
Melani pun curhat sama Diandra tentang masalahnya dengan Rafa. Soalnya Melani udah bingung banget mau cerita sama siapa lagi kalau bukan sama Diandra. Diandra satu-satunya teman dekat Melani di kampus.
“Jadi si Rafa marah gara-gara kemaren lo nggak angkat telepon dari dia seharian?” tanya Diandra.
Melani manggut-manggut,”Ho-oh.”
“Abis lo juga ada-ada aja sih, Mel. Udah tahu watak bos lo itu kayak apa? Eh, malah pergi sama Kevin nggak bilang-bilang sama dia? Udah gitu, HP pake sengaja di silent segala, lagi? Ya udah pastilah kalau si Rafa marah. Lo itu ibaratnya membangunkan macan yang lagi tidur, tahu nggak!” Diandra menceramahi Melani panjang lebar.
“Lo bukannya kasih solusi gimana biar si Rafa tuh nggak marah lagi sama gue, malah nyeramahin gue? Gimana sih lo, Di? Sahabat gue apa bukan sih, lo?” Melani kesal.
Diandra nyengir,”Ya sorry deh, Mel. Gue jadi keterusan deh, ceramahnya.”
“Nyengir aja lo!”
“Emang kenapa sih Mel, kalau Rafa marah? Lo takut ya, kalau Rafa marah terus sama lo?” Diandra curiga.
“Idih…siapa juga yang takut? Mau tuh cowok marah sama gue apa enggak, itu bukan urusan gue. Masalahnya sekarang ini tuh gue terikat perjanjian kerja sama dia. Ntar kalau sampai dia nuntut gue gimana? Kalau sampai bokap gue dipecat sama tuh cowok gimana? Nasib keluarga gue gimana?” Melani menggebu-gebu seakan-akan sedang menghadapi masalah yang besar.
Diandra juga jadi ikutan pusing, memikirkan masalah besar yang sedang dihadapi sahabatnya itu,”Ya, lo terus aja minta maaf sampai Rafa mau maafin lo!”
“Udah, Di. Gue tuh udah berkali-kali bilang kalau gue minta maaf, tapi dia tetep aja ngamuk-ngamuk sama gue.”
__ADS_1
“Ya, minta maafnya jangan cuma ngomong doang, dong! Lo ngelakuin apa kek, biar Rafa mau maafin lo!”
“Maksud lo?” Melani kelihatan nggak paham dengan maksud Dandra.
“Gini!” Diandra membisikkan sesuatu ke telinga Melani.
*
Dosen laki-laki berkumis tipis dan agak botak yang dikenal orang dengan nama Pak Sis itu berjalan dengan langkah tegap memasuki kelas. Lalu berdiri di belakang mejanya mengamati semua murid-muridnya yang sudah siap untuk menerima mata kuliah keduanya siang hari ini.
“Selamat siang semuanya!” dosen tersebut memberi salam kepada semua muridnya.
“Siang, Pak!” jawab semua murid serentak. Hanya Rafa yang sama sekali nggak berminat untuk menjawab salam dosen. Dia asyik sendiri membaca sebuah novel tebal yang dulu pernah dibelinya bersama Melani.
“Raf, lo dipanggil tuh, sama Pak Sis!” Danda – salah satu teman Rafa yang duduk di sebelahnya, memberitahu Rafa dengan suara setengah berbisik.
Rafa tetap cuek dan nggak peduli.
“Saudara Beryl Rafael Pradipta!” Pak Sis kembali memanggil Rafa.
Danda bemaksud kembali memanggil Rafa, tapi begitu melihat Pak Sis berjalan ke arah Rafa, dia segera meluruskan pandangan ke depan membatalkan niatnya untuk memanggil Rafa.
__ADS_1
Pak Sis berdiri tepat di sebelah Rafa, namun itu tetap nggak membuat Rafa bergeming. Pandangannya nggak lepas dari novel yang dibacanya.
“Saudara Beryl Rafael Pradipta!” Pak Sis memanggil Rafa dengan suara yang lebih rendah karena sekarang mereka berdekatan.
Rafa mendongak menatap Pak Sis yang berdiri di sampingnya,”Ya?” jawab Rafa seperti baru mendengar Pak Sis memanggil namanya.
Pak Sis meletakkan sebuah lipatan kertas di meja Rafa,”Ini untuk kamu.”
Rafa memandang heran ke kertas itu, lalu kembali menatap Pak Sis yang masih berdiri di sampingnya,”Ini apa?”
“Segera baca dan buka buku pelajaran kamu! Kuliah akan segera dimulai!” Pak Sis kembali berjalan ke depan kelas untuk memulai mata kuliahnya.
Rafa menatap heran ke lipatan kertas yang ada di depannya, lalu dengan rasa penasaran dia mengambilnya dan membukanya. Di dalamnya ada sebuah kalimat yang memang ditujukan untuknya.
BOS, SAYA MINTA MAAF!
Rafa sedikit kaget, rupanya itu surat dari Melani. Kok bisa-bisanya Melani menulis surat seperti itu untuknya? Rafa celingukan kanan-kiri, semua orang sedang sibuk menulis, menyalin kalimat yang ditulis dosen di papan tulis.
Tiba-tiba dia melihat Melani di luar jendela kelas sedang mengangkat sebuah kertas besar di atas kepalanya yang bertuliskan “I’M SORRY, BOS!”
Melani tersenyum ke arah Rafa sambil mengangkat-angkat kertas yang dipegangnya. Sementara Rafa menggerakkan bibirnya tanpa suara ke arah Melani, tapi Melani tahu persis Rafa berkata ‘Cewek gila’.
__ADS_1
Lalu Rafa memalingkan wajahnya ke papan tulis, nggak mau memandang Melani lagi. Melani pun kecewa dan pergi.
TBC