
Rafa pulang ke rumahnya dengan langkah gontai. Dia berjalan melewati berpuluh-puluh pelayan yang menyambut kedatangannya. Rafa sama sekali tidak menunjukkan tampang segar seperti biasanya, hari ini dia kelihatan lesu dan tidak bersemangat.
Kali ini dia merasa menjadi orang yang nggak berguna, yang nggak bisa melindungi seseorang yang disayanginya, tapi justru malah selalu membuat orang itu sial. Rafa bertemu dengan Papa di ruang tengah sebelum dia sempat menginjakkan kakinya di anak tangga rumah. Papa benar-benar menepati janjinya untuk lebih sering di rumah daripada kerja, hari ini saat Rafa pulang dia ada di rumah.
Papa khawatir melihat Rafa yang kelihatannya nggak bersemangat itu,”Rafa!” panggil Papa.
Rafa berhenti di bawah anak tangga begitu mendengar Papa memanggilnya.
“Kamu kenapa?” Papa menghampiri Rafa,”Kamu sedang ada masalah?”
Rafa diam saja.
“Raf, kalau kamu ada masalah, kamu cerita sama Papa! Papa pasti akan bantu sebisanya!” Papa menunjukkan perhatian seorang ayah kepada anaknya.
“Nggak apa-apa kok, Pa. Aku nggak lagi ada masalah apapun. Maaf, Pa. Aku ke kamar dulu!”
Rafa pergi ke atas menuju kamarnya.
Papa masih bingung dengan sikap Rafa. Biarpun biasanya dia tidak pernah tahu apa saja yang sudah terjadi dengan Rafa selama dia tidak di rumah, tapi melihat Rafa yang seperti tadi Papa yakin pasti ada masalah yang sedang membebani pikirannya.
Rafa melempar tasnya ke sembarang tempat begitu sampai di kamarnya. Dia duduk di sofa dan mengambil sebuah novel yang ada di rak bawah meja. Novel White Love yang sudah ditandatangani oleh Melani. Rafa rebahan di sofa sambil memandangi novel itu. Selama lima tahun ini, hnaya novel itu satu-satunya banda yang selalu mengingatkan dia tentang Melani, hanya novel itu yang membuat Rafa bahagia karena begitu banyak kenangan manis tentang novel itu. Saat melihat novel itu, Rafa selalu melihat wajah Melani sedang tersenyum padanya. Dan kalau melihat wajah Melani, Rafa selalu teringat tentang semua kesialan-kesialan yang sudah menimpa Melani gara-gara dia.
Rafa melempar buku ke atas meja dan *******-***** kepalanya. Dia pusing, bingung, nggak tahu harus berbuat apa. Rasa sayangnya pada Melani sudah membuat dia hampir gila. Dia bingung dan nggak tahu apa keputusannya untuk menjauhi Melani ini sudah benar? Apa kalau nanti Melani sudah jauh darinya, Melani nggak akan sial lagi? Apa dia dan Melani memang tidak ditakdirkan untuk bersama? Karena dari dulu sampai sekarang tetap ada saja kejadian yang mengganggu kedekatan mereka.
***
Esok harinya, Melani sudah sadar. Ibunya yang saat ini ada di sampingnya. Dia senang sekali melihat Melani sudah sadar dan tidak sampai terjadi apa-apa dengannya.
“Aduh, Mel. Ibu cemas sekali waktu kemaren Kevin ngasih kabar kalau kamu kecelakaan. Kamu itu bagaimana sih, kok bisa sampai ketabrak gitu?” ibu menegur.
“Ibu gimana, sih? Mel ini baru aja sadar, bukannya nanyain gimana keadaannya, masih sakit apa enggak gitu? Eh, ini malah ngomel-ngomel aja?” Melani sebal sambil memegangi kepalanya yang diperban dan masih sedikit pusing.
“Buat apa Ibu nanya? Ibu kan sudah tahu sekarang, kalau kamu baik-baik saja?! Lagipula dari dulu kamu ini memang ceroboh. Udah sering kejadian kayak gini. Memangnya kamu nggak bisa lebih hati-hati lagi?” Ibu mengomeli Melani.
__ADS_1
Melani mendengus kesal. Bukannya prihatin anaknya baru kena musibah, eh malah ngomel-ngomel. Udah gitu pake ngungkit-ngungkit masa lalu, lagi. Bete, deh!
“Ayah mana, Bu?” Melani heran dari tadi sepertinya dia tidak melihat ayahnya di situ.
“Ayah kamu sudah berangkat kerja tadi.
Sebenarnya dia katanya masih mau nungguin kamu sampai kamu sadar, tapi Ibu suruh ayah kamu berangkat kerja saja. Lagipula di sini kan sudah ada Ibu. Tadi Ayah juga sudah Ibu kabarin tentang keadaan kamu.”
Melani manggut-manggut,”Oh…”
Pintu terbuka, muncul sosok Kevin dengan membawa rangkaian bunga yang indah banget. Sepertinya, semua jenis bunga lengkap berada di tangan Kevin.
“Selamat pagi, Mel!” sapa Kevin dengan wajah riangnya.
Melani dan Ibu menoleh.
“Eh, Kevin.” Ibu tampak senang sekali,”Ayo sini, masuk masuk!” Ibu menyilakan.
“Pagi, Tante!” Kevin menyapa ibu Melani.
Melani bingung,”Apa? Baru aja pulang?” dia terlihat nggak mengerti dengan maksud ibunya.
“Iya, Mel. Kevin ini yang ngejagain kamu dari kemaren. Dia bergantian sama Ayah dan Ibu untuk menjaga kamu.” Ibu berkata,”Mustinya kamu berterima kasih sama Kevin.”
Melani memandang Kevin dengan wajah tidak percaya kalau dari kemaren Kevin ikut menungguinya di rumah sakit,”Bener itu, Vin?”
“Ya bener dong, Mel!” Ibu Melani asal menyahut sebelum Kevin sempat menjawab,”Ya sudah. Berhubung sekarang udah ada Kevin, Ibu mau pulang dulu ya, Mel? Mau bersih-bersih rumah sekalian buka toko! Kamu nggak apa-apa kan, kalau Ibu pulang?”
“Iya, nggak apa-apa. Ibu pulang aja, Ibu pasti juga capek.”
“Ya sudah!” Ibu mengambil tasnya, lalu berpamitan untuk pulang,”Kevin, Tante pulang dulu! Tolong kamu jagain Melani, ya?!”
Kevin mengangguk,”Iya, Tante.”
__ADS_1
Ibu membuka pintu dan keluar.
Kevin duduk di sebelah Melani dan memberikan bunga pada Melani,”Ini buat lo, Mel.”
Melani menerima bunga itu dengan senang hati,”Makasih ya, Vin.”
Kevin mengangguk,”Gimana keadaan lo, Mel? Masih ada yang sakit nggak?"
“Nggak kok. Gue udah nggak apa-apa, kok.”
“Syukur, deh…”
“Nggg…makasih ya Vin, lo udah mau nungguin gue di sini. Dan gue tahu pasti lo juga kan yang bawa gue ke rumah sakit! Pasti gue ngerepotin lo banget, ya?” Melani nggak enak hati pada Kevin.
“Enggak. Gue sama sekali nggak ngerasa direpotin, kok. Gue malah seneng bisa bantuin lo!” ujar Kevin tulus.
Melani merasa beruntung punya teman yang sebaik dan perhatian seperti Kevin. Kevin rela nungguin dia dari kemaren, dan pastinya bosen banget kalau yang namanya nungguin orang sakit itu. Tapi nggak tahu kenapa, Melani justru berharap kalau orang yang menjaganya itu bukan Kevin. Dari sejak dia bangun tadi pagi, Melani terus kepikiran tentang Rafa yang sampai sekarang belum kelihatan batang hidungnya.
“Nggg…Vin.”
“Ya? Kenapa, Mel?”
“Rafa mana?” Melani tahu dia nggak seharusnya menanyakan Rafa di depan Kevin. Sekarang ini sudah ada Kevin di sampingnya, sebenarnya Melani nggak perlu menanyakan orang lain. Tapi dia terus-menerus kepikiran Rafa.
“Rafa?”
“I-iya. Apa dia nggak ke sini, Vin?” tanya Melani.
Kevin terlihat kecewa karena Melani malah menanyakan orang lain, tapi berusaha memahami Melani,”Gue nggak tahu, Mel. Dari kemaren, gue nggak lihat Rafa ada di sini. HP nya juga nggak bisa dihubungi."
Melani heran,”Masa, sih?”
“Iya.”
__ADS_1
TBC