My CEO My Ex Boyfriend

My CEO My Ex Boyfriend
31


__ADS_3

Melani celingukan mencari-cari keberadaan Rafa. Dia yakin dengan tinggi badan yang dimiliki Rafa, pasti dia akan dengan mudah menemukan keberadaan Rafa. Namun dari sekian banyak pengunjung yang ada di toko buku itu, Melani nggak melihat kepala Rafa yang berambut berdiri-berdiri mirip - mirip landak itu. Melani jadi heran.


"Ya ampun. Ngilang kemana sih, dia? Jangan-jangan dia ninggalin gue, lagi? Tapi tadi gue nggak ngelihat dia keluar? Aduh…kemana sih?”


Melani berjalan mengitari rak-rak buku untuk mencari Rafa, biarpun sebenarnya malas. Setelah beberapa lama mencari, Melani menemukan Rafa sedang berjongkok melihat-lihat buku-buku yaang letaknya di bawah. Pantas dari tadi dicariin nggak ketemu, orang dianya jongkok begitu.


Rafa mendongak ke arah Melani,”Apa?”


“Gue kirain ngilang, nggak tahunya ngumpet di sini.”


Rafa berdiri dengan memegang sebuah buku bacaan yang sepertinya Melani nggak tahu itu buku apa,”Siapa yang ngumpet? Lo pikir gue anak kecil, pake ngumpet-ngumpet segala?”


“Ya terserah lo, deh! Ngomong-ngomong udah belum beli bukunya? Gue udah cepek, nih. Pulang yuk!”


“Yang nentuin kapan pulangnya itu gue. Gue ini bos. Inget?” Rafa seenaknya sendiri.


“Iya, iya, Bos.” ujar Melani terpaksa dan dibuat-buat,”Tapi kan saya capek, Bos. Pengen cepetan pulang.”


“…” Rafa nggak merespon, dia malah sibuk mengamati buku lain dan membaca sinopsisnya.


Karena Rafa tetap nggak mempedulikannya.


Melani marah. Dia mencengkeram lengan Rafa dan menariknya dengan paksa tanpa peduli tuh cowok mau ngomong apa. Tadi dia juga ditarik-tarik seenaknya sendiri saat keluar dari kelas.

__ADS_1


“Eh, lo ngapain sih, narik-narik gue kaak gini? Gue belum selesai nih, belanjanya?” Rafa memprotes.


“Kapan-kapan aja Bos, belanja lagi. Kalau perlu satu toko diborong semua juga terserah. Tapi sekarang kita harus pulang. Asisten sudah capek, pengen istirahat.”


***


Akhirnya Rafa dan Melani pun pulang dengan naik mobil Rafa. Melani sibuk mengamati buku-buku yang tadi dibeli sama Rafa. Bermacam-macam novel karya penulis luar negeri yang Melani sama sekali nggak kenal, kini novel-novel itu ada di tangannya. Jujur saja, Melani juga sangat hobi membaca novel, tapi nggak sampai separah Rafa yang sampai memborong buku sampai sebanyak itu.


“Raf, buat apaan sih, lo beli buku sebanyak ini?”


“Buat dibaca lah, masa buat bantal tidur?!”


Melani memanyunkan bibirnya,”Iya, tahu.”


Melani sebal sekali dengan Rafa, dia sudah ingin sekali memukulkan buku tebal yang dipegangnya itu ke kepala Rafa.


“Eh, Asisten!”


“Apa?”


“Nih.” Rafa menunjuk ke pelipis wajahnya yang sedikit berkeringat.


“Apaan?”

__ADS_1


“Lap keringet.”


“Ih…” Melani memandangnya jijik,”Nggak mau, ah. Kurang kerjaan banget? Lagipula ini mobil kan atapnya terbuka, kok lo bisa keringetan gitu, sih?”


“Bawel lo. Panas tahu. Udah lap aja! Ini juga bagian dari tugas lo sebagai asisten.”


“Nggak mau gue. Enak aja suruh lap-lap keringet? Lo kan bisa lap keringet lo sendiri, Raf?”


“Gue maunya lo yang bersihin. Sebagai bos, gue berhak dong memerintah bawahan!”


“Tapi kalau cuma ngelap keringet kan lo bisa sendiri? Masa musti orang lain yang ngebersihin keringet lo?” Melani berubah galak,”Sekarang, cuma keringet aja lo suruh bersihin? Jangan-jangan ntar mandi minta dimandiin juga?”


“Kalau lo mau juga nggak apa-apa.”


“Eh, kurang ajar lo, ya!” Melani memukul-mukul lengan Rafa.


“Heh, heh, apa-apaan sih lo? Main pukul-pukul orang sembarangan? Udah cepetan lap keringet gue!” Rafa nggak mau tahu.


Dengan terpaksa, Melani mengambil tisu dan mengelap keringat di pelipis wajah Rafa. Karena kesel banget sama tuh cowok, Melani juga mengelap bagian depan wajah Rafa sampai mengenai mata Rafa, sampai-sampai mobil hampir menabrak tiang listrik di pinggir jalan gara-gara kehilangan keseimbangan karena mata Rafa tertutup tisu.


“Aduh, ini apa-apaan sih? Yang bener dong! Nyetir nih, nyetir. Kalau nabrak mati kita. Lo mau kalau kayak gitu?” Rafa marah-marah. Jantungnya hampir copot gara-gara hampir kecelakaan.


Melani juga sama, jantungnya berdebar-debar, tubuhnya gemetar. Hampir saja mereka tabrakan,”Abis lo juga sih. Keringet aja suruh ngebersihin?” Melani membela diri.

__ADS_1


TBC


__ADS_2