My CEO My Ex Boyfriend

My CEO My Ex Boyfriend
111


__ADS_3

“Abis lo juga sih, yang aneh? Masih aja percaya sama yang begituan? Nasib seseorang itu yang nentuin Tuhan.” Melani menasihati.


Rafa mendengus.


“Udah deh, to the point aja! Apa tujuan lo ke sini?”


“…”


“Kenapa tiba-tiba lo bisa ada di sini?”


“Gue naik pesawat, naik taksi, terus jalan kaki ke sini. Nggak mungkin dong, gue naik mobil lewat tengah-tengah sawah?!”


“Raf, lo tahu kan apa maksud gue? Bukan itu yang gue tanyain.” Melani nggak sabar.


“…”


“RAFA!” Melani jengkel,”Gue serius nih, sekarang!”


Rafa menoleh memandang Melani, jantung Melani tiba-tiba berdebar-debar saat Rafa memandangnya.


“Lo beneran pengen tahu kenapa gue di sini dan ngebatalin kepergian gue ke Kanada?” kali ini Rafa memasang muka serius.


Melani menganggukkan kepalanya dengan tanpa beralih memandang wajah Rafa.


“Karena gue…”


Detak jantung Melani semakin kencang, mungkinkah apa yang akan dikatakan Rafa sesuai dengan apa yang dipikirkan Melani?


“Karena gue nggak bisa ninggalin lo, Mel.”


Ternyata benar, Rafa mengatakan sesuatu yang sedang dipikirkan oleh Melani. Nggak tahu kenapa sepertinya Melani tahu apa isi hati dan pikiran Rafa. Biarpun itu terkesan sedikit ge-er sih.


Rafa kembali memalingkan wajahnya melihat hamparan sawah yang luas. Angin masih tetap berhembus menerpa tubuh mereka.


“Lo tahu nggak Mel, apa yang terus gue pikirin waktu gue dalam perjalanan menuju bandara?”


“Apa?”


“Lo.”


“…”


“Gue nggak bisa berhenti mikirin lo. Gue terus-terusan ngerasa bersalah karena udah memperlakukan lo dengan nggak adil. Apa lo tahu Mel, gimana perasaan gue waktu gue bilang lo musti jauhin gue dan lupain gue? Gue sedih, Mel. Hati gue hancur. Apalagi tiap gue lihat lo nangis, gue selalu ngerasa kalau gue ini orang paling jahat yang tega nyakitin orang sebaik lo.”


“…”


“Gue selalu berusaha ngehindar dari lo, bahkan sampai mau pergi ke Kanada segala. Itu gue lakuin karena gue ngerasa udah terlalu sering nyakitin lo. Gue ngerasa nggak pantas buat terus ada di deket lo, karena gue cuma bisa bikin lo sedih.”


“…”


“Jujur, Mel. Tiap gue lihat lo deket sama Kevin, gue ngerasa aneh. Gue selalu ngerasa nggak rela aja ngelihat lo sama dia, padahal gue tahu kalau Kevin emang jauh lebih baik dari gue. Apalagi Kevin yang selama ini selalu ada di deket lo saat lo sakit, sedih…Cuma Kevin yang bisa ngelindungin lo. Bukan gue yang bisanya cuma nyakitin lo aja.”


“Kevin emang orangnya baik banget, Raf. Gue aja kagum sama dia.” Melani sedikit mengenang tentang semua kebaikan Kevin padanya,”Dia tetep baik sama gue biarpun gue udah nyakitin dia.”


Rafa tahu yang dimaksud Melani dengan ‘menyakiti’.


“Dia bener-bener cowok idaman buat semua cewek. Siapapun yang jadi pacar dia, pasti cewek itu akan bahagia banget.”


“Apa lo suka sama Kevin?”


“Suka.”


“…”


“Tapi cuma sebatas sahabat aja.” Melani melanjutkan kalimatnya.


Rafa teringat kalimat Kevin yang mengatakan kalau Melani menolak cintanya karena di hati Melani sudah ada orang lain. Apa benar orang yang dimaksud itu memang benar-benar Rafa?


“Maafin gue, Mel.”


Melani menoleh.


“Maafin gue karena selama ini gue udah sering banget nyakitin lo. Lo mau kan, maafin gue, Mel?” tanya Rafa yang sangat berharap Melani akan bersedia untuk memaafkan dia.


“…”

__ADS_1


“Apa lo mau maafin semua kesalahan gue, Mel?”


“Kalau gue maafin lo, apa lo janji nggak akan nyakitin gue lagi?”


“Iya,. Gue janji!” Rafa bersungguh-sungguh.


“Apa lo juga janji nggak akan pernah ninggalin gue lagi?”


“Iya. Gue janji, Mel.”


“Ngg…oke deh, gue maafin!”


Rafa senang dan tanpa sadar langsung memeluk Melani,”Makasih ya, Mel. Lo udah mau maafin gue.”


“I-iya!” lagi-lagi jantung Melani berdebar-debar.  


“Eh?” Rafa segera melepaskan pelukannya begitu sadar apa yang dia lakukan,”Sorry.”


“Nggak apa-apa.”


Rafa memalingkan wajahnya ke tempat lain untuk menyembunyikan kegugupannya.


“Nih, buku lo!” Melani memberikan novel pada Rafa,”Lo bawa aja deh, buku lo!”


Rafa memandangi novel itu. Itu novel yang dulu pernah dia kirim ke rumah Melani,”Tapi ini kan udah gue balikin ke lo, Mel?”


“Tapi gue juga udah pernah ngasih buku itu ke lo, kan?! Jadi nggak mungkin dong, gue ambil lagi. Lagian gue kan juga udah punya. Buat apa novel banyak-banyak? Judulnya sama, lagi?”


Rafa tersenyum,”Makasih ya, Mel. Gue janji, nggak akan balikin novel ini ke lo lagi!”


“Hm.”


“Sekarang novel ini milik gue lagi, kan?!”


“Iya.”


Rafa terlihat senang sekali dan mengamati novel yang sedang dipegangnya itu.


“Kalau masalah baju lo yang dulu pernah gue pinjem, ntar deh gue balikin kalau gue udah balik ke Jakarta. Soalnya nggak gue bawa!” ujar Melani.


“Itu, baju yang lo pinjemin ke gue pas gue nginep di rumah lo.” Melani mengingatkan.”Bajunya orang-orangan sawah yang kegedean itu!” Melani sebel banget kalau teringat pernah memakai baju kegedean dan bikin dia malu sama semua penghuni di rumah Rafa.


Rafa sedikit mengingat-ingat dan akhirnya ingat tentang baju itu,”Oh…baju yang itu? Nggak usah dibalikin juga nggak apa-apa, kok. Buat lo aja!”


“Ih, masa gue disuruh pake baju kegedean kayak gitu?! Nggak, ah! Ntar gue balikin ke lo.”


Rafa mengangkat kedua bahunya,”Ya terserah lo, sih!”


“Oh iya, Raf.” Melani tiba-tiba teringat sesuatu,”Gimana sama Veronica? Lo pacaran kan, sama dia?”


Rafa menggeleng,”Enggak. Gue nggak pacaran kok, sama dia.”


“Tapi kata temen-temen…”


“Gue cuma pura-pura pacaran sama dia.”


“Apa?”


“Iya, gue cuma minta dia buat pura-pura pacaran sama gue.”


“Buat apa lo pura-pura pacaran segala?” Melani nggak ngerti.


“Buat manas-manasin lo doang.”


“Apa?” Melani kaget,”Buat manas-manasin gue? Ngapain lo pake manas-manasin gue segala?” Melani sok acuh padahal kemaren dia emang panas beneran waktu melihat Rafa pacaran dengan Veronica.


“Ya, biar lo cemburu!” jawab Rafa santai yang sepertinya tahu isi hati Melani.


“Idih, buat apa gue pake cemburu segala? Sama playboy kayak lo, lagi? Kurang kerjaan banget?”


“Jadi beneran lo nggak mau ngaku kalau lo cemburu?” tanya Rafa lagi.


“Enggak. Buat apa ngaku, emang gue nggak cemburu kok.”


“Emang lo nggak suka sama gue?”

__ADS_1


“Enggak.”


Gimana kalau seandainya gue bilang kalau…” Rafa sengaja menggantungkan kalimatnya.


“Kalau apa?”


“Apa lo tetep bilang nggak suka kalau gue bilang gue suka sama lo?”


Melani tersentar, dia nggak menyangka Rafa akan mengatakan itu sekarang,”Apa?”


“Gue suka sama lo, Mel.”


Melani tercengang, Rafa nembak dia? Yang bener aja, dong.


“Lo masih nggak mau ngaku kalau lo suka sama gue?”


“Nggg…”


“Oke. Gue sayang sama lo.”


Melani menelan ludah, gugup karena Rafa terus menatapnya dan mengatakan perasaannya pada Melani.


“Lo masih belum puas? Oke. Gue cinta sama lo.”


Melani semakin gugup, biarpun dari dulu secara nggak langsung Melani sudah tahu perasaan Rafa , tapi tetep aja bikin jantungan kayak gini saat diungkapkan.


“Kirana Amelia Azkadina …aku cinta sama kamu.”


Rafa semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Melani. Melani yang memang sudah nggak tahu harus berbuat apa, hanya pasrah. Melani menutup kedua matanya saat Rafa menciumnya.


“Eh?” Melani tiba-tiba mendorong tubuh Rafa sampai Rafa hampir jatuh.


“Mel, lo apa-apaan sih, main dorong-dorong orang sembarangan? Hampir aja gue jatuh!” Rafa protes.


“Abis lo sih, main nyosor aja? Nggak lihat-lihat situasi, lagi? Masa nyium orang di tempat terbuka kayak gini? Kalau sampai dilihat orang lain kan malu? Ntar dikiranya kita mesum, lagi?!” Melani berkata sambil celingukan kesana-kemari, takut ada orang yang melihat.


“Yaelah, Mel. Siapa yang mau ngelihat? Palingan juga itu tuh, rumput-rumput yang bergoyang, padi-padi yang mulai menguning, sama langit doang!” Rafa berkata justru lebih mirip orang yang lagi baca puisi.


“Ya tetep aja bahaya. Itu di sana juga ada banyak orang yang lagi panen. Kalau mereka sampai lihat kan gawat!”


“Ya nggak mungkinlah, Mel. Itu tuh tempatnya jauh. Lagian kurang kerjaan banget ngelihatin orang yang lagi ciuman?”


“Ya, siapa tahu aja.”


Rafa mendengus kesal.


“Terus maksud lo ngapain tadi pake nyium-nyium gue segala?”


“Kan gue udah bilang kalau gue cinta sama lo. Masa nyium sekali aja nggak boleh? Tadi lo sendiri juga nggak keberatan kan, pas gue cium?!”


“Gimana gue bisa ngehindar, orang lo-nya juga nyosor kayak gitu? Terus emangnya kalau cowok udah bilang cinta itu, bisa nyium-nyium sembarangan? Enak aja?!” Melani ngomel-ngomel.


“Emang lo nggak cinta sama gue?”


Melani melengos.


“Apa lo nggak cinta sama gue, Mel?”


“…”


“Mel!”


“Kalau gue nggak cinta sama lo, mana mau gue dicium sama lo?” Melani menjawabnya dan langsung buru-buru berlari meninggalkan Rafa. Dia nggak mau sampai Rafa melihat mukanya memerah karena malu.


Rafa pun berlonjak senang, ternyata Melani menerima cintanya,”Dasar cewek! Gengsian banget sih, bilang cinta gitu aja?”


Melani berlari di jalan kecil tengah sawah sambil sesekali menoleh ke belakang tersenyum pada Rafa. Rapa berlari menyusul Melani. Dan akhirnya mereka main kejar-kejaran di sawah sambil mengingat masa lalu mereka waktu masih SMA.


Matahari yang semakin lama semakin meninggi membuat udara semakin panas. Namun itu semua nggak mengurangi kebahagiaan yang dirasakan Rafa dan Melani. Akhirnya semuanya bisa kembali seperti dulu lagi. Melani juga sempat mengajak Rafa untuk membantu menuai padi para petani seperti apa yang dulu pernah mereka lakukan. Mereka bersemangat untuk melakukan kegiatan itu di bawah sinar matahari, tanpa peduli dengan keringat yang membasahi tubuh mereka.


Biar sejauh apapun cintamu pergi meninggalkanmu, Tuhan selalu mempunyai caranya sendiri untuk kembali mempertemukan cinta sejati…


THE END


THE END

__ADS_1


__ADS_2