
Melani mengikuti Cyntia belanja ke mal dengan terpaksa. Tapi sekarang bukan ke mal milik Rafa seperti yang dulu, melainkan mal di tempat lain.
Cyntia asyik mengobrol bersama temannya yang diketahui Melani bernama Syifa. Mereka asyik jalan-jalan berdua sambil tertawa-tawa sedangkan Melani mengikuti di belakang dengan repot membawakan belanjaan mereka berdua yang seabrek, persis seperti waktu sama Rafa dulu. Melani ingat, dulu Cyntia pernah protes ke Rafa karena memperlakukannya dengan kelewatan, eh ternyata Cyntia juga sama saja, bahkan kali ini lebih parah. Udah gitu, kayaknya si Syifa itu sinis saja dari tadi. Bikin Melani merasa nggak nyaman.
“Eh, kita ke sana yuk!” Cyntia menunjuk sebuah tempat yang menjual berbagai macam pernak-pernik dan aksesoris.
“Oke.” Syifa dan Cyntia masuk ke dalam.
Melani mengikutinya dengan terpaksa sekali. Kedua tangannya sudah capek banget membawakan belanjaan mereka yang seabrek itu. Tapi gimana? Melani nggak mungkin nggak ikut, kan sekarang dia jadi asistennya Cyntia. Kalau dipikir-pikir masih mending jadi asistenya Rafa daripada jadi asistennya Cyntia. Kalau sama Rafa, Melani masih berani ngomel-ngomel biarpun akhirnya tetap Rafa yang menang, tapi Melani merasa senang. Sementara sama Cyntia, boro-boro mau ngomel-ngomel, ngomong enggak aja dia nggak berani. Terus lagi temennya Cyntia, si Syifa itu juga ngapain nyuruh-nyuruh bawain belanjaan? Toh dia juga bukan bosnya Melani? Tapi parahnya, Melani mau-mau aja gitu disuruh-suruh, karena dia nggak enak sama Cyntia.
Setelah lama muter-muter di toko aksesoris, akhirnya Cyntia dan Syifa keluar juga. Melani juga udah capek banget ngikutin mereka terus dari tadi. Semoga kali ini akan ada keajaiban, sehingga dia bisa cepat pulang ke rumah dan istirahat. Perutnya sudah keroncongan, Melani belum sempat makan siang tadi, soalnya Cyntia buru-buru banget ngajak pergi.
__ADS_1
“Cyn, gue laper nih. Kita makan siang dulu, yuk!” ajak Syifa sambil memegangi perutnya yang katanya laper itu.
Kalau masalah perut laper bukan cuma lo aja. Gue juga, kali. gerutu Melani.
“Oh ya udah, kita cari kafe aja buat makan dulu!” Cyntia menghadap Melani,”Nggg…Mel, gue sama Syifa mau makan siang dulu. Lo tunggu di parkiran aja ya, sambil jagain barang-barang kita! Nggak apa-apa, kan!”
“Iya, nggak apa-apa, kok.” Terpaksa.
“Jagain ya, barang-barang belanjaan gue! Awas lho, kalau sampai ada yang ilang!” ujar Syifa,”Itu tuh harganya mahal semua!”
“Ya udah yuk, Cyn!” ajak Syifa,”Lo bisa cari makan sendiri kan, Mel?”
__ADS_1
“Iya.”
Cyntia dan Syifa pun pergi. Melani tertinggal sendirian dengan barang belanjaan yang seabrek. Dia aja bingung gimana cara bawanya ke parkiran. Melani merasa kalau dirinya udah kayak trolling supermarket aja.
*
Setelah kira-kira setengah jam menunggu di parkiran sampai bete, akhirnya Cyntia dan Syifa keluar juga dan mereka pulang. Melani heran, mereka makan siang aja kok lama banget. Apa sih yang dimakan? Orang kaya emang aneh. Nggak mikirin asistennya yang kelaperan, mereka malah enak-enakan makan. Lama banget lagi.
Mereka bertiga pulang naik mobil Cyntia yang dikemudikan sendiri oleh Cyntia. Syifa duduk di depan di sebelah Cyntia, sedangkan Melani di belakang. Lumayan, kursinya luas bisa buat leyeh-leyeh. Kalau dilihat-lihat sejak tadi Cyntia dan Syifa sama sekali nggak menganggap kalau Melani ada, mereka tetap asyik ngobrol tanpa peduli dengan Melani yang kelaparan dan rasanya udah mau pingsan itu.
“Aduh…makasih ya, Cyn. Hari ini lo mau traktir gue belanja sebanyak itu. Gue jadi nggak enak nih, sama lo.” Syifa mengucapkan terima kasih dengan nada yang terkesan dibuat-buat.
__ADS_1
Hah? Apa? Jadi dari tadi belanjaannya Syifa itu Cyntia yang bayarin? Tuh cewek nggak tahu malu banget, sih? Udah dibayarin, malah belanja banyak banget? Nggak tahu diri banget dia? Melani berkata dalam hati.
TBC