My CEO My Ex Boyfriend

My CEO My Ex Boyfriend
84


__ADS_3

Rafa membawa Melani ke warung mie ayam pinggir jalan, tempat yang dulu pernah mereka kunjungi. Katanya hari ini Rafa mau mentraktir Melani makan mie ayam sampai puas. Karena kebetulan, bulan ini uang saku Melani menipis, jadi ya dia mau-mau aja ditraktir sama Rafa. Lumayan, bisa buat ngirit uang sakunya. Melani menarik Rafa mendekati bapak penjual mie ayam, untuk memesan mie ayam.


“Pak, mie ayam dua sama es jeruk dua, ya!” Melani berkata pada bapak penjual, ”Buat saya yang biasa aja, terus buat temen saya ini mie-nya setengah mateng, kuahnya dikit, ayamnya nggak usah dikasih, bawang gorengnya yang banyak, sayurannya dikit, kerupuknya yang banyak, ya!”


Melani memesankan makanan untuk Rafa.


Rafa memandang Melani, dia nggak percaya kalau Melani masih ingat dengan jelas tentang kesukaannya makan mie ayam dengan syarat-syarat yang ribet itu.


“Ya udah, jangan lupa ya, Pak!”


“Iya, Neng!”


“Yuk, Raf!” Melani dan Rafa duduk untuk menunggu pesanan mereka datang.


Rafa mengamati suasana warung yang ramai pengunjung. Sebelumnya Rafa juga pernah mengajak Melani makan di situ dan meminta Melani mentraktirnya, untuk mendapatkan maaf darinya. Tapi sekarang Rafa yang menawarkan diri untuk mentraktir Melani.


“Raf, beneran kan, lo mau traktir gue?” tanya Melani.


“Iya. Kenapa? Nggak percaya?”


“Iya, iya, percaya. Gue kan cuma nanya.”


“…”


“Setahu gue, kalau orang ditraktir itu boleh mesen makanan sesuka mereka, kan?!”


“Hm.” Rafa cuek.


“Berarti gue boleh dong, mesen lebih dari semangkuk?” Melani mulai semangat.


“Emang lo mau makan berapa mangkuk, sih?”


“Ya, terserah gue, dong! Tergantung ntar perut gue kenyangnya berapa mangkuk!”


“Dasar rakus lo! Cewek kok makannya banyak banget?” sebuah serbet melayang ke arah Rafa dan tepat mengenai wajahnya,”Eh, apaan sih, lo? Lempar-lempar serbet ke muka orang?”


Melani hanya mencibir.


Nggak lama kemudian, pesanan mereka datang. Melani segera saja menyantap makan siangnya, karena perutnya sudah nggak bisa diajak kompromi.


“Eh, lo kalau makan pelan-pelan, dong! Cewek kok makannya kayak serigala kelaperan gitu?” Rafa heran.

__ADS_1


“Apa boleh buat? Perut udah laper banget, nih.”


Beberapa menit kemudian, Melani memesan lagi semangkuk mie ayam. Lalu kembali menyantapnya dengan lahap.


“Heh, lo yang bener aja dong, Mel. Gue aja nih, semangkuk belum habis, nah elo udah mangkuk yang ketiga? Sebenernya perut lo itu terbuat dari apa, sih? Dari karet?” Rafa terheran-heran.


“Ngeledek, ngeledek?” Melani meneguk es jeruknya dengan cepat,”Ya, mumpung ada yang traktir kan, Raf?”


Rafa jadi teringat, dulu Melani juga selalu makan banyak seperti itu kalau dia sedang mentraktirnya. Sampai sekarang Rafa masih nggak habis pikir, cewek kok makannya banyak banget? Rafa tersenyum dan geleng-geleng kepala.


“Eh iya, Raf…” Melani tiba-tiba teringat sesuatu.


“Apa?”


“Dari dulu gue belum pernah nyobain mie ayam lo yang serba putih tanpa saos en kecap itu?” Melani penasaran dengan mie ayam Rafa.


“Kenapa?”


“Gue boleh nggak, nyobain mie ayam kesukaan lo sekaliiiiii aja?” tanya Melani.


“Buat apa? Lo kan udah punya sendiri, tuh!”


“Tapi gue penasaran sama mie ayam lo, Raf. Namanya mie ayam, tapi nggak ada ayamnya? Putih bersih kayak gitu, tanpa saos atau kecap sedikitpun?” Melani menunjuk mie ayam Rafa yang putih tanpa saos dan kecap.


“Ya, makanya gue boleh nyobain, kan?! Ntar lo juga boleh deh, nyobain mie ayam gue!”


“Nggak mau, ah. Buat apa?”


Melani kecewa,”Ih, kok gitu sih, Raf? Pelit lo!”


Rafa cuek-cuek aja.


“Atau gini aja, Raf?” Melani sepertinya mendapat sebuah ide yang bagus.


“Apa lagi?”


“Gimana kalau lo gue suapin mie punya gue, terus lo nyuapin gue pake mie punya lo? Gimana?” Melani berharap Rafa akan setuju.


Rafa kaget,”Maksud lo? Kita suap-suapan gitu?”


Melani manggut-manggut.

__ADS_1


“Nggak, ah! Nggak mau.”


“Ayo dong, Raf! Emang kenapa, sih?” Melani memaksa.


“Lo nggak malu apa, kalau suap-suapan di tempat umum kayak gini?” Rafa celingukan ke kanan dan ke kiri, melihat banyak orang yang sedang makan.


“Ya biarin ajalah. Toh suap-suapan itu kan nggak melanggar hukum? Buat apa musti malu segala?” Melani tenang.


“…”


“Udah, ayo cepetan suapin gue, terus gue suapin lo!” Melani menyendok mie dari mangkuknya.


“Eh, Mel. Gue jadi heran. Yang bos itu kan gue, kok jadi lo yang merintah-merintah gue, sih?”


“Alaaa…nggak apa-apa. Sekali-sekali nggak ada salahnya kan, kalau bos nuruti kemauan asistennya?!”


“…”


“Udah, ayo cepetan! Suapin gue!”


Dengan terpaksa, Rafa mengikuti kemauan Melani. Mereka berdua suap-suapan di warung, tanpa peduli dengan orang-orang yang ada di situ. Lagian kalau memang ada yang melihat, pasti orang-orang itu akan mengira kalau Rafa dan Melani itu pacaran. Jadi nggak ada yang perlu dikhawatirkan.


Saat sedang menyuapi, mata mereka berdua nggak sengaja bertemu pandang. Melani merasa deg-degan, jantungnya berdebar-debar saat Rafa menatap matanya. Itu memang bukan yang pertama kalinya. Dari dulu setiap Melani menatap mata Rafa atau hanya sekedar dekat dengan Rafa, dia selalu saja merasa begitu. Melani selalu merasa ada getaran di hatinya saat berada di dekat Rafa. Namun yang Melani nggak tahu, apa Rafa juga merasakan hal yang sama seperti dirinya? Tapi jauh di lubuk hatinya, Melani yakin kalau Rafa juga merasakan hal yang sama seperti yang dia rasakan.


***


“Cyntia?” Rafa kaget melihat Cyntia berdiri di depan kelasnya saat dia keluar.


“Raf, aku mau ngomong sesuatu. Bisa nggak, kita keluar bentar aja?” tanya Cyntia penuh harap kalau Rafa akan menerima ajakannya.


Rafa terlihat sedang berpikir, dia tahu hal apa yang ingin Cyntia bicarakan dengannya. Dia tahu, memang mereka butuh tempat yang nyaman daripada kampus.


“Oke!”


Cyntia tersenyum lega,”Makasih, Raf!”


Rafa dan Cyntia pergi berdua.


Di depan, Melani hampir saja nyamperin Rafa saat melihat Rafa keluar. Namun niatnya itu segera saja diurungkannya melihat Rafa dengan Cyntia. Melani berpikir, mungkin mereka mau bicara berdua. Dia pun berusaha untuk tidak terlalu mikirin, dan nggak mau ikut campur urusan Rafa dan Cyntia. Melani tetap memandangi kemana Rafa dan Cyntia berjalan, sampai mereka menghilang dari pandangan.


Melani memutuskan untuk pergi saja. Saat dia membalikkan badannya, dia menabrak Kevin yang kebetulan berjalan ke arahnya. Melani sampai kaget.

__ADS_1


“K-Kevin?”


TBC


__ADS_2