
Melani semakin bingung aja dibuatnya. Yang ngadain perjanjian dengannya kan Rafa, tapi kok Cyntia jadi ikut-ikutan jadi bos? Tapi wajar aja sih, Cyntia kan pacarnya Rafa. Melani pun mulai berpikir, mungkin Rafa sengaja memberinya libur hari ini supaya Melani dijadikan asistennya Cyntia untuk sementara. Huh, rese banget sih tuh cowok? Melani berpikir hari ini dia bisa libur kerja seharian, eh nggak tahunya malah Cyntia menjadikannya asisten juga. Kalau memang Rafa nggak niat ngasih libur, mendingan nggak usah aja daripada malah disuruh jadi asistennya Cyntia. Banyak yang bilang kalau bos cewek itu lebih ganas daripada bos cowok.
“Gimana? Lo setuju, kan?!”
“Nggg…iya deh, nggak apa-apa. Kebetulan hari ini Rafa ngasih gue libur kerja. Jadi nggak apa-apa deh, gue jadi asisten lo hari ini.” Melani terpaksa, mau gimana lagi.
Cyntia tersenyum senang, namun senyuman Cyntia nggak sepenuhnya senyuman senang, lebih tepatnya seperti senyuman puas,”Oke. Ntar pulang kuliah gue tunggu di parkiran!”
Melani mengangguk,”Iya.”
Cyntia pergi. Melani mendengus kesal, hari ini rencana hari liburnya gagal total.
“Si Rafa gimana, sih? Kalau nggak niat ngasih gue libur kerja, mendingan nggak usah sok-sok baik, deh! Tuh cowok emang rese banget.” Melani menelepon Rafa untuk ngomel-ngomel sama dia, tapi HP Rafa nggak aktif,”Ih, nggak aktif, lagi. Nih cowok pergi kemana sih, HP pake dimatiin segala? Tahu aja dia, kalau gue mau ngomel-ngomel.”
“Ngomel-ngomel kenapa, Mel?”
__ADS_1
“Kevin?” Melani kaget melihat Kevin tiba-tiba muncul.
“Lo mau ngomelin siapa? Kok kayaknya bete banget?”
“Oh, nggak kok. Nggak apa-apa. Biasa ini si bos gila bikin gue dongkol lagi.”
Kevin tertawa,”Mel, Mel. Lo tuh kayaknya gampang banget ya, dibikin dongkol sama Rafa. Kenapa lagi sih, sama dia?”
“Tadi baru aja SMS gue, eh giliran gue telepon mau gue omelin, HP nya udah nggak aktif? Tahu aja tuh orang kalau mau gue omelin.”
Kevin lagi-lagi tertawa,”Lo itu udah kayak ibu rumah tangga aja, Mel. Ngapain lo telepon, ntar juga ketemu, kan?”
Kevin geleng-geleng kepala.
“By the way, hari ini Rafa kemana, ya? Kok tumben tadi Cyntia sendirian?” Melani baru sadar, kalau sejak tadi dia nggak melihat tampang Rafa. Biasanya kalau pagi-pagi dia datang, pasti sempat melihat Rafa meskipun sekilas,”Hari ini dia nggak ada kuliah ya, Vin?”
__ADS_1
“Ada sih, sebenernya. Tapi hari ini dia sengaja nggak masuk.”
“Hah? Nggak masuk? Emang dia sakit?” Melani berpikir jangan-jangan Rafa sakit gara-gara kemaren diajak naik bajaj. Tapi masa diajak naik bajaj sekali aja udah langsung sakit? Dasar orang kaya!
“Nggak. Nggak sakit, kok. Tadi pagi gue sempet ketemu sama dia di jalan. Katanya sih, dia mau pergi ke Jogja gitu.”
“Hah? Ke Jogja?” Melani heran,”Mau ngapain dia ke sana?”
Kevin mengangkat kedua bahunya,”Gue kurang tahu. Gue nggak nanya apa-apa sama dia. Si Rafa itu mana pernah sih, mau terbuka sama orang? Mungkin dia ada bisnis di sana."
Benar juga apa yang dikatakan Kevin. Rafa memang orangnya misterius, nggak pernah mau terbuka sama orang. Sebenarnya Melani banyak sekali pertanyaan yang ingin dia ajukan pada Rafa. Tapi kalau Melani bertanya, Rafa selalu mengalihkan pembicaraan, seolah nggak mau kalau ada orang lain yang tahu tentang dirinya.
“Kenapa, Mel?” tanya Kevin.
“Nggak apa-apa kok, Vin.” Melani sedikit gugup,”Ya, udah deh! Nggak usah ngomongin dia lagi! Males gue. Yang ada ntar malah bikin gue tambah dongkol.”
__ADS_1
“Oke. Jalan yuk!”
TBC