
Cyntia memandangi HP nya. Dari semalam dia mencoba untuk menghubungi Rafa, tapi Rafa masih saja belum bersedia untuk menerima telepon darinya. Cyntia berpikir Rafa masih marah padanya. Sebenarnya Rafa bukannya sengaja nggak mau menerima telepon dari Cyntia, tapi memang dari kemaren Rafa masih bermasalah dengan Melani. Namun Cyntia belum tahu tentang masalah itu, sehingga dia berpikir kalau Rafa masih marah padanya. Cyntia sudah bertekad untuk menemui Rafa dan bicara baik-baik dengan dia. Cyntia masih terus berharap, kalau Rafa akan bersedia kembali menjadi pacarnya.
Saat melihat mobil Rafa berhenti di parkiran, wajah Cyntia langsung ceria. Cyntia segera melangkahkan kakinya dengan cepat untuk nyamperin Rafa. Tapi tiba-tiba dia berhenti mendadak melihat Melani lebih dulu mendekati Rafa. Dan sepertinya nggak mungkin juga Cyntia menghampiri Rafa saat dia sedang bersama Melani, Cyntia pun juga belum minta maaf pada Melani tentang kelakuannya tempo hari.
“Pagi, Bos!” sapa Melani dengan wajah cerah seria.
“Kenapa lo, Mel? Pagi-pagi udah cengengesan nggak jelas gitu? Menang lotre lo?” Rafa asal nyeplos.
Melani merengut,”Lotre apaan? Lotre dari permen karet Lotte-Lotte? Itu permen karet kesukaan lo, kan?!”
Rafa tertawa,”Masih inget aja lo, sama permen karet kesukaan gue? Tapi sayangnya, gue sekarang udah nggak suka lagi ngunyah perman karet.”
“Kenapa?” Melani sok-sok pengen tahu.
“Ya, gengsi dong! Masa, orang kaya ngunyah permen karet, sih? Beryl Rafael Pradipta disuruh ngunyah permen karet? Apa kata dunia?” Rafa meradang.
Melani mendorong kepala Rafa,”Huuu…dasar belagu lo, Raf! Dunia nggak bisa ngomong, kali.”
Rafa kembali tertawa.
Cyntia masih saja jealous melihat kedekatan Rafa dan Melani. Meskipun Rafa sudah memutuskan hubungan dengan Cyntia, tapi Cyntia tetap mencintai Rafa dan belum rela melihat Rafa dekat dengan cewek lain selain dirinya.
“Emangnya bener ya, lo udah nggak pernah makan permen karet lagi?” tanya Melani nggak yakin,”Soalnya kan, dulu lo suka banget sama permen karet?”
Rafa menggeleng,”Nggak pernah. Gue aja udah lupa gimana rasanya?”
“Lo mau makan permen karet lagi?”
“Mau. Emangnya lo mau beliin gue permen karet?”
Melani pura-pura berpikir,”Nggg…ya gampang deh, ntar gue beliin.”
“Beneran?”
__ADS_1
“Iya. Nggak percayaan banget sama gue?”
“Ya udah. Nih!” Rafa memberikan setumpuk buku pada Melani,”Bawain buku-buku gue sampai ke kelas, ya!”
“Tetep aja nggak berubah!” Melani menggerutu.
“Kenapa? Lo keberatan gue suruh bawain buku gue?” Rafa kembali jutek.
“Kenapa sih, bukunya nggak lo masukin tas aja?”
“Suka-suka gue, dong! Lo itu masih asisten gue, ya. Dan gue ini sekarang masih jadi bos lo.”
“Iya, iya, tahu. Nggak usah diingetin terus!” Melani manyun,”Terus apa lagi nih yang musti gue bawain? Tas, jaket, sepatu, atau apa gitu? Sekalian aja gue bawain ke kelas lo?”
Rafa tersenyum,”Ngambek, ngambek?”
Melani memanyunkan bibirnya lebih panjang lagi, sebal.
“Jangan ngambek terus, dong! Jadi jelek nih, kalau cemberut terus kayak gitu?” Rafa mencubit hidung Melani.
“Hahaha…!” Rafa tertawa dan berlari meninggalkan Melani, seolah tahu Melani akan ngamuk-ngamuk sama dia.
“Heh, tunggu lo, Raf! Jangan kabur!” Melani berlari mengejar Rafa sambil kerepotan membawa setumpuk buku milik Rafa.
Cyntia semakin jealous melihat Rafa menggoda Melani. Bahkan baru kali ini Cyntia melihat Rafa tertawa lepas seperti itu. Selama ini dia mengenal Rafa sebagai cowok dingin yang mahal sekali dengan namanya senyuman bahkan tertawa. Cyntia pun bahkan bisa menghitung berapa kali Rafa tersenyum dan tertawa selama mereka pacaran. Dan Cyntia juga ingat, bagaimana susahnya membuat Rafa bisa tersenyum.
Sementara saat sedang bersama Melani, Rafa begitu mudahnya bisa tertawa lepas seperti tadi. Cyntia seperti melihat Rafa sebagai orang lain, bukan Rafa yang dikenalnya.
Rafa dan Melani main kejar-kejaran sampai ke dalam. Dan mereka nggak sengaja bertemu dengan Diandra yang sedang jalan bersama Aldo. Rafa berhenti mendadak, Melani menabraknya dari belakang karena belum sempat mengerem larinya. Buku-buku yang dibawanya berhamburan jatuh ke lantai.
“Eh, lo apa-apaan sih, nabrak-nabrak sembarangan? Lo pikir gue tembok apa, main lo tabrak aja?” semprot Rafa.
Melani memunguti buku-buku yang jatuh,”Ya, sorry, Raf. Abis lo tadi berhentinya juga mendadak, sih?”
__ADS_1
Diandra senang melihat Rafa dan Melani sudah kembali seperti dulu,”Wah, wah…kayaknya, ada yang udah baikan, nih? Seneng nih, ye?” ledek Diandra yang hanya diikuti senyuman Aldo.
“Idih…apaan sih lo, Di? Eh, hai Do!” Melani buru-buru menyapa Aldo.
Aldo tersenyum saja.
“Gue ikut seneng deh, Mel. Kalau lo udah bisa baikan lagi sama bos lo ini.” Diandra melirik Rafa yang justru malah melengos,”Lebih enak kalau akur gini kan, daripada diem-dieman kayak kemaren-kemaren.”
“Eh, sekali lagi ngomong gue pukul lo!” Melani mengancam dengan mengangkat sebuah buku tebal ke arah Diandra
“Ampun, Mbak!” Diandra pura-pura takut dan melindungi kepalanya dengan tangannya.
Melani melihat ke arah Aldo yang berdiri di sebelah Diandra,”Do, lo ngapain sama cewek ini?” Melani menunjuk ke Diandra dengan dagunya, menganggap kalau Diandra itu orang yang aneh.
Aldo tertawa,”Ini, Mel. Diandra minta ditemenin sarapan di kantin.”
“Oh…sarapan!” Melani melirik ke Diandra yang justru ikut-ikutan melengos seperti Rafa. Melani tersenyum, rupanya hubungan Diandra dan Aldo sudah semakin ada kemajuan. Melani ikutan senang,”Ya udah, sana! Cepetan anterin Diandra ke kantin! Kasihan, cacing-cacing di perutnya Diandra udah minta dikasih makan, tuh!”
“Ih, apaan sih lo, Mel?” Diandra menyahut.
“Ya udah, Mel. Gue sama Diandra ke kantin dulu, ya?” ujar Aldo.
Melani tersenyum dan manggut-manggut.
“Duluan ya, Raf!” ujar Aldo pada Rafa.
“Ya,” jawab Rafa singkat.
Aldo dan Diandra pergi. Tinggal Rafa dan Melani berdua.
“Udah ayo cepetan bawa tuh buku ke kelas gue! Ngapain juga lo masih di sini?”
“Iya, iya.” Melani melewati Rafa sambil ngedumel panjang-pendek.
__ADS_1
TBC