
“Itu tuh!” Diandra kembali menunjuk ke arah cowok ganteng yang tadi dilihatnya.
Melani melihat ke tempat yang ditunjuk Diandra. Dia melihat seorang cowok lumayan ganteng, imut, dan juga manis sedang duduk sendirian sembari membaca sebuah buku,”Oh…cowok itu!”
Melani baru tahu sedari tadi Diandra terbengong-bengong kayak orang kesambet, cuma gara-gara ngelihatin cowok itu.
“Kok standar banget sih, komentarnya?” Diandra memandang Melani bingung,”Itu cowok ganteng banget lho, Mel. Kok lo biasa-biasa aja reaksinya?”
“Emang gue musti gimana? Musti terbengong-bengong terus mulutnya nganga kayak lo tadi? Ih…nggak mau, deh!”
“Yeee…tapi reaksinya jangan biasa-biasa aja, dong! Ya, kagum atau terpesona gitu!” Diandra langsung protes.
Melani menghela napas,”Iya, iya, oke. Aduhh…tuh cowok ganteng banget, sih? Gue aja sampe klepek-klepek lihat dia. Dia itu mirip banget sama aktor Korea idola gue, Lee Min Ho. Tuh lihat tuh, matanya sipit, kulitnya putih, ganteng, imut, manis kayak gula, tubuhnya bagus, kereeeennnn…” Melani memuji dengan gaya dibuat-buat.
“Lebay, lebay! Nggak usah sampai segitunya, kali."
“Gimana sih, lo? Katanya tadi disuruh terpesona, giliran gue udah terpesona, salah juga?” Melani jadi bingung.
“Iya, tapi yang wajar aja, dong! Nggak usah berlebihan begitu!”
“Iya, iya.” Melani serba salah.
“Ya udah, yuk!” Diandra menggandeng tangan Melani.
“Eh, tunggu, tunggu! Gue mau dibawa kemana, nih?”
“Ke sana itu. Nyamperin cowok itu!” Diandra menarik-narik tangan Melani.
__ADS_1
Melani melotot,”Hah? Nyamperin tuh cowok? Lo gila kali, ya?!”
“Gue nggak gila. Gue 100% normal en waras.”
“Mau ngapain kita ke sana, Di?”
“Gue pengen kenalan sama tuh cowok, makanya lo temenin gue!”
“Hah? Nemenin lo? Nggak mau, nggak mau gue. Gue nggak mau ikut campur!” Melani bermaksud mau pergi tapi Diandra menarik-narik tangannya,”Aduh, Di. Lepasin gue, dong!”
“Mel, lo jangan pergi, dong! Temenin gue buat kenalan sama tuh cowok keren.”
“Lagian lo yang mau kenalan, kenapa gue musti ikut juga, sih? Nggak ah, gue nggak mau!”
“Ayolah, Mel! Please! Gue pengen banget kenalan sama tuh cowok. Emang lo nggak kasihan sama gue, yang terus-terusan patah hati ini? Makanya ayo, temenin gue!” Diandra masih semangat aja narik-narik Melani.
“Ayo, Mel! Cepetan dong, jalannya!” Diandra nggak sabar.
“Iya, iya. Sabar, dong! Lo pikir gue selancar, main cepet-cepet aja?”
Akhirnya dengan sangat terpaksa, Melani mengikuti Diandra nyamperin cowok itu. Begitu sampai, Diandra langsung menyapanya dan berkenalan dengannya. Kalau dilihat-lihat tuh cowok kayaknya sopan banget dan murah senyum. Melani juga sempat berkenalan dengan cowok yang bernama Aldo itu. Sementara Diandra dan Aldo mengobrol untuk pedekate, Melani mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat, iseng-iseng melihat suasana.
Melani kaget ketika pandangannya tertuju pada dua orang cowok yang sedang ngobrol berdua di kejauhan, tepatnya di dekat tangga menuju lantai dua. Melani sangat mengenal wajah dua cowok tersebut. Dia adalah Rafa dan Anthony.
Rafa sama Anthony ngapain tuh? Apa mereka berantem lagi?
Melani melihat Anthony menunjuk-nunjuk wajah Rafa. Kalau cuma sekedar obrolan biasa itu kayaknya nggak mugkin, karena setahu Melani sejak pertama kali bertemu sampai kemaren pun hubungan mereka berdua nggak terlalu baik.
__ADS_1
Melani juga kenal betul bagaimana sifat Anthony yang memang selalu kurang bersahabat itu. Dari situ Melani yakin, pasti sudah terjadi sesuatu di antara mereka, dan Melani nggak bisa membiarkannya begitu saja. Melani melihat Diandra sedang asyik mengobrol dengan Aldo, dan kayaknya nggak apa-apa kalau Melani membiarkan mereka berdua saja. Kelihatannnya Diandra juga bisa cepat akrab dengan Aldo.
Dugaan Melani memang benar. Rafa dan Anthony sedang adu mulut di bawah tangga. Anthony marah-marah sedangkan Rafa seperti biasa bersikap dingin dan tenang, memandang santai Anthony di balik kacamata hitamnya.
“Mau sampai kapan sih lo, terus-terusan ikut campur urusan gue? Lo nggak berhak nyampurin urusan gue sama Melani cuma karena lo itu bosnya Melani!” Anthony marah sekali,”Kalau seandainya lo bukan bosnya Melani, lo itu bukan siapa-siapa, Raf. Sementara gue, gue ini udah kenal lama sama Melani. Jadi lo nggak usah deh, sok-sok jadi pahlawan di depan Melani!”
Rafa tersenyum sinis,”Gue nggak pernah tuh, ngerasa jadi pahlawan buat Melani. Gue cuma berusaha aja ngelindungin dia dari orang kasar macam lo, yang bisanya cuma maksain kehendak ke orang lain.”
“Gue nggak pernah maksain kehendak gue sama siapapun, termasuk ke Melani. Dan gue rasa lo nggak perlu ikut campur sama urusan pribadi gue! Lo urus saja tuh, urusan pribadi lo sendiri!”
Rafa tetap terlihat tenang.
“Gue juga minta sama lo ya, Raf. Bebasin Melani dari perjanjian kerja bodoh itu! Karena gue nggak suka lo deket-deket terus sama dia. Melani itu cuma milik gue, dan sampai kapanpun bakalan tetep jadi milik gue!”
“Milik lo? Emang sejak kapan Melani itu jadi milik lo? Setahu gue, dari dulu lo yang selalu ngejar-ngejar Melani. Lo selalu bilang ke semua orang kalau Melani itu milik lo, dan nggak ada seorangpun cowok yang boleh ngedeketin dia.”
Anthony kaget serta bingung, darimana Rafa tahu tentang semua itu?
“Bahkan, dulu banget…lo pernah tega nyakitin seorang cowok yang kebetulan deket banget sama Melani. Lo siksa dia tiap hari, lo kerjain dia tiap hari. Cuma karena lo nggak suka dia deket sama Melani.”
“…” Anthony semakin berdebar-debar, kenapa arah pembicaraan ini malah membelok ke sana? Dia benar-benar semakin nggak mengerti, siapa sebenarnya cowok yang di depannya itu?
“Kalau emang Melani nggak mau sama lo, ya udahlah! Jangan kejar-kejar dia lagi! Lo lepasin dia, dan biarin dia nentuin pilihannya sendiri!”
“Siapa…siapa lo sebenernya, Raf?” Anthony menatap curiga pada Rafa.
TBC
__ADS_1
“…”