
Melani duduk di pinggiran tempat tidur dan mengecek HP nya. Seperti yang dia duga, ada banyak SMS dan telepon dari Rafa, dan juga ada 2 missed calls dari ibunya yang pastinya tadi menelepon untuk menanyakan keberadaan dia. Dari isi SMSnya, sepertinya Rafa marah banget.
“Kayaknya si Rafa marah banget, deh?” Melani pun segera menelepon Rafa. Tapi berkali-kali dia menelepon, Rafa nggak mau menerima teleponnya,”Si Rafa kemana sih? Apa dia beneran marah sama gue? Tadi aja neleponin gue terus, eh sekarang giliran gue telepon malah nggak diangkat? Nih anak ceritanya mau balas dendam sama gue?” Melani berbicara dengan HP nya.
Melani melempar HP nya ke tempat tidur,”Bodo, ah!” dia menyambar handuk yang ada di gantungan baju belakang pintu kamar, lalu keluar untuk mandi.
Malam harinya…
Melani sibuk membolak-balik buku pelajarannya. Tapi dari tadi duduk di belakang meja belajar, dia sama sekali nggak bisa berkonsentrasi. Nggak tahu kenapa, pikirannya terus saja tertuju pada HP yang ada di atas kasur. Sejak tadi HP itu tenang, tak ada telepon atau SMS masuk.
__ADS_1
Sebenarnya bukan keinginan Melani untuk menunggu telepon dari Rafa, tapi tetap saja Melani terus memikirkan cowok itu.
Sampai-sampai wajah Rafa muncul di buku pelajaran yang sedang dibaca oleh Melani. Melani memukul buku itu, wajah Rafa pun menghilang.
“Aduh…gue kenapa sih, terus-terusan mikirin tuh cowok? Emang dia siapa, sih? Cuma bos yang galak aja, pake gue pikirin segala?” Melani memukul-mukul kepalanya sendiri,”Gara-gara dia, gue jadi nggak bisa belajar, nih.”
Melani kembali mencoba menelepon Rafa. Nyambung, tapi tetep Rafa nggak mau menjawab telepon darinya,”Nih cowok beneran marah ya, sama gue? Masa baru digituin sekali aja udah ngambek sampe kayak gini, sih?” Melani nggak menyerah, dia pun mengirim SMS ke Rafa.
Raf, lo kenapa sih? Marah sama gue? Masa gitu aja marah? Angkat dong teleponnya gue mau ngomong.
__ADS_1
Pesan dibuka oleh Rafa, tapi Rafa nggak punya niat sama sekali untuk membalasnya. Dia melempar HP ke sampingnya. Waktu itu dia sedang sibuk lembur di kantornya memeriksa beberapa berkas penting perusahaan. Saat HP nya kembali berbunyi tanda telepon masuk, Rafa membiarkannya tanpa menyentuhnya sedikitpun. Melani dan Cyntia malam ini sangat sibuk untuk berusaha menelepon Rafa, tapi Rafa tetap nggak mau menjawab telepon mereka.
“Raf, angkat dong telepon aku! Please!” ujar Cyntia penuh harap, yang masih terus berusaha menelepon Rafa, secara bergantian dengan Melani tanpa disengaja. Dan kadang sampai nggak bisa tersambung karena bersamaan dengan Melani.
Melani juga melakukan hal yang sama,”Kok tetep nggak diangkat, sih? Maunya apa sih, dia sebenernya?”
HP Rafa terus berbunyi dengan penelepon yang berbeda secara bergantian. Namun Rafa nggak mau peduli, dia malah menyimpan HP nya ke laci meja dan nggak mau menjawab telepon atau membalas SMS dari siapapun, terutama dari Melani dan Cyntia.
TBC
__ADS_1