My CEO My Ex Boyfriend

My CEO My Ex Boyfriend
23


__ADS_3

“Yang namanya orang kerja itu juga butuh hari libur buat istirahat.”


“Kan gue udah bilang, terserah gue. Gue ini bos, dan lo sebagai asisten wajib mentaati perintah dari bos. Oke?”


Melani mendengus kesal.


“Lanjutin bacanya!”


“Tujuh, semua perjanjian di atas wajib dipatuhi oleh asisten, kalau asisten berani melanggar satu pasal saja, maka gaji akan dipotong dan perjanjian kerja diperpanjang. Delapan, yang berhak menentukan perjanjian kerja ini berakhir atau tidak adalah bos. Kalau asisten memutuskan berenti bekerja dengan sepihak, maka bos berhak menuntut yang bersangkutan sesuai hukum yang berlaku.”


“Gimana? Setuju kan? Pasti setuju dan harus setuju!”


“ENGGAK!”


“Kenapa?”


“Eh, gue tuh kerja sama lo cuma jadi asisten doang ya. Lo sampe segininya ngasih-ngasih syarat ke gue? Emangnya gue anggota TNI yang mau dilantik, apa?” Melani marah-marah.


“Terserah gue. Gue kan bos!” lagi-lagi kalimat itu yang keluar dari mulut Rafa,”Jadi lo musti patuhin semua syaratnya, terus tanda tangan tuh di bawah. Di atas materai!” Rafa memberikan pulpen.

__ADS_1


“Nggak mau.”


“Harus mau!”


“Nggak!”


“Kalau lo nggak mau, lo tahu kan apa yang bisa gue lakuin ke keluarga lo? Gue bisa lebih kejam daripada rentenir itu.”


“Lo ngancem gue lagi?”


Rafa mengangkat kedua bahunya,”Menurut lo?”


Melani sudah kesel banget, dia menghentak-hentakkan kakinya ke bawah dan memukul-mukul buku kamusnya saking kesalnya dengan sikap Rafa.


Dengan terpaksa Melani pun tanda tangan di atas materai, entah kenapa biar sekeras apapun dia berusaha menolak, akhirnya Melani kalah juga dan mau-mau aja disuruh sama Rafa,”Dasar diktator lo!”


Rafa mengambil surat perjanjian yang sudah ditandatangani oleh Melani dengan senyuman puas di wajahnya,”Oke. Sekarang lo udah resmi jadi asisten pribadi gue.”


“Terserah lo!” Melani mengalihkan pandangannya ke tempat lain.

__ADS_1


Rafa sempat melirik sebentar ke tempat Melani, lalu tersenyum puas sudah berhasil membuat Melani dongkol.


***


Rafa dan Melani sampai di kampus. Begitu turun dari mobil, Rafa langsung melempar jaket ke arah Melani dan tepat mengenai wajah Melani.


“Nih, bawa jaket gue!”


“Ih, apaan sih lo? Main lempar-lempar jaket ke muka orang? Emang lo pikir muka gue lemari pakaian, apa?” Melani marah-marah. Rafa kemudian melempar tasnya,”Heh? Apaan sih ini? Nggak sopan tahu, main lempar-lempar barang ke muka orang!”


“Bawa sekalian nih buku-buku gue!” Rafa memberikan setumpuk buku pada Melani,”Bawain sampai ke kelas gue!”


Melani jadi repot membawa setumpuk buku, jaket, serta tas milik Rafa,”Eh, lo kalau ngasih kerjaan kira-kira, dong! Masa gue disuruh bawa buku sebanyak ini?” Melani protes sambil sibuk memunguti buku-buku yang jatuh bergantian karena saking banyaknya.


“Masih untung lo nggak gue suruh buat gendong gue.”


“Enak aja gendong-gendong? Emangnya gue ibu lo suruh gendong-gendong lo?” Melani masih sibuk dengan buku-buku yang masih saja jatuh bergantian.


“Ya udah, kalau gitu nggak usah banyak protes! Cepetan masuk!” Rafa berjalan duluan dengan menahan senyum di bibirnya melihat Melani repot sendiri dengan buku-bukunya.

__ADS_1


“Eh, eh, tunggu, tunggu!” Melani mengejar Rafa,”Jangan main ninggalin gue gitu aja, dong! Lo bantuin bawa beberapa buku, kek! Gue kerepotan nih.”


TBC


__ADS_2