
Di dalam warung, terihat ada beberapa orang yang juga sedang makan mie ayam. Biarpun tempatnya di pinggir jalan, tapi lumayan luas dan bersih. Melani memang baru pertama kali ini pergi ke warung itu, dan dia nggak pernah mengira kalau akan pergi ke tempat itu bersama Rafa.
Rafa mengajak Melani berjalan mendekati penjualnya, seorang bapak-bapak yang juga sedang sibuk menyiapkan pesanan pelanggan,”Pak, mie ayam dua, ya! Sama es jeruk dua!” Rafa memesan makanan, sedangkan Melani masih terlihat bingung dan cuma ikut aja kemana Rafa pergi, soalnya tangannya digandeng terus sih, sama Rafa.
”Buat dia, bikinin yang biasa aja!” Rafa menunjuk Melani yang ada di sebelahnya,”Terus kalau buat saya, mie nya setengah mateng, kuahnya dikit aja ya, ayamnya nggak usah dikasih, bawang gorengnya yang banyak, sayurannya dikit aja, terus krupuknya yang banyakan dikit ya, Pak!”
“Iya, Den!” jawab pak penjual.
Melani terkejut mendengar Rafa memesan mie ayam dengan syarat-syarat seperti tadi. Sepertinya dulu dia juga pernah mendengar orang mengatakan itu. Seseorang di masa lalunya yang sampai sekarang nggak pernah bisa dilupain sama Melani. Dan tiba-tiba saja, entah disengaja atu tidak Rafa mirip banget dengan dia. Melani pun nggak bisa melepaskan pandangannya terhadap Rafa.
“Lo ngapain ngelihatin muka orang kayak gitu?” Rafa heran,”Udah ayo duduk!” Rafa duduk di salah satu tempat duduk yang kosong, Melani duduk di sebelahnya, masih terus memperhatikan Rafa. Merasa diperhatikan terus sama Melani, Rafa jadi tambah heran,”Hoi! Lo kenapa sih, dari tadi bengong aja? Ngelihatin gue sampe gitu banget?”
Melani tersadar,”Eh? Nggg…anu…nggak apa-apa, kok.”
“Kok bengong aja dari tadi? Ngelihatin muka gue kayak ngelihatin setan aja!”
“Iya, emang lo setan!”
__ADS_1
“Lo kali, kuntilanak.”
Pelayan datang mengantarkan pesanan Rafa. Dua mangkuk mie ayam dan dua gelas jus jeruk tersaji manis di depan Rafa dan Melani,”Silahkan!”
“Makasih, Mas!”
Pelayan itupun pergi.
“Nggak usah bengong lagi! Udah cepetan makan aja!” Rafa memakan mie ayamnya tanpa saos ataupun kecap, ya dimakan apa adanya aja.
“Nggak. Buat apa? Gue nggak suka.”
Melani menarik napas, Mungkin cuma kebetulan aja. Di dunia ini juga banyak orang yang mempunyai kebiasaan sama. Pasti karena tadi gue terlalu mikirin dia. Nggak mungkin banget kalau Rafa itu…
“Yaelah, masih bengong aja!” Melani lagi-lagi kaget mendengar Rafa memergokinya melamun,”Lo ini kesambet atau gimana, sih? Dari tadi bengong aja. Makan tuh mie nya! Jangan cuma didiemin aja! Lo pikir tuh mie bisa masuk sendiri ke perut lo?”
“Iya, iya. Biasa aja lagi! Nggak usah melotot-melotot gitu!” ujar Melani,”Raf, lo kok mau sih makan di sini?”
__ADS_1
“Emangnya kenapa? Peduli banget gue mau makan dimana?”
“Ya gue heran aja. Lo kan orang kaya, makannya kan bisa di kafe atau di restoran yang mahal. Terus, kok lo malah makan di sini?” tanya Melani masih nggak ngerti.
“Jadi lo maunya gue ngajak lo makan di restoran bintang lima, biar lo pailit traktir gue di sana?” Rafa balik bertanya.
“Ya, jangan dong!” Melani buru-buru menjawab. Bisa tekor dia kalau sampai nraktir Rafa di restoran bintang lima, soalnya pasti makanannya mahal-mahal banget.
“Ya makanya, lo nggak usah banyak nanya, deh!”
“Jadi lo makan di sini, cuma karena nyesuaiin sama kantong gue aja gitu?”
“Iya,” jawab Rafa ketus,”Gue ini bos, jadi terserah gue dong, mau minta traktir dimana!” Rafa memakan mie nya dengan lahap, kayaknya Rafa beneran suka sama makanannya.
Melani tersenyum melihat Rafa. Senang aja gitu punya bos yang masih mikirn kantong bawahannya, minta traktir di tempat yang biasa-biasa aja. Melani baru menemukan satu sisi baik dari bosnya itu. Biarpun Rafa itu orangnya judes dan sering bikin Melani gondok, tapi nggak tahu kenapa Melani justru seneng dengan kondisi seperti itu. Berdebat dan adu mulut dengan Rafa, baginya sudah menjadi makanan sehari-hari.
TBC
__ADS_1