
Melani mencibir,”Dasar orang aneh! Katanya orang kaya, tapi masa baju cewek aja nggak punya? Emangnya nggak bisa minjemin gue baju dari salah satu puluhan pelayan cewek di sini?”
Melani mengamati baju yang sudah disiapkan oleh Rafa,”Masa sih, gue pake baju ini?” Melani nggak yakin,”Wah, pasti tuh cowok mau ngerjain gue lagi nih, nyuruh-nyuruh gue pake baju cowok yang kegedean kayak gini? Perasaan, badannya Rafa nggak gede-gede amat? Tapi kok bajunya bisa segede ini, sih?”
Melani turun dari lantai dua dengan mengenakan kaos dan celana jins milik Rafa yang kebesaran. Karena celananya terlalu panjang, Melani sampai harus menggulung bagian bawahnya. Kaos yang dipakai Melani pun juga kebesaran, ya mirip orang-orangan sawahlah penampilan Melani saat ini. Ketika Melani sampai di bawah, seorang pelayan wanita membungkukkan badannya untuk memberi hormat pada Melani.
“Eh, nggak usah pake hormat-hormat segala! Saya bukan tamu. Saya juga sama kok, kayak Mbak. Cuma asisten pribadi!” Melani merasa nggak enak terus-terusan diperlakukan dengan seperti itu.
Pelayan itu tersenyum,”Mari, Nona! Tuan Muda sudah menunggu Anda untuk sarapan!”
Melani pun menyerah, dia tetap saja diperlakukan seperti majikan.
“Mari Nona! Saya antar ke ruang makan!”
Melani tahu, pasti pelayan itu ingin tertawa melihat penampilan Melani yang mirip orang-orangan sawah gara-gara memakai baju yang kebesaran, cuma pelayan itu nggak berani aja tertawa di depannya. Huh, emang Rafa si cowok rese dan kurang kerjaan itu hobi sekali mengerjai Melani, gerutu Melani dalam hati.
Setelah cukup lama berjalan, merekapun sampai di ruang makan. Rafa sudah menunggunya di sana sambil membaca koran dan saking seriusnya sampai mukanya nggak kelihatan tertutup koran. Melani kaget melihat hidangan yang tersaji di meja makan. Benar-benar mewah, dan para pelayan pun sudah siap berdiri di belakang Rafa kalau sewaktu-waktu Rafa memerintahkan mereka.
Melani heran melihat makanan sebanyak itu, memangnya siapa saja yang mau makan, kok makanannya banyak banget? Kursinya juga banyak, ada sekitar dua puluh kursi yang mengelilingi meja panjang tersebut.
“Silahkan, Nona!” pelayan tadi menarik kursi di sebelah Rafa untuk Melani duduk.
__ADS_1
“Makasih.” Melani menghargai pelayan itu dan duduk di kursi yang sudah disiapkan untuknya. Padahal dia nggak berminat duduk bersebelahan dengan Rafa. Kursi yang lain juga masih banyak yang kosong, ngapain sih musti duduk di dekat Rafa?
Rafa melipat korannya dan kaget sekaligus tertawa melihat penampilan Melani yang memakai baju kebesaran.
“Nggak usah ketawa!” Melani sewot.
“Sorry, deh! Abis lo lucu pake baju kegedean gitu. Mirip itu, orang-orangan sawah!” Rafa menahan tawanya.
“Terus aja ketawa! Ketawa sampe puas! Pasti lo sengaja kan, ngerjain gue!” Melani ngambek.
“Udah, nggak usah ngambek gitu! Ayo makan!” Rafa memulai sarapannya.
“Lo nggak bakalan nyuruh gue buat nyuapin lo lagi, kan?!” Melani nggak mau kalau disuruh nyuapin Rafa di hadapan banyak pelayan itu. Malu, dong.
“Gue nggak mau.”
“Iya, iya, nggak usah ngamuk-ngamuk! Gue nggak akan minta lo nyuapin gue, kok. Ayo makan, terus ikut gue keluar!”
“Keluar??? Keluar kemana?”
“Nggak usah curiga lagi!”
__ADS_1
“Tapi kan gue musti pulang, Raf.”
“Nggak usah. Ntar aja pulangnya gue anter. Gue juga udah minta izin kok ke nyokap lo, buat ngajakin lo jalan! Dan dia nggak keberatan tuh!”
Melani sudah nggak heran lagi kalau ibunya mengizinkannya untuk keluar dengan Rafa. Emang apa sih yang nggak diiznin sama ibunya kalau sudah menyangkut soal Rafa?
Jangan-jangan tadi malam juga Rafa sudah menelepon Ibu supaya Melani menginap saja di rumah Rafa? Kenapa sih, musti Rafa? Apa udah nggak ada cowok lain di luar sana, sampai-sampai Melani terus-terusan dijodoh-jodohin sama Rafa oleh ayah dan ibunya? Dan kayaknya tuh cowok juga malah memanfaatkan kebebasan yang diberikan Ayah dan Ibu untuk terus-terusan ngerjain Melani.
***
Rafa dan Melani pergi ke pantai yang sepi dan bersih. Hari ini udara segar dan matahari bersinar dengan teriknya, sangat cocok untuk berlibur ke pantai. Rafa berdiri di atas pasir halus bertelanjang kaki, celananya digulung sampai lutut, tubuhnya menghadap ke laut memandang jauh ke lautan lepas. Deburan ombak pantai terdengar sangat jelas di telinga Rafa, semilir angin menerpa tubuhnya dan mengibar-ngibarkan poni rambut yang menutupi sebagian keningnya.
Melani datang dari suatu arah sambil sibuk menggulung celana panjang yang dipinjamnya dari Rafa,”Raf, kita ngapain sih ke sini? Aduh, celana gue jadi basah kan, nih kena air laut!” Melani sibuk sendiri dengan celananya.
Rafa nggak menjawab, dia tetap menatap lurus ke depan ke arah lautan.
“Kok diem aja sih Raf, ditanya?”
Rafa berjalan santai meninggalkan Melani dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana.
“Eh, eh, Raf mau kemana?” Melani cepat-cepat mengejar,”Kok gue malah ditinggalin, sih?”
__ADS_1
TBC