
“Eh, lo bener-bener kurang kerjaan banget, sih? Nyuruh gue dateng malam-malam kayak gini cuma buat bikin nasi goreng? Lo kan punya banyak pelayan di sini, suruh aja mereka yang bikin! Ngapain musti nyuruh-nyuruh gue?” Melani marah-marah karena merasa sudah dipermainkan.
Rafa duduk di sofa dan membuka majalah dengan santai, sepertinya nggak peduli dengan Melani yang marah-marah,”Itu kan tugas lo sebagai asisten pribadi gue. Jadi lo musti nurutin apapun yang gue suruh. Kenapa? Lo nggak bisa bikin nasi goreng?”
“Enak aja!” Melani tersinggung,”Kalau cuma nasi goreng gue juga bisa.”
“Makanya, lo buktiin dong kalau lo bisa! Bikinin gue nasi goreng sekarang juga, terus anterin ke sini! Inget ya, nggak pake lama!”
Melani lagi-lagi hanya bisa mendengus kesal.
“Plus, satu lagi! Awas kalau sampe nggak enak! Lo yang bakal gue makan!” Rafa memandang Melani penuh napsu.
Melani takut dan segera keluar. Rafa tertawa geli melihat ketakutan Melani.
Beberapa waktu kemudian…
Melani menyuguhkan sepiring nasi goreng spesial dan segelas air putih di depan Rafa. Rafa menutup majalah yang dibacanya, dan gantian mengamati nasi goreng buatan Melani.
“Kok minumnya cuma air putih?”
“Udahlah, nggak usah pake protes segala! Katanya lo minta yang cepet-cepet, ya udah air putih aja minumnya. Masih untung tadi nggak gue gorengin beras mentah. Emang lo mau kalau makan beras mentah digoreng?”
__ADS_1
“Enak aja! Lo pikir gue ayam apa, suruh makan beras mentah? Lagian lo juga kurang kerjaan banget, pake mau goreng beras mentah segala.”
Melani kesabarannya sudah habis menghadapi Rafa,”Ya ampun, lo tuh nyebelin banget, sih? Ya udah, cepetan makan! Gue mau pulang sekarang!” Melani berbalik.
“Siapa yang nyuruh lo pulang?”
Melani kembali memandang Rafa,”Apa???”
“Suapin gue!”
Melani melotot,”Hah??? Nyuapin lo??? Lo gila, ya???”
“Enggak.”
“Tugas.” Rafa menjawab santai,”Ini bagian dari tugas lo sebagai asisten pribadi gue.”
“Iya, gue ini asisten pribadi. Bukan baby sitter lo.”
“Jadi lo maunya jadi baby sitter gue?”
“Ih…enggak. Nggak mau!”
__ADS_1
“Ya udah, kalau gitu cepetan duduk terus suapin gue!”
Melani masih tetap berdiri.
“Ayo duduk!”
Melani dengan amat sangat terpaksa, duduk dan mulai menyuapi Rafa. Seumur-umur baru kali ini Melani dikerjain habis-habisan sama orang. Kalau bukan karena Rafa bosnya, pasti Melani sudah balik ngerjain dia, kalau perlu yang lebih parah sampai berlipat-lipat ganda. Tapi apa boleh buat, deh. Melani nggak bisa membalas semua perlakuan Rafa padanya, karena nasib keluarganya dipertaruhkan.
Meskipun Melani sering marah-marah dan keberatan dengan tugas-tugas nggak penting yang diberikan Rafa padanya, nggak tahu kenapa di dalam hantinya dia merasa senang.
Setelah acara menyuapi Rafa selesai, Melani masih belum diperbolehkan pulang oleh Rafa. Rafa melempar sebuah novel tebal dengan judul Harry Potter And The Deathly Hallows pada Melani.
“Nih, bacain tuh novel!” Rafa membaringkan tubuhnya ke tempat tidur.
“Apa??? Bacain???” Melani membelalak melihat novel tebal yang dipegangnya, terus disuruh bacain pula.
“Iya.”
“Kenapa musti gue yang ngebacain? Lo kan bisa baca sendiri? Lo baca aja sendiri!”
“Tugas.”
__ADS_1
TBC