My CEO My Ex Boyfriend

My CEO My Ex Boyfriend
108


__ADS_3

Melani berusaha sekuat tenaga untuk tidak sampai menangis lagi,”Emang lo segitu seriusnya ya, pengen ngejauhin gue? Lo beneran mau ngelupain gue sampai-sampai lo nggak mau ketemu sama gue, nggak mau ngomong sama gue, balikin novel yang dulu pernah gue kesih ke lo, dan sekarang lo juga mau pergi ke Kanada supaya lo nggak bakal ngelihat gue lagi?! Iya?”


“…”


“Raf, lo tega banget sama gue? Kenapa sih, lo seneng banget ninggalin gue dan bikin gue sedih? Emang gue punya salah apa sama lo?”


“…”


“Apa segitu besarnya kesalahan gue, sampai lo nggak mau maafin gue?”


“…”


“Apa menurut lo, gue ini nggak pantes buat deket sama lo? Gue ini cuma orang miskin yang nggak pantes deket sama orang kaya kayak lo.”


“Udahlah, Mel!” Rafa menyela,”Lo nggak bakalan ngerti!”


“Kenapa? Gue nggak ngerti apa? Lo masih nganggep kalau lo pembawa sial buat gue?”


“…”


“Gimana kalau gue bilang, gue rela sial seumur hidup gue asal gue bisa terus sama-sama lo?”


“Mel, lo udah gila, ya?” Rafa buru-buru menyela kalimat Melani,”Buat apa lo ngomong kayak gitu? Gue nggak suka!”


“Emangnya kenapa? Lo sengaja ngejauhin gue karena lo bilang kalau lo itu pembawa sial buat gue, kan?! Gue yakin tahu sebenernya bukan itu kan, alasan yang sebenernya? Gue nggak mau tahu apa yang ada di pikiran lo, tapi oke, kalau emang lo tetep beranggapan kayak gitu, gue ikutin. Gue nggak kerberatan kalau gue musti sial terus asal lo nggak ninggalin gue lagi!”

__ADS_1


“…”


“Raf, apa belum cukup semua kesedihan yang gue rasain karena lo ninggalin gue? Kenapa sih, lo nggak pernah bisa ngertiin perasaan gue, Raf?”


”Justru itu. Kalau gue tetep ada di deket lo, lo akan terus-terusan sedih. Dan gue nggak mau lihat lo terus-terusan sedih, apalagi nangis. Gue paling nggak bisa lihat lo nangis,” ujar Rafa tetap dengan posisi semula, nggak mau memandang Melani.


“…”


“Lo nanya ke gue, kenapa gue nggak pernah ngertiin perasaan lo? Tapi lo sendiri juga nggak pernah ngertiin perasaan gue? Lo pikir gampang, hidup dengan terus dibayangi rasa bersalah?”


“…”


“Setiap kecelakaan yang menimpa lo itu gara-gara gue, dan gue selalu ngerasa bersalah sama lo, Mel!” kali ini Rafa melihat Melani,”Dan lo pikir enak terus-terusan ngerasa bersalah sama orang? Enggak, Mel.”


“Raf, gue kan udah bilang. Kalau kecelakaan-kecelakaan itu bukan gara-gara lo, jadi lo nggak perlu ngerasa bersalah! Kenapa sih, lo tuh nggak ngerti juga?”


Melani sudah nggak tahu lagi harus bagaimana menjelaskan ke Rafa? Rafa tetap saja keras kepala. Padahal Melani yakin, Rafa pun juga pasti tahu kalau semua itu nggak benar.


“Kevin yang terbaik buat lo.”


Melani kaget,”APA??? Kevin??? Kok tiba-tiba ngomongin Kevin, sih? Ini kan nggak ada sangkut pautnya sama dia, Raf?”


“Dia cowok yang baik, lo pasti bahagia kalau sama dia.”


Melani mulai berpikir, jangan-jangan alasan Rafa untuk menjauhinya itu bukan karena masalah pembawa sial, tapi karena Rafa nggak suka melihatnya dekat dengan Kevin,”Apa…apa karena gue deket sama Kevin, makanya lo mau pergi?”

__ADS_1


“Jadi maksud lo, gue cemburu gitu?”


“…”


“Buat apa gue cemburu? Kita kan nggak ada hubungan apa-apa. Gue rasa, gue nggak berhak buat cemburu. Lo mau deket sama siapa aja, itu kan hak lo dan bukan urusan gue.” Rafa mengatakan sesuatu yang sebenarnya sangat bertolak belakang dengan isi hatinya.


Melani sedih, apa benar Rafa sama sekali nggak cemburu dia dekat dengan cowok lain,”Gue nggak ada hubungan apa-apa sama Kevin. Kita cuma temenan aja.”


Rafa lega mendengar jawaban Melani, tapi tetap dia teguh pada pendiriannya untuk melupakan Melani. Mungkin saat ini Melani dan Kevin belum ada hubungan yang spesial, tapi nggak ada yang pernah tahu kapan cinta itu akan datang. Cinta bisa datang kapan saja seiring dengan berjalannya waktu.


“Besok gue berangkat ke Kanada. Ini sudah keputusan gue. Jaga diri lo baik-baik, ya?! Semoga setelah gue balik lagi ke sini lima tahun lagi, lo udah bisa ngelupain gue!” Rafa melangkahkan kakinya yang sebenarnya terasa sangat berat untuk meninggalkan Melani.


“Rafa!” Melani mengejar Rafa dan memeluknya dari belakang. Sekarang dia sudah tidak bisa lagi menahan air matanya yang jatuh.


Rafa tetap diam, membiarkan Melani memeluk tubuhnya. Ingin merasakan pelukan ini untuk terakhir kalinya.


***


Hari ini semalaman Melani nggak bisa tidur, dia kepikiran Rafa terus yang besok mau berangkat ke Kanada. Melani terus berdoa semoga saja Rafa membatalkan keberangkatannya besok. Melani memang sudah pernah ditinggalkan Rafa seperti ini, tapi kali ini terasa lebih berat daripada yang dulu.


Kalau Rafa beneran pergi ke Kanada, Melani nggak mungkin bisa bertemu dengannya lagi kecuali Rafa kembali ke Jakarta. Tapi Melani tahu Rafa tidak akan kembali ke Jakarta begitu dia sudah sampai di Kanada. Dulu saja, waktu pindah ke Jakarta, dia tidak pernah sekalipun kembali ke Jogja untuk menemuinya.


Karena tetap nggak bisa tidur, Melani pun duduk di pinggiran tempat tidur dengan wajah kusutnya. Dia menengok jam bekernya yang bertengger manis di atas meja. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB.


“Ya ampun, udah jam segini? Gue belum bisa tidur juga?” Melani mengacak-aca rambutnya,”Rafa, Rafa…lo udah bikin gue gila! Lama-lama gue bisa masuk rumah sakit jiwa kalau kayak gini terus!”

__ADS_1


TBC


__ADS_2