
Wajah Anthony memerah, marah.
“Tuan Anthony yang terhormat, silahkan ambil kembali cek ini!” Rafa memasukkan cek ke saku baju Anthony,”Gue rasa, Melani nggak ngebutuhin uang dari lo.”
Melani terus berada di belakang Rafa, dia juga merasa bingung kenapa Rafa selalu tahu apa yang ada di dalam pikirannya. Bahkan pada saat bicara dengan Anthony seperti sekarang ini, Rafa seperti mewakilinya untuk bicara tanpa bertanya dulu apa yang ingin Melani katakan.
“Melani udah tanda tangan kontrak kerja sama gue. Dan perjanjian itu nggak bisa dibatalkan begitu saja kalau bukan gue sendiri yang ngebatalin.”
Anthony terdiam, marah sekali.
“Gue bosnya Melani, dan gue yang berhak nentuin dia berhenti kerja atau enggak. Sudah jelas kan, sekarang! Dan gue harap lo berhenti gangguin asisten gue kalau nggak mau berurusan sama gue!”
“Nggak! Gue nggak akan ngelepasin Melani gitu aja. Selama ini kalau keluarga Melani kesusahan, gue yang selalu bantuin mereka, dan sekarangpun gue juga yang berhak buat bantu dia!”
“Oh…jadi gitu!” Rafa pura-pura terkejut,”Jadi lo nggak rela kalau gue yang bantuin Melani? Kalau lo mempermasalahkan semua yang udah lo kasih buat Melani dan keluarganya, oke. Oke gue akan ganti semuanya. Berapa semuanya? Bilang ke gue!” Rafa menantang.
Melani memegang tangan Rafa, tampak keberatan,”Raf…”
Namun Rafa nggak merespon Melani, dia tetap pada sikapnya semula untuk menantang Anthony,”Jadi berapa? Berapa biaya yang udah lo keluarin buat keluarganya Melani? Kalau lo minta ganti, oke gue akan ganti semuanya!”
“Raf, please! Udah, nggak usah diladenin!” bujuk Melani dengan suara pelan,”Rafa, please!” Melani memohon. Mengingat masalahnya sudah serumit ini, Melani nggak mau Rafa terlalu jauh terlibat dengan masalahnya.
__ADS_1
Anthony pergi setelah menatap tajam ke arah Rafa. Dia pergi melewati kerumunan orang yang tadi menonton perdebatan mereka. Diandra merasa sedikit lega, akhirnya ketegangan ini berakhir juga.
Rafa menggandeng Melani mengajaknya pergi dari kerumunan orang. Cyntia merasa nggak nyaman melihat Rafa pergi dengan Melani, padahal Cyntia juga ada di situ. Tapi kenapa Rafa sama sekali nggak meliriknya? Cyntia pun menyusul Rafa dan Melani.
“Waduh…perang, nih!” Diandra terlihat panik melihat Cyntia mengikuti Rafa dan Melani,”Wah, gawat!”
Rafa dan Melani bicara di depan mading yang kebetulan tempatnya agak sepi karena semua orang pada berkumpul di depan menonton perdebatan hebat Anthony vs Rafa.
“Raf, makasih ya udah bantuin gue!” ujar Melani.
“Iya, sama-sama. Sebagai bos yang bertanggungjawab atas keselamatan asisten gue, gue wajib bantuin lo. Jadi lo nggak usah ke ge-er an gitu cuma karena tadi lo gue bantuin!” Rafa judes.
“Ya, gue sih cuma antisipasi aja. Jangan sampe lo ke ge-er an gara-gara gue belain di depan Anthony.”
“Yeee…lagian gue juga nggak minta lo buat lo bantuin kok, tadi!”
Cyntia sampai di tempat Rafa dan Melani.
“Oh gitu, ya! Oke kalau gitu. Lain kali kalau lo ada masalah lagi sama Anthony, jangan harap gue bakalan bantuin lo!”
“Eh, jangan gitu dong, Raf!” Melani memegang tangan Rafa. Cyntia sedikit jealous.”Jangan gitu, ya! Please! Masa gitu aja udah ngambek?”
__ADS_1
Rafa melengos, saat itu mereka belum menyadari keberadaan Cyntia.
“Jangan ngambek dong, Bos! Iya, iya gue minta maaf.”
“Hm.”
Melani senang,”Makasih, Bos.”
“Ngg…Raf?” panggil Cyntia.
Rafa dan Melani menoleh. Melihat Cyntia, Melani cepat-cepat melepaskan tangan Rafa.
“Eh…Cy-Cyntia?” Melani gugup.
Cyntia mendekati Rafa,”Raf, kita pergi yuk!”
Rafa pergi dengan Cyntia. Melani tertinggal sendirian. Nggak lama kemudian, Diandra datang dengan tergopoh-gopoh.
“Mel, Mel, gimana keadaan lo? Lo baik-baik aja, kan!” Diandra tampak cemas.
TBC
__ADS_1