My CEO My Ex Boyfriend

My CEO My Ex Boyfriend
52


__ADS_3

Rafa terus berjalan santai sambil menikmati udara pantai yang segar, dan membiarkan Melani mengejarnya.


“Raf, lo mau kemana sih, dari tadi jalan terus? Capek nih, gue!” Melani terus nyerocos sendiri yang kini sudah bisa menyejajarkan dirinya dengan Rafa,


“Nggak ada yang nyuruh lo buat ngikutin gue, kan. Lagian kan tadi gue nyuruh lo buat nunggu di mobil aja? Ngapain lo juga ikutan ke sini?” Rafa jutek.


“Yeee…emangnya lo pikir gue sopir lo apa, suruh nunggu mobil? Kan bete, Raf. Kalau emang lo ngajak gue ke sini cuma buat nungguin mobil, kenapa nggak lo izinin gue pulang aja tadi?”


“Terserah gue, dong! Gue kan bos.”


Melani menarik napas, berusaha bersikap sabar untuk menghadapi Rafa. Benar kata Kevin dulu, sekarang Melani sudah mulai terbiasa dengan sifat cuek Rafa.


Rafa duduk di sebuah batu karang besar menghadap ke laut. Melani mengambil posisi duduk di sebelah Rafa, ikutan memandangi laut, siapa tahu ada sesuatu yang bisa digunakan sebagai topik pembicaraan mereka. Namun sudah bermenit-menit mereka saling berdiam diri, Melani sama sekali belum mendapatkan topik pembicaraan. Sampai akhirnya Melani pun teringat sesuatu saat sedang berada di kamar Rafa.


Melani menoleh, dia melihat Rafa tetap nggak melepaskan pandangannya dari laut. Melani sampai heran, apa sih sebenarnya yang dari tadi dilihatin Rafa? Kayaknya di laut nggak ada apa-apa, cuma air aja sejauh mata memandang.


“Nggg…Raf?”


“Hm?”

__ADS_1


“Kayaknya dari semalem gue di rumah lo, kok gue nggak ngelihat foto mama lo, sih? Yang ada cuma foto lo sama papa lo aja? Emang sengaja nggak dipasang atau gue yang nggak lihat?” tanya Melani.


“Mama gue udah nggak ada.”


Melani kaget, dan merasa sangat menyesal menanyakan hal itu pada Rafa,”Ups, sorry. Gue nggak tahu.”


“Nggak apa-apa.”


Melani nggak mau membuat Rafa sedih gara-gara pertanyaannya barusan, dia pun mencari-cari topik lain supaya Rafa nggak sedih. Melani lebih baik melihatnya marah-marah daripada harus melihat Rafa sedih. Melani sudah memutar otaknya dengan keras tapi belum juga menemukan topik lain untuk bahan perbincangannya dengan Rafa.


Karena nggak dapat-dapat ide juga, Melani bermaksud untuk pergi jalan-jalan dulu sambil nyari ide. Tapi saat dia mau turun dari atas batu karang, kakinya terpeleset, tangannya dengan refleks berpegangan pada Rafa, dan karena kaget Rafa ikut jatuh bersama Melani. Tubuh Rafa menubruk tubuh Melani dengan tanpa sengaja.


“Aduuh!” Melani berteriak kesakitan tubuhnya tertindih tubuh Rafa.


“Raf?” dengan susah payah Melani ikutan berdiri dan melihat Rafa kembali memakai kacamata hitamnya.


“Apa-apaan sih, lo? Narik-narik gue sampai jatuh begitu?” Rafa judes, sepertinya untuk menutupi rasa gugupnya setelah kejadian tadi,”Untung aja tadi lo nggak gepeng ketimpa gue?”


“Raf, gue boleh nanya sesuatu nggak?”

__ADS_1


“Lo kalau mau nyari kesempatan jangan kayak gitu dong, caranya! Pake narik-narik gue segala. Udah gitu, sampai jatuh lagi. Lo pikir empuk apa, nubruk lo?” Rafa berusaha mengalihkan pembicaraan supaya Melani tidak bertanya apa-apa padanya.


Ternyata rencana pengalihan pembicaraan Rafa berhasil. Melani langsung sewot dikatain nyari kesempatan,”Eh, apa lo bilang? Nyari kesempatan? Mustinya gue yang bilang gitu. Masa cewek yang nyari kesempatan? Lo tuh yang nyari-nyari kesempatan.”


“Enak aja! Bukannya tadi lo yang narik-narik gue? Kok jadi gue yang dituduh nyari kesempatan?”


“Idih, siapa juga yang narik-narik lo? Jadi cowok ke ge-er an banget, sih?”


“Lha buktinya, tadi lo narik-narik gue? Pasti sengaja kan, biar gue nubruk lo, terus lo nyari-nyari kesempatan biar bisa meluk gue gitu! Iya, kan!”


Melani memandang jijik ke arah Rafa,”Ih…meluk lo? Ogah banget. Ngapain juga gue meluk-meluk lo? Orang tadi gue nggak sengaja jatuh kok. Jadi lo nggak usah ke ge – er an deh!”


“Kalau jatuh ya jatuh aja! Nggak usah pake narik-narik gue, dong! Apalagi sampe gue jatuh? Emang lo pikir nggak sakit, apa!”


“Eh, mustinya yang lebih sakit itu gue. Kan gue yang dibawah.”


“Jadi lo maunya, lo yang di atas gitu?” Rafa malah sengaja ngisengin Melani supaya Melani tambah marah.


“RAFAAA….!!!” Melani mau menyerang Rafa, tapi Rafa keburu kabur,”Eh, tunggu! Jangan lari lo, Raf!”

__ADS_1


Mereka berdua akhirnya bermain lari-larian berdua sambil tertawa bersama. Perdebatan tadi telah terlupakan, begitu Melani mendorong Rafa ke arah ombak datang sampai tubuhnya basah kuyup. Rafa nggak mau basah sendiri, dia menarik Melani ke arah ombak datang. Tubuh mereka berdua basah kuyup. Akhirnya daripada mubazir, Melani dan Rafa main air sekalian. Nggak peduli dengan sinar matahari yang menyengat kulit.


TBC


__ADS_2