My CEO My Ex Boyfriend

My CEO My Ex Boyfriend
42


__ADS_3

Cyntia malam itu senang sekali mendapat telepon dari Rafa. Wajahnya langsung berbinar-binar melihat nama ‘Rafa’ di layar HP nya.


“Halo, Rafa?”


“Halo, Cyn. Gue mau minta maaf.” Rafa berkata dengan santai sambil rebahan di tempat tidurnya.


Cyntia bahagia sekali, bukan karena Rafa minta maaf, tapi bahagia karena akhirnya Rafa meneleponnya juga. Sebenarnya Rafa nggak perlu minta maaf, Cyntia sudah memaafkannya.”Bukan kamu yang mustinya minta maaf, Raf. Aku kok, yang salah. Aku minta maaf ya, Raf!”


“Oke. Kalau gitu kita saling memaafkan aja, ya!”


Cyntia merebahkan tubuhnya ke tempat tidur dengan tatapan matanya mengarah pada foto Rafa yang ada di pigura,”Iya. Aku seneng kamu udah nggak marah lagi sama aku, Raf. Aku janji deh, nggak akan bikin kamu kesel lagi. Aku minta maaf, ya!”


“Iya, iya. Nggak apa-apa. Lagian gue juga salah kok, marah-marah ke lo tanpa sebab.”


Cyntia tersenyum dan mengelus-elus foto Rafa,”Raf, kamu harus janji ya, kalau kamu nggak akan marah lagi sama aku. Kamu tahu nggak, kemaren semalaman aku tuh nggak bisa tidur gara-gara kamu nggak mau terima telepon dari aku. Aku SMS juga nggak dibales. Aku takut kehilangan kamu, Raf.”


“…”


“Kamu nggak akan ninggalin aku, kan! Kamu akan selalu jadi milik aku, kan!” suara Cyntia terdengar penuh harap di telinga Rafa.


“…”


“Raf? Rafa?” Cyntia heran karena nggak ada suara Rafa di telepon, padahal sambungan telepon belum terputus,”Rafa kamu masih di sana, kan?!”


“Iya.”


“Kok kamu diem aja, sih? Kamu sakit, Raf?” Cyntia cemas.


“Enggak kok, gue nggak apa-apa.” Rafa menjawab datar.


“Nggg…Raf, besok kamu jemput aku, ya. Terus kita ke kampus bareng. Kayaknya udah lama banget kita nggak berangkat sama-sama.”

__ADS_1


“Oke.”


Cyntia senang dan mencium foto Rafa,”Makasih, Sayang. Aku cinta sama kamu.”


“…”


“Raf, ayo dong bilang ke aku kalau kamu juga cinta sama aku!” pinta Cyntia,”Aku pengen denger sekali aja!”


“…”


“Bilang, kalau kamu cinta sama aku!”


“Gue…” Rafa malah terlihat bingung, biarpun Cyntia nggak bisa melihatnya. Entah kenapa rasanya dia sangat sulit untuk mengatakan kalimat itu.


“Ayo, Raf! Aku pengen denger!” bujuk Cyntia.


“Nggak mau.”


“Apa?”


“Ih, Rafa! Rese deh!”


“Hahaha…” Rafa tertawa.


“Jadi beneran nggak mau bilang, nih?”


“Nggak, ah. Kan dulu gue udah pernah bilang, kalau cinta itu nggak harus diungkapkan.”


“Iya, tapi kan aku pengen denger sekali aja, Raf. Aku pengen denger kamu bilang cinta ke aku, biar aku ngerasa lega!” desak Cyntia, sebal.


“Cyntia, cinta itu nggak untuk dikatakan, tapi untuk dirasakan. Kalau lo bilang lo cinta sama gue, lo juga harus bisa ngerasain cinta di hati gue. Kalau lo nggak bisa ngerasain, nggak bisa dibilang cinta, bisa jadi itu cuma ambisi aja!” Rafa berkata seolah-olah menirukan kalimat seseorang yang dulu pernah didengarnya.

__ADS_1


“Uh…so sweet banget sih, kamu! Aku makin hari makin cinta sama kamu, Raf.”


“…”


***


Di kampus, Melani kaget jalannya dihadang sama Anthony. Melani bingung, Anthony kenapa lagi menghadang jalannya? Atau jangan-jangan Anthony mau nembak dia lagi, soalnya tuh cowok suka nggak lihat-lihat sikon kalau mau nembak Melani.


“Ada apa ya, Thon?” Melani bersikap santai.


“Mel, gue mau nanya sesuatu ke lo.”


“Mau nanya apa?”


“Apa bener lo kerja jadi asisten pribadinya Rafa?”


Melani sudah nggak heran lagi kalau Anthony mengetahui tentang itu, karena dia yakin sekarangpun pasti seluruh kampus sudah tahu kalau Melani asisten pribadinya Rafa,”Iya, kenapa?”


“Mel, kita tuh udah kenal lama banget, kan. Mustinya kalau lo butuh apa-apa, lo bilang aja sama gue! Gue pasti bantu lo kok, Mel. Gue nggak akan ngebiarin keluarga lo kesusahan.”


“Thon, sorry. Kali ini gue lagi nggak pengen ngebahas soal ini! Oke?” Melani mau pergi untuk menghindari Anthony, tapi Anthony menghadang jalannya,”Thon, please! Biarin gue pergi! Gue ada kelas pagi ini!” pinta Melani.


“Lo nggak boleh pergi sebelum lo jelasin semuanya ke gue!” Anthony berkata setengah memaksa.


“Jelasin apa?”


“Kenapa lo nggak bilang sama gue kalau lo butuh duit? Kenapa musti cowok itu yang bayarin utang-utang keluarga lo? Gue juga bisa bantu lo Mel, kalau cuma masalah uang.”


“Thon, ini tuh bukan menyangkut soal materi aja, ya! Gue tahu lo kaya, gue tahu lo punya banyak duit. Tapi bukan berarti semua masalah bisa diselesein dengan uang. Dan gue nggak suka lo terlalu ikut campur urusan gue.” Melani kembali bermaksud pergi, tapi lagi-lagi Anthony menghadang jalannya,”Apa lagi?”


“Berapa utang-utang lo yang udah dibayarin sama Rafael?”

__ADS_1


Melani mengernyitkan alisnya,”Maksud lo, Thon?”


TBC


__ADS_2