!”


Rafa menoleh, dia melihat Melani melambaikan tangannnya di antara kendaraan-kendaraan yang lalu lalang di depannya. Rafa tersenyum dan balas melambaikan tangannya. Rafa kembali menoleh ke penjual es tebu yang mengajaknya bicara.


Melani menyeberang jalan tanpa beralih pandangan ke tempat lain. Dia terus memandangi Rafa sampai-sampai nggak sadar dari suatu arah melaju sebuah motor dengan kecepatan tinggi. Kevin yang kebetulan melihatnya segera berteriak ke arah Melani.


“MEL, AWASSS!!!!”


Melani menoleh ke arah Kevin dan sebelum sempat menyelamatkan diri, motor itu menabraknya. Saat motor menabrak Melani, Rafa kebetulan menoleh mendengar suara teriakan Kevin. Dia kaget melihat Melani terkapar di jalanan dengan berlumuran darah dan tak sadarkan diri, sementara itu si penabrak melarikan diri.


Hal yang sama juga terjadi pada Kevin, meskipun sebelumnya sudah sempat panik saat Melai menyeberang, dia nggak menyangka tabrakan itu akan terjadi. Anthony juga tanpa sengaja menyaksikan kejadian itu.


“MELANI!”


Rafa berlari bermaksud mau menolong Melani, tapi banyaknya kendaraan yang lewat membuatnya terpaksa mundur dan membiarkan kendaraan lewat dulu dengan tidak sabar. Di antara lalu lalang kendaraan yang lewat, Rafa melihat Kevin dan Anthony beserta beberapa orang temannya menghampiri Melani. Rafa merasa sedikit lega sudah ada yang menolong Melani, tapi kepanikan dan kecemasannya melihat kondisi Melani yang nggak sadarkan diri, membuatnya harus secepatnya ke tempat Melani. Setelah kendaraan agak senggang, Rafa berlari menyeberang jalan menghampiri Melani yang kini sudah berada di gendongan Kevin.


TBC

__ADS_1


__ADS_2