
Keesokan di kampus, begitu bertemu dengan Cyntia, Rafa langsung menariknya membawanya ke belakang, ke tempat yang agak sepi dari orang-orang untuk bicara empat mata. Cyntia tahu Rafa pasti marah banget atas kejadian tadi malam, tapi Cyntia akan mempunyai seribu satu alasan untuk membela dirinya.
“Raf, aku tahu kamu pasti marah atas kejadian semalem, tapi aku bisa jelasin semuanya. Aku punya alasan yang kuat kok, kenapa aku ngelakuin itu.” Cyntia sudah buru-buru membela diri sebelum Rafa mengatakan apa-apa.
Namun Rafa belum menunjukkan wajah marahnya, melainkan dia hanya bersikap tenang seakan memberi kesempatan pada Cyntia untuk bicara dulu sepuas dia mau.
“Aku sengaja ngelakuin semua itu ke Melani karena aku jealous, Raf. Aku jealous kamu lebih banyak ngehabisin waktu sama dia daripada sama aku, pacar kamu sendiri. Aku nyuruh Melani buat jadi asisten aku, itu semata-mata cuma karena aku pengen dia itu sadar sama posisinya. Dia itu cuma asisten kamu dan nggak lebih.”
“…”
“Aku nggak mau kamu terlalu deket sama dia, Raf. Aku nggak mau kamu ninggalin aku seperti apa yang kamu lakukan ke mantan-mantan kamu dulu.”
“…”
“Raf, kamu ngerti kan perasaan aku? Aku cinta sama kamu.” Cyntia berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan Rafa,”Aku minta maaf, Raf!”
__ADS_1
“Kenapa lo minta maaf sama gue?”
“…”
“Mustinya lo minta maaf sana, sama Melani! Lo mikir nggak sih, sama apa yang lo udah lakuin sama Melani semalem?” Rafa marah-marah,”Lo nyuruh dia malem-malem dateng ke rumah lo? Apa lo nggak mikirin keselamatan dia?”
“…”
“Lo tahu nggak, semalem tuh ada apa sama Melani? Enggak, kan! Melani itu tadi malem hampir diperkosa sama preman-preman jalanan.”
“Kalau aja tadi malem gue nggak keburu dateng, pasti Melani udah diperkosa sama preman-preman itu. Emang lo mau tanggung jawab kalau kejadiannya sampe kayak gitu?”
“Tapi, Raf. Aku sama sekali nggak bermaksud buat nyelakain Melani, dan aku juga nggak nyangka kalau bakal ada kejadian kayak gitu. Bener!"
“Lo kan emang nggak pernah mikirin orang lain. Lo tuh egois, Cyn. Cuma karena lo jealous sama Melani, lo udah perlakuin Melani kayak gitu? Keterlaluan lo, Cyn!”
__ADS_1
“Aku nggak akan ngelakuin itu, kalau Melani nggak terlalu deket sama kamu, Raf. Sebagai pacar kamu, wajar kan kalau aku nggak suka lihat cewek lain deket sama kamu?!”
“Ini nggak ada hubungannya sama Melani. Ini urusan kita dan lo nggak usah deh, sok-sok ngejadiin Melani sebagai kambing hitam atas semua kesalahan lo! Dia itu cuma jadi korban karena keegoisan lo.” Rafa tetap marah, bahkan sekarang dia mulai berteriak pada Cyntia.
Cyntia pun menangis karena Rafa terus nyalahin dia.
“Oke. Gue akuin emang selama ini gue terkesan selalu ngerjain Melani dan ngasih-ngasih tugas yang nggak penting ke dia. Gue selali nyuruh dia dateng kapanpun gue mau tanpa protes apapun. Tapi gue juga mikirin keselamatan dia, Cyn. Gue nggak pernah sengaja mau nyelakain orang kayak yang lo lakuin semalem.”
“…”
“Mustinya lo juga tahu kan, gue bosnya Melani dan Melani itu asisten gue. Asisten pribadi gue. Jadi cuma gue yang berhak buat nyuruh-nyuruh dia, cuma gue yang berhak mecat dia, bukan lo atau siapapun!”
“Maafin aku, Raf!”
TBC
__ADS_1