
Dulu waktu pertama kali menyatakan cinta waktu SMA, Anthony juga menyatakannya di muka umum seperti itu. Dan pada waktu Anthony menyatakan cinta padanya, Melani belum memberi jawaban. Entah karena malu ditembak di muka umum, nggak ada perasaan apap-apa, atau karena Melani sudah menyukai cowok lain? Melani sendiri juga bingung. Tapi yang dia tahu, dari dulu dia hanya menganggap Anthony sebagai teman. Hanya itu saja, nggak lebih. Melani sudah berkali-kali mengatakan kalau dia nggak bisa menerimanya, tapi Anthony tetap menunggu suatu saat nanti Melani akan menerima cintanya. Dan Anthony sudah menunggu cinta Melani selama lima tahun.
“Apa sekarang lo udah bisa cinta sama gue?”
“Thon, please! Gue udah berkali-kali bilang kalau gue nggak bisa sama lo. Daripada lo terus-terusan ngungkit-ngungkit masalah ini, lebih baik kalau kita temenan aja kayak biasanya!” Melani berusaha menolak dengan halus.
“Kenapa, Mel? Kenapa lo selalu nolak gue? Apa masih gara-gara si Curut itu?”
Tiba-tiba ada seseorang yang berdehem. Melani dan Anthony menoleh. Rafa berjalan ke arah mereka dengan langkah santainya. Rafa memandang wajah Anthony dengan tatapan matanya yang santai tapi tajam dan berarti sesuatu itu. Saat memandang mata Rafa, Anthony merasa aneh, dia merasa seperti pernah melihat tatapan mata seperti itu sebelumnya. Namun Anthony sama sekali nggak bisa mengingat tepatnya kapan dan dimana. Melani yang melihat dua orang cowok yang saling bertatap muka dengan tampang aneh, dia jadi nggak tahu harus bagaimana. Kalaupun nanti misalnya dua cowok di depannya itu berantem, Melani nggak tahu harus membela siapa.
Anthony masih berusaha mengingat-ingat apa dulu dia pernah kenal dengan cowok di depannya itu. Tapi sebelum Anthony berhasil mengingat, Rafa memakai kacamata hitamnya dan mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
“Kalau mau nembak cewek, lihat-lihat tempat dong!” Rafa meradang, seakan-akan menyindir Anthony,”Masa nembak cewek di muka umum? Dipikir ceweknya nggak malu apa, diperlakuin kayak gitu?”
Anthony yang merasa tersindir, jadi emosi dan marah. Dia sudah mengepalkan jari-jari tangannya lalu melayangkannya ke wajah Rafa, tapi Melani cepat-cepat mencegahnya.
“Thon, Thon. Jangan!”
“Kenapa sih, Mel? Nih cowok udah kurang ajar sama gue. Dia belum tahu siapa gue?”
Secara nggak langsung sebenarnya Melani merasa lega dan berterima kasih pada Rafa, karena berkat Rafa dia jadi terbebas dari pertanyaan-pertanyaan Anthony yang sangat mengganggunya. Tapi dia juga nggak mau sampai ada kekerasan di situ,”Iya, tapi gue nggak suka cara lo yang main pake kekerasan kayak gini. Lo nggak usah cari masalah, deh!”
Karena Melani yang minta, Anthony menurunkan kepala tangannya dan nggak jadi memukul Rafa.
Rafa juga nggak terlihat panik mau dipukul sama Anthony, dia tetap terlihat tenang.”Jadi lo pikir gue nggak tahu siapa lo?”
__ADS_1
Anthony dan Melani kembali memusatkan pandangan ke Rafa.
“Jangankan lo, gue aja tahu siapa bokap lo.”
“Maksud lo?” Anthony marah karena merasa diremehkan.
Rafa menoleh,”Hendrianto Andry Daniswara. Itu kan nama bokap lo?” Rafa menebak dan sudah yakin kalau tebakannya itu pasti benar.
Melani dan Anthony kaget, lalu saling beradu pandang. Mereka sama-sama kaget Rafa tahu nama papa Anthony, padahal kayaknya kenal aja enggak.
“Dan lo.” Rafa menunjuk ke dada Anthony,”Nama lo Anthony Daniswara. Iya kan?!”
“Darimana lo tahu?” semprot Anthony masih dengan hati yang panas, ingin rasanya menonjok Rafa sampai mampus,”Siapa lo?”
Jantung Anthony serasa berhenti berdetak mendengar nama itu.
“Alexander Harry Pradipta, itu nama bokap gue!” Rafa pergi dengan senyum puas di wajahnya.
Anthony mendengus, sepertinya dia segan banget mendengar dua nama yang sudah nggak asing lagi di telinganya itu.
“Kenapa sih, Thon? Kok lo kaget gitu?” tanya Melani,”Udahlah, biarin aja! Dia emang kayak gitu kok, orangnya.”
“Bukan itu masalahnya, Mel. Bokapnya dia itu adalah pemilik perusahaan besar yang tadi gue bilang lagi jalin kerjasama sama perusahaan bokap gue.” Anthony menjelaskan.
Melani sedikit kaget,”Apa? Kok bisa kebetulan gitu, sih?”
__ADS_1
Anthony menonjok telapak tangannya sendiri. Kesal,”Sial. Berarti gue sama sekali nggak bisa berbuat apa-apa sama tuh cowok. Padahal gue kesel banget sama dia, Mel.”
“Udah, lo nggak usah cari masalah deh, di sini! Gue nggak suka!”
***
Mobil Rafa berhenti di depan pintu rumah besar bercat cokelat muda mengkilap. Di depan pintu sudah ada dua orang pelayan wanita dengan mengenakan seragam serta seorang sopir laki-laki dengan mengenakan seragam khusus sopir. Mereka bertiga yang selalu menyambut kedatangan Rafa saat Rafa pulang ke rumah. Rafa turun dari mobil, dua pelayan dan satu sopir tersebut membungkukkan badannya tanda memberi hormat pada Rafa. Rafa berjalan melewati mereka sambil memberikan kunci mobil pada sopir untuk memarkirnya ke garasi. Sopir pun menerima kunci dengan sopan, lalu bergegas memarkir mobil Rafa.
Di rumah yang megah dan mewah itu, Rafa hanya tinggal berdua dengan papanya serta puluhan pembantu yang masing-masing sudah diberi tugas sesuai keahliannya. Rumah mewah berlantai dua serta bercat cream itu memiliki halaman rumah yang luas di sekelilingnya. Halaman depan ditata menyerupai sebuah taman bunga yang indah, halaman samping kanan dibangun sebuah garasi mobil yang di dalamnya terdapat banyak sekali mobil-mobil mewah. Kalau Rafa atau papanya ingin pergi, tinggal pilih mau naik mobil yang mana. Beberapa orang sopir juga sudah siap mengantar kemanapun mereka akan pergi, tapi Rafa memilih untuk menyetir mobil sendiri.
Halaman samping kiri ditata seperti jalanan kecil yang berfungsi untuk menghubungkan halaman depan dengan halaman belakang. Di halaman belakang yang luas, terdapat sebuah kolam renang besar yang dikelilingi pepohonan, dimana menjadikan tempat itu sangat nyaman dan sangat cocok digunakan untuk tempat bersantai.
Rafa berjalan memasuki rumahnya yang di dalamnya dipenuhi perabot-perabot yang super mahal buatan impor. Lukisan-lukisan yang terpajang di seluruh dinding, merupakan hasil lukisan para pelukis ternama di dunia.
Para pelayan yang sedang sibuk membersihkan ruangan, begitu melihat Rafa berjalan melewati mereka, semua pelayan pun segera menghentikan pekerjaannya dan berbaris serta membungkukkan badan menyambut kedatangan Rafa. Rafa berjalan santai menaiki anak tangga rumah yang di setiap anak tangganya dipasangi karpet berwarna cokelat motif garis-garis buatan luar negeri yang terkenal. Pegangannya pun berlilauan terlihat seperti emas.
Rafa membuka pintu kamarnya berwarna cokelat muda dan memasuki sebuah ruangan yang cukup luas. Di dalamnya ada sebuah tempat tidur besar dengan sprei warna merah hati bermotif bunga-bunga berwarna putih, di dinding kamar terpampang beberapa foto Rafa baik yang sendiri maupun yang sedang bersama papanya. Selain tempat tidur, di kamar itu juga ada sebuah sofa di sudut ruangan lengkap dengan meja kacanya, ada laptop, televisi 21 inci, kulkas, sebuah meja belajar lengkap dengan kursinya serta lampu belajar yang terpajang manis di atas meja, lemari pakaian, lemari buku ber - rak yang berisi bermacam-macam buku di dalamnya.
Rafa ini termasuk orang yang suka mengkoleksi berbagai macam buku, bahkan yang tidak diketahui orang banyak, Rafa memiliki langganan sebuah toko buku terbesar di Jakarta, yang setiap bulannya Rafa selalu mendapat diskon sebagai hadiah seringnya dia membeli buku di sana. Kamar mandi pribadi Rafa juga menjadi satu dengan kamar itu. Siapapun yang melihatnya pasti akan berkata bahwa hidup Rafa sungguh sempurna sebagai anak tunggal seorang pengusaha terkaya di Jakarta, serta dia pun nantinya yang akan mewarisi semua kekayaan papanya.
Baru lima detik Rafa merebahkan tubuhnya di sofa untuk melepas lelah, terdengar suara ketukan pintu dari luar.
“Siapa?”
TBC
__ADS_1