
“Nggg…enggak. Gue…gue suka kok, sama lo, Vin. Suka banget. Tapi…” Melani nggak tahu harus berkata apa, dia sangat takut akan menyakiti Kevin.
“Lo cuma nganggep gue sebagai temen?”
“…”
Kevin tersenyum,”Iya, iya, gue tahu kok. Mungkin ini terlalu mendadak buat lo. Dan gue juga nggak akan maksa lo buat nerima gue, kok. Gue nggak mau terlalu banyak berharap. Yang terpenting buat gue, gue udah ungkapin isi hati gue ke lo. Lo nggak marah, kan?!”
Melani buru-buru menggeleng-gelengkan kepalanya,”Enggak, kok. Gue nggak marah. Kenapa gue harus marah?”
“Ya udah. Kita lupain aja ya, masalah ini! Tadi kan kita ke sini buat santai-sanatai. Jangan biarin semua yang udah gue bilang ke lo tadi, sampai ngerusak suasana yang enak ini!” Kevin menengadahkan kepalanya ke langit biru sambil memejamkan matanya, menikmati udara siang yang segar.
__ADS_1
Melani hanya memandangi Kevin dengan wajah penuh penyesalan, Maafin gue ya, Vin. Gue nggak bisa nerima cinta lo, soalnya gue nggak punya rasa apa-apa sama lo. Lo emang ganteng, baik, nyenengin…tapi gue cuma anggep lo sahabat baik gue. Setelah mendengar cerita lo tentang Rafa dan Cyntia tadi, gue jadi takut. Gue takut kalau sampai lo ngalamin hal yang sama seperti Cyntia. Karena itu, gue nggak akan ngelakuin kesalahan yang sama seperti Rafa. Gue nggak akan ngebiarin lo sakit hati gara-gara gue. Gue yakin, suatu saat nanti lo akan bisa nemuin cewek yang bener-bener bisa mencintai lo sepenuh hati. Dan makasih lo udah mencintai gue. Gue nggak akan lupain sampai kapanpun.
***
Melani terpaku di atas rerumputan hijau. Pandangannya tertuju ke sebuah kolam ikan berarir jernih di depannya, yang di atasnya tumbuh bunga-bunga teratai yang indah. Di sekeliling kolam itu ada pepohonan yang tumbuh subur, dan dia melihat ada sebuah pohon besar yang terletak nggak jauh dari tempatnya berdiri.
Melani merasa familiar banget dengan tempat itu, dia merasa kalau dulu sudah pernah ke tempat itu. Kaki Melani melangkah mendekati sebuah pohon yang paling besar di antara pohon-pohon yang lain. Dia ingat dulu di dalam mimpinya, dia pernah ditembak seorang cowok dan di bawah pohon besar itu ada sebuah meja kecil lengkap dengan makanan dan lilin-lilin yang menyala indah, juga dengan tikar pink dan bunga-bunga mawar putih yang bertaburan di atas tikar tersebut.
Melani yakin, itu adalah tempat yang sama seperti tempat yang didatanginya sekarang ini. Jantungnya tiba-tiba berdebar-debar jika teringat tentang mimpi itu, mimpi saat dia pertama kali datang ke Jakarta, dan lagi sekarang Melani benar-benar nyata ada di tempat romantis itu.
PLUG!! Rafa melemparkan batu kerikil ke tengah kolam. Sebuah gelombang kecil terlihat di atas air kolam dan makin melebar yang akhirnya menghilang. Rafa duduk di atas rerumputan hijau sambil terus melempar kerikil ke tengah kolam. Hari ini Rafa sengaja membawa Melani pergi ke tempat itu untuk menenangkan pikirannya.
__ADS_1
Melani menoleh, dia melihat Rafa masih saja melempar-lempar kerikil ke tengah kolam.
Setelah melihat Rafa, Melani baru benar-benar sadar kalau ini bukan mimpi, Melani sedang tidak bermimpi. Tapi kok bisa dia datang kemari bersama Rafa? Apa mungkin kalau cowok di dalam mimpinya itu Rafa? Hah? Masa sih?
“Eh, ngapain lo melototin gue kayak gitu?”
Melani kaget tiba-tiba mendengar suara Rafa, dia melihat Rafa berjalan ke arahnya.
“Lo ngapain, sih? Bengong aja dari tadi gue perhatiin? Kesurupan setan pohon lo?” Rafa duduk di bawah pohon besar menghadap ke arah kolam.
TBC
__ADS_1