
Melani pun menuruti permintaan Rafa untuk masuk ke mobilnya. Melani juga ingin secepatnya bicara dengan Rafa supaya semua masalah jelas dan lebih bagus lagi kalau selesai, sehingga nggak menggantung seperti ini. Melani ingin mendengar apa yang akan Rafa katakan padanya. Karena dia sudah tidak tahan lagi dengan situasi yang terjadi belakangan ini antara dia dan Rafa. Melani ingin semuanya jelas dan dia bisa hidup tenang lagi seperti dulu, tanpa dibebani pertanyaan-pertanyaan yang belum bisa dia dapatkan jawabannya.
“Nih!” Rafa meletakkan seikat bunga mawar putih yang indah ke pangkuan Melani, lalu menjalankan mobilnya.
Melani nggak menyangka, ternyata Rafa nggak pernah lupa kalau mawar putih adalah bunga kesukaan Melani sejak dulu,”Makasih.”
“Gue harap lo masih tetep suka sama bunga itu!” Rafa berbicara santai.
“…” Melani terdiam memandangi bunga yang diberikan Rafa padanya. Dia ingat dulu dia juga pernah mendapatkan setangkai bunga mawar putih dari Fandy. Meskipun tidak terlalu bagus dan mahal, tapi Melani merasa bahagia. Dan kebahagiaan itu kini terasa kembali saat dia mendapatkan bunga dari Rafa. Mungkin memang Fandy sudah banyak berubah setelah menjadi Rafa, tapi Melani tahu ada beberapa hal yang tidak pernah bisa berubah.
Di radio yang ada di mobil terdengar lantunan sebuah lagu pop Indonesia yang sekarang ini sedang ngetop-ngetopnya, dinyanyikan oleh Gita Gutawa featuring Derby Romero berjudul Cinta Takkan Salah.
***
Angin bukit menerpa tubuh Melani dan Rafa. Saat ini mereka berdua berdiri di atas bukit memandangi pemandangan perkampungan yang ada di bawah kaki mereka. Sebenarnya pagi ini Melani ada kuliah, tapi dia melupakan kuliahnya itu dan membolos karena Rafa mengajaknya keluar.
Baru kali ini Melani merasa, kuliah itu nomor dua, dan baru kali ini juga dia membolos. Habis mau bagaimana lagi? Percuma dia ikut kuliah kalau nggak bisa konsentrasi, seluruh pikirannya tetap tertuju pada Rafa. Memang sebaiknya dia menyelesaikan dulu urusannya dengan Rafa, baru bisa kembali konsentrasi untuk kuliah.
“Gue ada kuliah pagi, Raf!” karena nggak tahu harus mengatakan apa, Melani mengatakan apa saja untuk memulai pembicaraan mereka, karena sedari tadi Rafa belum juga mengatakan apa-apa. Akhirnya hanya itu yang bisa keluar dari mulut Melani.
“Nggak apa-apa kan, bolos sekali aja?"
Melani mengangguk, memang sebenarnya dia tidak keberatan membolos demi meng clear - kan semuanya dengan Rafa.
“Sekarang gue udah siap buat jawab semua pertanyaan yang mau lo ajuin ke gue!”
pandangan Rafa tetap nggak beralih dari semula, dia masih terus memandang lurus ke depan dan nggak jelas apa yang sedang dilihatnya,”Ayo, sekarang lo boleh tanya apa aja ke gue! Gue akan jawab semuanya!"
__ADS_1
Melani menoleh memandang Rafa, tapi Rafa tetap nggak mengalihkan pandangannya.
“…” Rafa sudah menunggu Melani mengatakan sesuatu padanya. Dia sudah siap untuk diinterogasi oleh Melani.
Melani menarik napas panjang,”Kenapa lo pergi?”
“…”
“Kenapa lo pergi nggak bilang-bilang sama gue? Apa gue nggak pantes buat tahu kemana lo pergi dan apa alasan lo pergi?” Melani memulai pertanyaannya yang sudah dari dulu ingin dia tanyakan.
“…”
“Katanya mau jawab pertanyaan gue? Sekarang jawab!”
“Gue emang sengaja.”
“Apa???” Melani terlihat nggak mengerti,”Maksudnya lo emang sengaja pergi buat ninggalin gue?”
“Jadi lo sengaja mau ngelupain gue? Lo sengaja ganti nama lo jadi Rafa, supaya gue nggak ngenalin lo?”
Rafa berjalan santai menuju ke arah lain,”Sebenarnya itu bukan sepenuhnya keinginan gue. Papa gue yang minta supaya gue ikut dia ke Jakarta dan memulai semuanya dari awal dengan identitas yang baru.”
“Papa lo? Papa angkat lo yang lo bilang lagi di luar negeri?”
“Dia papa kandung gue.”
“Bukannya dulu lo bilang kalau papa lo udah meninggal?”
__ADS_1
“Belum. Papa gue belum meninggal.”
“…”
“Mama sama papa gue udah cerai sejak gue belum lahir. Keluarga papa yang kaya raya nggak setuju kalau papa nikah sama mama gue yang cuma berasal dari keluarga miskin. Waktu mama hamil gue, mereka dipaksa untuk bercerai dan akhirnya gue sama Mama cuma tinggal berdua di Jogja.”
Melani pun baru sekarang ini tahu kebenaran tentang keluarga Rafa. Soalnya dulu Rafa mengatakan kalau papanya sudah meninggal.
“Gue juga baru tahu kalau ternyata papa gue masih hidup, sesaat sebelum mama gue meninggal. Papa datang ke rumah dan minta gue buat ikut sama dia ke Jakarta. Papa bilang, dia bisa menjamin kebutuhan hidup gue di Jakarta, dan dia juga pengen kalau gue bisa jadi pengganti kedudukan dia di perusahaan. Awalnya gue nggak mau, tapi Papa terus ngebujuk gue supaya gue mau ikut dia ke Jakarta. Sebenarnya gue belum sepenuhnya bisa menerima kehadiran Papa, karena Papa yang menyebabkan hidup Mama menderita.”
“…”
“Begitu gue tahu, Papa nggak pernah nikah lagi sejak cerai dari Mama, gue mulai berpikir buat coba untuk menerima Papa sebagai ayah gue. Akhirnya gue pindah ke Jakarta lima tahun yang lalu."
“…”
“Meskipun Papa adalah seorang pengusaha sukses yang kaya raya, tapi dia hidup sendirian di Jakarta karena Kakek dan Nenek udah lama meninggal. Papa cuma punya gue, begitu juga sebaliknya, gue cuma punya Papa. Lalu gue putusin buat memulai kehidupan gue yang baru bersama Papa, dan melupakan tentang kehidupan lama gue. Dimana gue selalu dihina karena gue orang miskin, gue selalu disiksa, dikerjain karena gue lemah.” Rafa teringat dengan perlakuan-perlakuan Anthony padanya dulu.
Melani mengerti yang dimaksud Rafa adalah tentang Anthony dan teman-temannya.
“Udah cukup semua itu, Mel. Gue nggak mau lagi diperlakukan kayak gitu sama orang. Gue nggak mau terus-terusan jadi penakut dan lemah di mata semua orang.” Rafa menahan amarahnya mengingat masa lalunya yang suram.
“…”
“Makanya, gue berusaha ngerubah diri gue. Semuanya gue rubah. Penampilan, sifat…dan mengganti nama gue menjadi Beryl Rafael Pradipta, sesuai dengan marga keluarga besar Papa. Gue nggak mau lagi jadi Fandy yang lemah dan selalu diperlakukan semena-mena sama orang, gue pengen buktiin kalau Rafa nggak seperti Fandy.”
“Apa ini karena Anthony?” tanya Melani.
__ADS_1
“Menurut lo?”
TBC