
Ayah dan Ibu segera menghampiri Rafa. Ayah bahagia karena Rafa sudah menolongnya, sementara Ibu malah terpesona dengan kegantengan yang dimiliki Rafa. Ibu seperti biasa kalau melihat cowok ganteng, langsung mengamatinya dari bawah sampai atas, dari muka sampai belakang.
“Aduh ya ampun. Kamu ganteng sekali!” Ibu terpesona.
“Hush, Ibu ini ngomong apa?” Ayah langsung memprotes Ibu,”Kok kamu-kamu gimana? Ini Pak Rafael, Bu. Dia ini bos Ayah di tempat kerja!” Ayah menjelaskan.
Melani melotot kaget. Tidak menyangka kalau ternyata Rafa itu adalah bos ayahnya. Lebih tepatnya hampir tidak percaya.
Sementara Ibu menjerit kaget plus terkagum-kagum.
“Ya ampun. Jadi Tuan Muda ini adalah bos Ayah? Aduh masih muda sudah menjadi bos di perusahaan besar. Benar-benar bibit unggul."
Ayah manggut-manggut bangga,”Iya.”
“Aduh, terima kasih sekali lho, Pak. Terima kasih sudah membantu kami. Saya nggak tahu apa yang akan terjadi kalau Anda tidak datang?” Ibu menyalami tangan Rafa.
“Iya, Pak. Saya juga mengucapkan terima kasih,” gantian Ayah yang menyalami Rafa,”Anda memang benar-benar dewa penolong keluarga kami.”
“Iya, sama-sama,” jawab Rafa singkat.
__ADS_1
“Saya janji, saya akan mengembalikan semua uang Anda. Saya rela kerja seumur hidup di kantor tanpa dibayar. Karena Anda sudah menolong kami dari rentenir itu. Kalau tadi Anda tidak datang, pasti sekarang ini saya dan istri saya sudah menjadi budak mereka. Sekali lagi terima kasih, Pak.” Ayah benar-benar mengucapkan terima kasih dengan sungguh-sungguh sampai menciumi tangan Rafa.
“Iya, Pak. Sama-sama. Saya hanya sekedar membantu, karena Melani teman saya di kampus.” Rafa berkata sambil melirik ke arah Melani.
Hah? Teman? Sejak kapan mereka berteman? Kenal aja enggak? Bahkan ngobrol aja juga baru kemaren? Pikir Melani.
Ayah dan Ibu kaget,”Apa?” mereka berdua memandang Melani yang justru bersikap biasa-biasa saja.
“Dan kalian tidak perlu mengembalikan uang itu. Saya ikhlas, kok.”
Ayah dan Ibu bahagia sekali mendengarnya. Mereka sampai menangis terharu dan berpelukan,”Ya Tuhan, Anda baik sekali Pak. Saya sekeluarga benar-benar berhutang budi pada Anda.”
“Ibu!” Melani terlihat sangat keberatan.
“Aduh, Melani kamu itu kok nggak mengucapkan terima kasih pada bos ayah kamu ini?" Ibu menegur dan menarik Melani mendekati Rafa,”Ayo cepat! Ucapkan terima kasih pada Pak Rafa!”
Melani cemberut dan melirik ke arah Rafa yang kini sudah kembali memakai kacamata hitamnya. Tuh cowok aneh banget? Memangnya kalau melihat gue tanpa kacamata, bisa bikin matanya sakit gitu? Melani ngedumel dalam hati.
“Mel, kok diem aja? Udah cepetan sana bilang terima kasih!” bujuk Ayah.
__ADS_1
“Makasih.” Melani berkata dengan terpaksa.
“Kok terpaksa gitu, sih? Yang tulus, dong! Gimana kamu ini?”
“Aduh Ibu, banyak aturannya banget, sih? Mel kan udah bilang makasih, ya udah.”
“Tapi, Mel…”
“Nggg…maaf?” Rafa menyela,”Kalau begitu, saya permisi pulang dulu!”
“Oh iya. Anda tidak mau masuk dulu ke dalam? Nanti biar saya buatkan teh hangat? Tapi maaf, rumahnya berantakan.” Ibu ingin mengajak Rafa masuk tapi juga merasa nggak enak dengan kondisi rumah mereka yang mengenaskan itu.
“Tidak, terima kasih, Bu. Tapi lain kali saja. Saya permisi dulu!” Rafa berpamitan.
Ayah dan Ibu manggut-manggut,”Iya, iya. Silahkan,Pak!”
Rafa pergi menuju mobilnya yang terparkir nggak jauh dari halaman rumah Melani. Ayah dan Ibu pun masuk ke dalam rumah untuk membereskan rumah yang berantakan akibat diobrak-abrik sama rentenir tadi.
“RAFA!!!” Melani memanggil Rafa.
__ADS_1
TBC