My CEO My Ex Boyfriend

My CEO My Ex Boyfriend
74


__ADS_3

“Mungkin belum waktunya aja lo ketemu sama cowok itu. Gue yakin, dari sekian banyak cowok di dunia ini pasti ada satu cowok yang jadi jodoh lo. Cuma belum waktunya aja, Di.”


“Dari dulu semua cowok-cowok yang gue suka, selalu aja cuma nganggep gue sebagai temen, dan mereka nggak pernah mau buat jadi pacar gue.” Diandra menangis,”Waktu gue ketemu Rafa di kampus, gue langsung suka sama dia. Tapi gue kecewa, Mel. Selama ini gue tahu, Rafa selalu macarin semua cewek yang dia suka. Tapi kenapa Rafa nggak macarin gue? Kenapa Rafa nggak suka sama gue? Apa gue emang segitu jeleknya di mata Rafa? Gue tahu cowok kaya kayak Rafa emang nggak level pacaran sama cewek kayak gue. Tapi gue kepengen Mel, bisa pacaran sama dia biarpun cuma sehari atau seminggu aja!”


Melani kini baru tahu, kenapa dari dulu Diandra selalu membela Rafa kalau dirinya lagi ngejelek-jelekin tuh cowok. Rupanya Diandra suka sama Rafa.


“Tapi Rafa tetep aja nggak ngelirik gue. Gue sempet cemburu waktu lo bilang Rafa minta lo buat jadi asisten pribadinya dan lo bisa deket sama dia. Gue aja udah kenal lama sama dia, buat bisa ngobrol sama Rafa aja susah banget.”


“…”


“Gue lama-lama sadar, kalau Rafa emang nggak pernah bisa suka sama gue. Apalagi waktu gue denger dari temen-temen, kalau Cyntia diputusin sama Rafa. Cewek secantik dan sesempurna dia aja diputusin sama Rafa, Mel. Dari situ gue semakin sadar, kalau gue emang harus ngelupain Rafa. Rafa itu terlalu sempurna buat gue.”


Diandra menghapus air matanya.


Melani hanya diam, menatap prihatin sahabatnya. Dia mengerti perasaan Diandra.


Diandra berusaha untuk tersenyum,”Nggak apa-apa kok Mel, kalau gue nggak bisa ngedapetin Rafa. Toh selama ini gue juga udah biasa kayak gini. Mungkin lo emang bener, kalau ini belum saatnya gue ketemu sama jodoh gue.”


Melani sedikit lega bisa melihat Diandra terenyum, biarpun hanya senyuman yang dia usahakan untuk menegarkan hatinya.


Diandra merangkul Melani,”Lagipula, Rafa juga bukan satu-satunya cowok ganteng di dunia ini. Di luar sana juga masih banyak cowok ganteng yang lain. Iya, kan?!”


Melani tersenyum, dia bahagia Diandra sudah kembali seperti biasanya.


“Maafin gue ya, Mel. Selama ini gue udah bohongin lo. Gue juga udah sempet jealous sama lo karena lo deket sama Rafa! Maafin gue, ya?” Diandra memeluk Melani.


“Iya, nggak apa-apa. Gue nggak marah, kok.”


“Uh…makasih ya, Mel. Lo emang sahabat terbaik gue!”

__ADS_1


“…”


“Eh iya, Mel.” Diandra melepaskan pelukannya dan menatap Melani,”Emang lo beneran ya, nggak pernah suka sama Rafa?”


“Buat apa gue suka sama dia?” tanya Melani yang sebenarnya entah kenapa jantungnya tiba-tiba berdebar-debar.


“Tuh kan, lo beneran nggak normal!”


“Nggak normal gimana? Gue normal, tahu!”


“Kok lo sama sekali nggak tertarik sama Rafa, sih?” Diandra heran.


“Emang kalau cewek normal itu, harus suka sama Rafa? Enggak, kan?! Lagian, apa lo nggak cemburu kalau misalnya gue emang suka beneran sama Rafa?”


“Nggak usah ngeledek, deh!” Diandra merengut.


***


Melani dan Diandra jalan bareng di kampus sambil ketawa-tawa berdua memandangi sebuah majalah terbaru yang dipegang oleh Diandra. Majalah itu adalah majalah keluaran terbaru yang mengulas tuntas tentang cewek. Diandra yang tadi membelinya dari agen majalah langganannya, lalu menunjukkannya pada Melani.


“Wah…majalahnya bener-bener bagus, Di. Seratus persen mengulas soal cewek. Gue suka sama majalah ini. Lo dapet dari mana sih, Di?”


“Dari agen majalah langganan gue. Katanya sih, majalah baru gitu,” jawab Diandra.


“Boleh juga tuh, bulan depan lo beliin gue majalan kayak gini lagi di agen majalan langganan lo itu. Ntar masalah duit, gampanglah biar gue ganti!” ujar Melani sambil membolak-balik majalah yang entah sejak kapan berada di tangan Melani.


“…”


“Eh, ada zodiaknya juga, nih. Zodiak lo apa, Di? Biar gue bacain!” Melani sibuk membaca zodiaknya sendiri, lalu tertawa sendiri juga.

__ADS_1


“…”


“Ih…nih penulisnya sok-sok an aja nih, nulis zodiak gue. Masa katanya, bentar lagi kamu bakalan ketemu sama seseorang di masa lalu kamu. Ih…sok tahu banget nih orang? Kayak tahu aja, siapa orang di masa lalu gue?” Melani heran.


“…”


“Di, kok lo diem aja sih, diajakin ngomong dari tadi juga? Jawab, dong!” Melani tetap sibuk membolak-balik majalah dan membaca beritanya.


“…”


“Di, lo kenapa, sih?” Melani melihat ke arah Diandra yang malah sedang bengong dengan mulut menganga melihat ke suatu arah,”Lho? Di, lo kenapa? Kok bengong begitu?”


Melani bingung dan meraba-rabakan tangannya ke wajah Diandra, tapi tetap saja Diandra nggak berkedip, seolah nggak mendengar pertanyaan Melani.


“Di, lo kenapa? Lo lagi ngelihatin apaan sih, kok sampai terbengong-bengong begini?” Melani jadi khawatir, jangan-jangan tuh anak kesambet.


Diandra mengguncang-guncangkan tubuh Melani sambil pandangannya tetap nggak beralih dari semula.


“Aduh, apaan sih, Di? Kok gue diguncang-guncang gini?” Melani protes.


“Itu, Mel. Coba lo lihat itu!” Diandra menunjuk ke suatu arah yang dari tadi dilihatnya sampai terbengong-bengong.


“Apaan, sih?”


“Itu ada cowok ganteng.”


“Hah? Cowok ganteng?” Melani heran,”Mana?”


TBC

__ADS_1


__ADS_2