
Mrlani menjatuhkan tubuhnya di kasur empuk kamarnya Diandra. Setelah pulang dari kolam bersama Rafa, Melani meminta Rafa untuk mengantarnya ke rumah Diandra. Diandra pun menyambut baik kedatangan Melani ke rumahnya.
“Jadi lo ke sini dianter sama Rafa?” Diandra duduk di sebelah Melani.
“Iya. Hari ini gue diajak pergi lagi sama dia, dengerin omelan-omelannya, berantem sama dia…hhh…capek deh!”
“Pasti lo bikin gara-gara lagi deh, sama Rafa. Makanya lo diomelin terus!”
“Lagian siapa coba yang nggak kesel kalau tiap hari dijutekin terus sama dia? Jadi cowok kok galak banget? Mustinya kalau lagi ngomong sama cewek itu yang kalem, lemah lembut, atau seenggaknya nggak judes-judes amat gitu? Eh, ini malah ngeselin terus tuh cowok. Udah gitu, ketus banget lagi?” Melani memaki-maki Rafa.
“Ya, lo maklum ajalah, Mel. Kan dia baru aja putus cinta tuh, sama si Cyntia. Pastinya dia masih sedih aja, makanya kerjaannya marah-marah mulu?”
“Dia itu ya, mau putus cinta atau enggak, sama sekali nggak ada bedanya. Tetep aja bikin gue kesel.”
“DIANDRA…DIANDRA…!!!!” terdengar samar-samar mama Diandra memanggil-manggil.
“Eh, Mel bentar ya? Nyokap gue manggitl, tuh. Lo istirahat aja di sini! Sekalian gue ambilin minum dulu buat lo!” ujar Diandra.
“Iya, deh. Makasih ya, Di.”
__ADS_1
Diandra keluar kamar.
Melani sendirian di dalam kamar. Karena bosan, Melani iseng-iseng mengamati suasana kamar Diandra. Suasananya tetap nggak berubah dari dulu saat Melani datang ke situ. Rapi dan bersih, nggak kayak kamar Melani yang berantakan terus sepanjang hari, pikirnya. Melani iseng-iseng membuka laci meja, di dalamnya ada beberapa barang-barang milik Diandra, plus selembar foto dengan posisi terbalik. Melani ingat, foto itu adalah foto yang dulu pernah ditemukannya di bawah bantal Diandra, yang kata Diandra itu foto kecil Diandra dan Melani nggak boleh melihatnya.
“Lho? Itu kayak foto yang dulu itu?” Melani menoleh ke pintu masuk, Diandra belum kelihatan. Melani sempat berpikir untuk melihat foto itu diam-diam, solanya penasaran aja seperti apa fotonya Diandra waktu masih kecil, sampai-sampai nggak mau orang lain melihatnya.
“Sebenernya kayak apa sih, fotonya Diandra waktu masih kecil? Sampai-sampai gue aja nggak boleh lihat?”
Melani mengambil foto itu dan membaliknya. Melani terkejut melihat gambar di foto itu yang ternyata bukan foto Diandra waktu masih kecil,”Rafa?” Melani memegang foto Rafa,”Diandra punya foto Rafa?”
“Mel, sorry ya, lama…” Diandra masuk ke kamar dengan membawakan minuman untuk Melani. Dia kaget melihat Melani memegang foto Rafa, sampai-sampai gelas yang dipegangnya terjatuh dan pecah.
Melani juga nggak kalah kagetnya karena Diandra tiba-tiba masuk,”Di…?” dia melihat gelas pecah di bawah kaki Diandra.
Melani jadi merasa nggak enak sama Diandra, soalnya dia sudah lancang membuka laci Diandra tanpa izin. Melani segera mengembalikan foto ke tempat semula.”Nggg…Di, maafin gue ya? Gue nggak bermaksud buat ngambil-ngambil punya lo.” Melani gugup,”Lo tenang aja! Gue…gue nggak akan nanya apa-apa kok, sama lo.”
Diandra mendekati Melani dengan wajah pasrah, seperti semua rahasianya telah terkuak. Dia duduk di samping Melani dengan wajah murung.
“Lo tenang aja! Gue nggak akan bilang-bilang sama siapa-siapa, kok. Tapi lo jangan marah sama gue, ya! Gue minta maaf banget sama lo, Di. Gue emang salah.” Melani bersikeras minta maaf pada Diandra, sangat takut Diandra akan marah padanya.
__ADS_1
Diandra menghela napas panjang,”Nggak apa-apa kok, Mel. Lo nggak perlu minta maaf sama gue. Mungkin ini udah saatnya gue jujur sama lo.”
“…”
Diandra mengambil foto Rafa yang ada di lacinya, lalu memandanginya,”Gue…gue emang suka sama Rafa, Mel.”
Melani terkejut, tapi dia memilih untuk tetap diam. Membiarkan Diandra bercerita dulu.
“Lo inget kan, sama semua cowok-cowok yang dulu gue bilang pernah jadi cowok gue? Adit, Steven, Nico, Tomy…mereka semua sebenernya bukan mantan-mantan cowok gue, tapi cuma mantan gebetan gue aja, Mel.”
“…”
“Dari dulu gue itu nggak pernah sekalipun pacaran. Gue cuma suka aja sama cowok, tapi nggak pernah jadian. Semua cowok-cowok yang gue suka itu nggak mungkin bisa suka sama gue. Gue itu nggak cantik, nggak pinter, nggak kaya, dan juga nggak menarik. Nggak ada satupun cowok yang mau jadi pacar gue!” ujar Diandra mengenang dengan wajah sedih.
Melani hanya berperan segabai pendengar.
“Sejak gue SMP sampe sekarang, belum pernah ada satu cowokpun yang nembak gue dan minta gue buat jadi pacarnya. Apa gue segitu jeleknya, segitu buruknya sampai-sampai nggak ada satupun cowok yang mau jadi pacar gue?” Diandra sedih.
“Di, lo nggak boleh ngomong gitu! Siapa bilang lo jelek? Lo itu cantik, Di. Cuma lo nya aja yang nggak nyadar kalau sebenernya lo itu cantik!”
__ADS_1
“Kalau gue cantik, kenapa nggak ada satu cowokpun yang mau jadi pacar gue, Mel?”
TBC