
Dua detik kemudian, ibunya membuka pintu kamar dengan tergesa-gesa,”Mel, Mel, cepetan kamu siap-siap sekarang!”
“Ibu ini kenapa, sih? Siap-siap kemana?” Melani heran dengan kedatangan Ibu yang tiba-tiba.
“Mel, cepetan siap-siap! Udah ditunggu di luar!”
“Ditunggu? Ditunggu siapa?” Melani semakin nggak mengerti. Sementara itu, sambungan telepon masih tersambung dengan Rafa, Rafa bisa mendengar pembicaraan Melani dengan ibunya.
“Ditunggu sopir. Kamu kan harus ke rumah Rafa sekarang.”
“Apa???” Melani kaget, jangan-jangan Rafa sudah menghubungi ayah dan ibunya.
“Ya sudah, cepat ganti baju yang rapi! Ibu mau keluar dulu nemenin Ayah kamu, ya! Sudah cepat!” Ibu menutup pintu.
“Gimana, Mel? Lo nggak punya alasan lagi buat nggak dateng ke rumah gue.” Rafa berkata dengan puas sekali,”Gue juga udah ngirim sopir dan pengawal buat jemput lo.”
Melani mendengus,”Pasti lo mau ngerjain gue lagi, deh!”
__ADS_1
“Udah, nggak usah curigaan terus sama gue! Gue nggak bakalan gigit lo, kok.” Rafa sudah geregetan sama Melani, Heran gue, nih cewek bawaannya curigaan melulu sama gue?
Melani masih merasa malas sekali menuruti perintah Rafa.
“Udah buruan berangkat! Kalau jadi asisten gue, jangan lelet gitu, kek!” Rafa galak.
“Iya, iya. Bawel banget, sih?” Melani mengakhiri pembicaraannya dengan Rafa secara sepihak.
Beberapa menit kemudian, Melani keluar rumah dengan pakaian rapi ala kadarnya. Dia melihat sebuah mobil hitam mengkilap terparkir di depan rumahnya. Di sebelahnya ada dua orang laki-laki berseragam hitam rapi yang mungkin sopir dan pengawal yang tadi dikatakan sama Rafa. Tuh cowok apa emang bener nggak ada kerjaan lain selain bikin gue kesel? pikir Melani.
Ayah dan Ibu juga kelihatannya sok akrab sekali dengan dua orang suruhan Rafa itu. Mereka mengajak dua orang itu ngobrol dan mengatakan hal-hal yang kayaknya nggak penting.
Melihat Melani datang, sopir dan pengawal itu membungkukkan badannya memberi hormat pada Melani. Lalu salah seorang dari mereka membukakan pintu mobil untuk Melani layaknya memperlakukan Melani sebagai majikan yang wajib dihormati.
Melihat Melani diperlakukan seperti majikan, Ayah dan Ibu berseru senang.
“Ayah, ya ampun! Melani cocok sekali ya, jadi majikan!” celoteh Ibu bangga.
__ADS_1
Ayah manggut-manggut,”Iya, Bu. Benar. Anak kita memang calon orang sukses. Ayah yakin, suatu saat nanti dia pasti akan jadi orang besar, Bu.”
“Iya, Yah. Nanti kalau Melani sudah menikah sama pak Rafa, pasti dia juga akan jadi majikan, Yah!”
“Ibu!” Melani menegur,”Ibu ini ngomong apa, sih? Siapa juga yang mau nikah sama dia? Ibu aja sana! Mel sih, nggak mau!”
“Eh, jangan begitu! Ibu yakin kok, kalau Rafa itu jodoh kamu, Mel. Lagipula kalian juga cocok sekali, lho. Kamu cantik, terus Rafa juga ganteng.”
“Ibu udah, deh! Mel males ngebahas ini!” Melani berusaha mengalihkan pembicaraan,”Ya udah, Mel berangkat dulu, ya!”
“Hati-hati, Mel! Titp salam buat Tuan Muda!” ujar Ayah.
Melani masuk ke dalam mobil.
“Kalau malam ini kamu mau nginep di rumah Rafa, Ayah sama Ibu juga nggak keberatan, kok.”
Melani sudah pusing menghadapi kedua orangtuanya yang sangat antusias sekali untuk menjodohkannya dengan Rafa. Lagipula selain nggak minat buat jadi pacarnya Rafa, Melani juga nggak mau pacaran sama pacar orang. Rafa kan udah jadi miliknya Cyntia, kan nggak lucu kalau Rafa punya dua pacar sekaligus. Ih, siapa juga yang mau diduain? Selain itu Melani nggak mau dikira merusak hubungan orang. Di luar sana masih banyak cowok yang lebih ganteng dari Rafa, kenapa juga sih Ayah dan Ibu kayaknya pengen banget Melani bisa jadian sama Rafa?
__ADS_1
TBC