
Melani menunduk.
“Mungkin lo bingung, kenapa dari pertama kali kita ketemu di kampus, gue selalu berusaha ngehindarin lo? Gue emang sengaja.”
“…”
“Lo pikir selama ini gue selalu pake kacamata hitam buat apa? Buat gaya kayak yang kebanyakan orang lakuin? Enggak. Bukan itu satu-satunya alasan kenapa gue selalu pake ini!” Rafa memegang kacamata hitamnya,”Mungkin gue emang udah berhasil ngerubah diri gue, sifat gue, semuanya udah berusaha gue rubah, bahkan lo sama Anthony pun nggak ngenalin gue!”
“…”
“Meskipun semua udah gue rubah, tapi ada satu dari diri gue yang nggak bisa gue rubah. Yang nggak bisa gue rubah dari Fandy menjadi Rafael.”
“Mata lo.” Melani menebak.
Rafa terdiam, dia tahu Melani akan mengerti apa yang dia maksud.
“Iya, kan. Cuma tatapan mata lo yang nggak mungkin bisa lo rubah.”
Rafa menghela napas,”Iya. Lo bener, Mel. Gue selalu berusaha supaya lo nggak sampai ngelihat mata gue. Karena gue nggak mau lo tahu siapa gue sebenernya. Dan ternyata bener kan, lo sama Anthony langsung tahu siapa gue setelah ngelihat mata gue! Tatapan mata Fandy nggak pernah berubah. Dan nggak akan pernah bisa berubah.”
“…”
“Itu yang dari dulu selalu mati-matian gue sembunyiin dari orang-orang di sekitar gue yang mengenal gue sebagai Rafael yang dikenal cuek, dingin, judes, angkuh, sombong…karena gue nggak mau begitu mereka ngelihat sorot mata gue, mereka akan melihat sosok Fandy yang penakut, payah, lemah…Gue nggak mau!”
“…"
“Gue nggak mau jadi Fandy, karena bagi gue Fandy itu udah mati.”
__ADS_1
Melani menggelengkan kepalanya, dia seperti nggak rela Rafa berkata demikian.
“Alfandy Putra udah mati, dan gue adalah Beryl Rafael Pradipta.”
“Enggak!”
Rafa menoleh ke Melani.
“Fandy nggak mati. Lo itu Fandy!” ujar Melani,”Emang kenapa sih Raf, lo begitu bencinya sama semua masa lalu tentang Fandy? Apa lo juga pengen ngelupain gue? Gue ini juga termasuk bagian dari masa lalu Fandy.”
“…”
“Kenapa lo sama sekali nggak ngerti perasaan gue, Raf? Lima tahun gue nyariin lo, gue selalu berharap kalau suatu saat nanti gue bisa ketemu sama lo lagi. Gue nggak pernah ngelupain lo. Tapi lo malah ngelupain semuanya tentang masa lalu lo!”
“…”
Rafa paling nggak tahan melihat Melani menangis, dan dia nggak menduga selama ini Melani nggak pernah melupakannya, sama seperti dirinya yang nggak pernah sedikitpun melupakan Melani.
“Lo jahat banget sih, Raf? Lo jahat banget mau ngelupain gue gitu aja?”
“Mel…” Rafa menyela buru-buru,”Gue nggak pernah lupain lo. Lo itu adalah satu-satunya kenangan termanis dari masa lalu gue. Jadi mana mungkin gue ngelupain lo?”
“…”
“Dulu lo yang selalu bantuin gue kalau gue dikerjain sama Anthony dan teman-temannya, lo yang selalu belain gue setiap Anthony maki-maki gue. Mana mungkin gue ngelupain lo, Mel?”
Melani merasa sedikit tenang mendengar pengakuan Rafa. Dia senang Rafa tidak pernah melupakannya, dan itupun terbukti dengan novel miliknya yang masih disimpan sama Rafa.
__ADS_1
“Lo tahu nggak, kenapa di kampus gue terkenal sebagai playboy yang sukanya nembak dan mutusin cewek seenaknya? Itu karena gue selalu mikirin lo, Mel. Setiap cewek yang gue temui dan gue rasa mirip sama lo, gue langsung pacarin mereka. Tapi gue juga gampang mutusin mereka karena gue tahu kalau semakin ke belakang mereka semakin beda sama lo. Sampai akhirnya gue pun sadar kalau nggak akan ada yang bisa kayak lo, ngga akan ada yang bisa ngegantiin lo.”
Melani terharu mendengarnya. Ternyata dirinya terlihat begitu istimewa di mata Rafa, sampai-sampai Rafa bilang kalau nggak akan ada yang bisa menggantikannya. Melani juga baru tahu kenapa Rafa nggak macarin Diandra? Itu karena Diandra sama sekali nggak mirip dengan dirinya. Dan Cyntia…itu perkecualian.
Rafa menarik Melani ke dalam pelukannya. Melani kaget, baru kali ini dia merasa bahagia berada di dalam pelukan Rafa. Setelah kejadian-kejadian sebelumnya yang membuat dia tanpa sengaja berpelukan dengan Rafa, baru kali ini dia benar-benar dipeluk secara sengaja oleh Rafa. Masalah pun akhirnya bisa terselesaikan dengan baik.
“Jadi gimana? Kira-kira lo lebih suka sama Fandy apa sama Rafa?” Rafa mulai lagi menggoda Melani.
Melani kaget,”Apa???” dia segera menarik tubuhnya dan memandang wajah Rafa. Rafa tampak tersenyum iseng ke arahnya,”Ngapain lo cengar-cengir?” Melani berusaha galak.
“Pasti lo seneng banget ya, gue peluk? Terang aja, pasti lo kangen banget kan sama gue? Udah lima tahun nggak ketemu!”
Melani memandang jijik ke arah Rafa dan membersihkan tubuhnya yang tadi disentuh sama Rafa,”Ih…siapa juga yang seneng dipeluk sama lo?”
“Pasti seneng, deh. Buktinya sampe nangis-nangis segala tadi? Takut ya, kalau gue pergi lagi?!” Rafa ngeledek.
Melani mengusap-usap wajahnya, membersihkan sisa air matanya,”Enggak, kok. Siapa yang nangis? Cuma kelilipan aja!"
Rafa mencibir,”Udah, nggak usah pura-pura! Pasti sebenernya lo suka kan, sama gue?! Ya iyalah, siapa sih cewek yang nggak suka sama Beryl Rafael Pradipta yang keren ini?!” Rafa memperbaiki krah bajunya.
“Ih…pede banget? Keren apanya? Berantakan en amburadul kayak gitu aja dibilang keren? Masih kerenan juga…ayah gue!” Melani ngeloyor pergi untuk menyembunyikan rasa malunya.
“Eh, Asisten! Mau kemana lo?” teriak Rafa,”Gue ini masih bos lo sekarang!”
Melani nggak peduli, dia menuju mobil Rafa,”Pulang.”
Rafa tertawa geli dan geleng-geleng kepala.
__ADS_1
TBC