
Kevin mengajak Melani jalan-jalan ke mal. Tapi kali ini Melani ke mal bukan buat jadi kacung, melainkan jalan-jalan asyik berdua dengan Kevin. Mereka sedang jalan bareng sambil makan es krim, sambil tertawa-tawa berdua. Melani sama sekali lupa tentang Rafa dan sepertinya memang nggak mau peduli dengan cowok itu.
“Gimana, Mel? Lo seneng nggak, hari ini jalan sama gue?” tanya Kevin yang sebenarnya sudah tahu jawaban Melani.
“Iya, Vin. Gue seneng banget. Beda banget kalau dibandingin pas gue jalan sama Rafa. Pasti cuma dimarah-marahin terus? Kan bete gue jadinya.”
Kevin tersenyum,”Lo tahu nggak kalau mal ini tuh punya nya Rafa.”
Melani kaget,”Hah? Punyanya Rafa? Punya bokapnya Rafa gitu maksudnya?”
“Mulanya sih iya, mal ini punya Oom Alex – bokapnya Rafa. Tapi kan sekarang udah diwariskan ke Rafa. Jadi secara resmi, mal ini udah jadi miliknya Rafa.” Kevin menjelaskan.
“Oh, gitu toh!! Pantes, kemaren dia belanja sama Cyntia banyak banget? Kayak nggak takut bangkrut gitu? Nggak tahunya, belanja di mal sendiri?” Melani baru tahu.
Kevin melihat tempat permainan yang di dalam terlihat sangat banyak anak-anak yang bermain. Bahkan bukan cuma anak-anak saja yang bermain, orang dewasa juga banyak yang bemain di sana. Kevin merasa sepertinya tempat itu asyik untuk didatangi.
__ADS_1
“Nggg…Mel, Mel. Kita ke sana yuk! Kayaknya tempatnya asyik, tuh!” Kevin menunjuk ke tempat bermain itu.
“Oh iya, kayaknya asyik. Ya udah yuk, kita ke sana!”
Kevin dan Melani masuk ke tempat permainan.
***
Tanpa diketahui Melani, di luar sana Rafa sibuk menelepon Melani dan mencari-cari keberadaannya. tapi sudah berkali-kali Rafa menelepon Melani, tetap nggak diangkat. Di SMS juga nggak dibales. Terang aja, HP Melani di silent.
“Raf!” Cyntia menghampiri Rafa dengan wajah ceria,”Raf, sekarang kamu anterin aku ke salon, yuk! Hari ini jadwal aku buat creambath sama luluran. Yuk!” Cyntia menarik lengan Rafa.
“Sorry, Cyn. Gue hari ini nggak bisa.”
“Kok nggak bisa, sih? Biasanya kamu nggak pernah nolak kalau aku ajak ke salon? Kamu kan juga bisa ikutan perawatan di salon sambil nungguin aku, Raf.”
__ADS_1
“Iya, tapi hari ini gue bener-bener nggak bisa, Cyn.”
“Kenapa sih, Raf? Emangnya kamu mau kemana, sampai-sampai nggak ada waktu buat aku?”
“Nggak ada waktu?” Rafa memandang Cyntia tajam,”Nggak ada waktu gimana maksud lo?” Rafa berkata dengan setengah berteriak.
Cyntia jadi takut Rafa marah,”Raf?”
“Selama ini gue selalu ada waktu kan, buat lo? Lo minta dianterin kemana juga gue anterin. Lo minta gue ngelakuin ini-itu, juga gue lakuin? Sekarang lo bilang kalau gue nggak ada waktu buat lo? Apa sih, maksud lo?” Rafa membentak-bentak Cyntia. Sebagian pikirannya masih tertuju pada Melani yang hari ini belum jelas ada dimana.
“Kok kamu bentak-bentak aku sih, Raf? Aku kan nggak salah apa-apa?” Cyntia bingung.
“Kalau lo nggak mau gue marah, lo jangan maksa gue dong, buat ikut lo! Hari ini gue lagi nggak mood buat pergi kemana-mana.”
“Aku nggak maksa kamu. Aku cuma nanya, kamu mau kemana? Sebagai pacar kamu, aku berhak tahu kemana kamu pergi, sampai-sampai kamu nggak bisa nemenin aku pergi?” desak Cyntia.
__ADS_1
TBC