My CEO My Ex Boyfriend

My CEO My Ex Boyfriend
95


__ADS_3

Melani berpkir, apa Rafa nggak mencemaskan keadaannya sampai-sampai dia nggak mau datang ke rumah sakit untuk sekedar melihat keadaan Melani? HP Rafa nggak aktif, pantas dari tadi Melani sama sekali nggak mendapat telepon atau SMS dari Rafa. Dari kemaren juga, setelah kejadian tabrakan itu, satupun SMS Rafa nggak ada yang mampir ke HP nya.


“Lo kenapa, Mel? Kok ngelamun, sih?”


“Eh? Nggak apa-apa kok, Vin.” Melani sedikit tergeragap.


“Gue juga bingung sama Rafa, Mel. Sejak lo kecelakaan kemaren, Rafa tuh jadi aneh. Kemaren aja waktu gue tanya kenapa nggak ke rumah sakit jengukin lo, dia bilang katanya dia nggak perlu ke sini!”


“Rafa bilang gitu?” Melani sedikit nggak percaya, masa Rafa sampai se tak acuh itu padanya.


Kevin mengangguk, dia merasakan kecemasan dan kebingungan di wajah Melani,”Nggg…ya udahlah, Mel. Lo kan baru sadar, lo masih harus banyak istirahat! Mendingan nggak usah terlalu banyak pikiran dulu, deh!”


“…” Melani masih kepikiran Rafa.


“Kalau masalah Rafa, mungkin aja dia lagi sibuk jadi belum sempet jenguk lo. Kemaren juga katanya dia ada meeting gitu, sama kliennya. Mungkin aja, urusannya belum selesai. Dia sengaja matiin HP nya biar nggak ada yang ganggu!” Kevin berusaha keras untuk menghibur Melani, padahal dia sendiri tahu kalau memang ada yang aneh dengan Rafa. Rafa sepertinya memang sengaja mau menghindari Melani.


Tapi sampai sekarangpun Kevin juga belum tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Rafa, Kevin belum sempat bertemu dengannya karena dari kemaren dia menjaga Melani di rumah sakit.


Melani tetap diam saja, sepertinya dia sama sekali nggak mendengarkan perkataan Kevin tadi, pikirannya melayang kemana-mana.


“Mel…? Mel, lo beneran nggak apa-apa, kan?”

__ADS_1


Kevin memegang pundak Melani yang otomatis membuat Melani kaget.


“Eh? I-iya, Vin?”


“Lo sedih ya, karena Rafa nggak ke sini?”


“Hah? Sedih? Ya enggaklah. Ngapain juga gue sedih? Kalau dia nggak dateng juga nggak apa-apa. Kan udah ada lo. Ya nggak?” Melani menunjukkan senyumannya untuk menutupi hatinya yang gelisah.


Kevin tersenyum paksa, padahal dia tahu kegelisahan dan ketidakmengertian di hati Melani.


“Eh iya, Vin. Lo beli bunga dimana, nih? Kok bagus banget?” Melani mengalihkan pembicaraan dengan memandangi bunga yang tadi diberikan Kevin.


Kevin hanya memandangi Melani yang sibuk sendiri dengan bunga pemberiannya. Sangat terlihat kalau Melani nggak mau orang lain tahu kalau sekarang dia sedang sedih.


“Dua-tiga hari lagi.”


“Ya, syukur deh. Tapi lama banget? Kenapa nggak besok aja, sih?”


“…”


“Hai, Mel!” Anthony muncul dari balik pintu dengan wajah ceria. Tapi begitu melihat Kevin ada di dalam, keceriaannya sedikit lenyap. Anthony juga membawa rangakaian bunga yang indah untuk Melani.

__ADS_1


“Hai, Thon!” Kevin membalas sapaan Anthony, sementara Melani terlihat malas menerima kedatangan Anthony.


Melihat kedatangan Anthony, Kevin tahu diri, dia tahu Anthony mau bicara hanya dengan Melani saja. Kevin bersiri dan pamitan,”Ngg…sorry, Mel. Kayaknya gue musti ke kampus sekarang, deh. Ntar gue balik lagi ke sini.”


“Nggak usah balik juga nggak apa-apa.” Anthony meradang.


“Iya, Vin,” jawab Melani,”Makasih ya, udah mau datang.”


Kevin mengangguk,”Cepet sembuh, ya!”


“Iya.”


Kevin pergi keluar, sekarang tinggal Melani dan Anthony berduaan di kamar.


“Mel, ini bunga buat lo!” Anthony menyerahkan bunga ke pangkuan Melani, yang di situ juga sudah ada bunga dari Kevin tadi.


Melani menerima bunga itu dengan malas. Dia tahu Anthony datang bermaksud baik untuk menjenguknya, tapi Melani tidak mengharapkan kedatangannya saat ini. Rafa kemana, sih? Kok belum nongol-nongol juga?


“Gimana keadaan lo, Mel?” tanya Anthony.


“Baik!” jawab Melani singkat.

__ADS_1


Anthony tersenyum,”Aduh, syukur banget kalau lo nggak apa-apa. Gue tuh semaleman nggak bisa tidur mikirin lo terus, Mel. Gue takut terjadi apa-apa sama lo…bla bla bla…” Anthony mengoceh sendirian.


TBC


__ADS_2