My CEO My Ex Boyfriend

My CEO My Ex Boyfriend
98


__ADS_3

Kevin tetep tertidur lelap.


Melani turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju jendela. Karena suntuk terus-terusan di kamar, Melani ingin melihat keluar mencari hiburan. Melani sedikit mendapatkan suasana baru dengan melihat berbagai aktivitas orang-orang di rumah sakit. Dari kamarnya yang berada di lantai 2, Melani bisa dengan mudah melihat orang-orang yang berlalu lalang di halaman.


Area parkir yang penuh dengan kendaraan-kendaraan para pengunjung, serta kesibukan tukang parkir untuk memberi aba-aba pada kendaraan yang mau parkir ataupun keluar.


Tanpa sadar Melani melihat sebuah mobil terparkir di antara berpuluh-puluh mobil mewah di area parkir. Sebuah mobil mewah berwarna merah dengan atap terbuka yang sangat dia kenali siapa pemiliknya. Itu adalah mobil Rafa. Melani yakin sekali itu mobil milik Rafa, karena dia sudah berkali-kali naik mobil itu.


Hah? Itu mobil Rafa? Berarti Rafa ada di sini? Rafa ada di rumah sakit ini? Melani panik sendiri. Dia melihat ke sofa.


Kevin masih tertidur pulas.


“Gue musti ketemu sama Rafa hari ini juga!”


Melani mencabut slang infus yang ada di tangannya. Mau cepat mencari Rafa. Karena dia tahu, Rafa nggak akan datang menemuinya kalau Melani nggak mencarinya.”Aow!” secara spontan Melani menjerit kesakitan. Dia kembali menoleh ke Kevin.


Kevin sedikit bergerak dan mengubah posisi tidurnya.


Melani tenang, Kevin nggak sampai terbangun. Melani nggak mau Kevin sampai terbangun, kelihatannya dia lelah sekali. Melani pun keluar kamar dengan langkah pelan, takut mengganggu Kevin tidur. Sampai akhirnya Melani berhasil keluar kamar tanpa diketahui Kevin.


“Gue musti nyari Rafa!” Melani berjalan dengan langkah buru-buru mencari Rafa. Dia menyusuri sepanjang lorong rumah sakit sambil mengedarkan pandangannya ke setiap orang yang dilihatnya, berharap dia bisa menemukan Rafa.

__ADS_1


Belum puas tidak menemukan Rafa di lantai 2, Melani menaiki lift dan turun ke lantai 1. Melani menyusuri koridor rumah sakit sambil nggak berhenti mengamati setiap orang yang ditemuinya. Melani mempercepat langkahnya karena dia merasa berada semakin dekat dengan Rafa.


“Raf, lo dimana, sih? Gue yakin lo ada di sini, sekarang.”


Langkah cepat Melani berhenti mendadak melihat seseorang berdiri membelakanginya jauh di depannya. Sepertinya orang itu sudah lama berada di situ dan tahu kalau Melani akan datang mencarinya. Rafa berdiri di depan Melani dengan posisi tetap membelakanginya, biarpun dia sebenarnya tahu Melani di belakangnya.


Melani kali ini yakin kalau orang yang dilihatnya itu benar-benar Rafa, bukan cuma mirip bagian belakangnya saja seperti kemaren. Melani senang bisa menemukan Rafa juga.


“Rafa!” panggil Melani.


Rafa membalikkan badannya dan sekarang ini dia sudah berhadapan dengan Melani. Rafa merasa lega akhirnya bisa dengan langsung melihat kalau keadaan Melani baik-baik saja.


Melani mendekati Rafa dengan senyuman bahagianya. Dia bahagia bisa bertemu dengan Rafa,”Raf, gue seneng banget akhirnya bisa ketemu sama lo. Lo kemana aja sih, Raf?”


“Kenapa lo nggak jengukin gue? HP lo juga nggak aktif dari kemaren? Terus, lo juga kan yang kemaren ngirim bunga mawar putih ke buat gue?” tanya Melani.


“…”


“Emang kenapa lo nggak kasih langsung aja ke gue? Lo nggak khawatir sama gue?” Melani bertanya dengan perasaan sedih, tapi dia yakin Rafa nggak mungkin nggak peduli dengannya.


“Sorry. Kemaren gue sibuk banget soalnya!” jawab Rafa datar. Sebenarnya dia amat sangat mengkahawatirkan Melani, bahkan dia jarang bisa tidur karena kepikiran Melani terus. Tapi dia sudah bertekad untuk menjauhi Melani.

__ADS_1


Kedatangannya hari ini pun disengaja untuk menyelesaikan sesuatu dengan Melani.


Melani cemberut, Rafa lebih mentingin hal lain daripada dirinya,”Ya udah, gue maafin. Tapi lain kali jangan kayak gitu lagi, ya?! Masa sebagai bos, nggak ada perhatiannya sedikitpun sama asisten?”


“Justru itu, sekarang gue ke sini.”


Melani mengernyitkan keningnya, bingung,”Maksud lo?”


Rafa mengambil lipatan kertas dari dalam saku celananya. Sebuah kertas yang dilipatnya menjadi empat bagian itu dibuka oleh Rafa dan ditunjukkannya ke Melani. Itu adalah surat perjanjian yang dulu pernah ditandatangani oleh Melani dan juga Rafa. Surat perjanjian bermaterai yang dibuat oleh Rafa.


Melani bingung, kenapa tiba-tiba Rafa menunjukkan surat itu padanya? Padahal dulu Melani berpikir kalau surat itu sudah hilang, karena sudah lama juga Rafa nggak menyinggung soal surat itu,”Surat perjanjian itu buat apaan, Raf?”


Rafa merobek surat perjanjian itu menjadi dua bagian di depan mata Melani. Melani semakin nggak mengerti dan tentunya kaget banget kenapa Rafa merobek perjanjian itu? Lalu Melani juga melihat Rafa merobek lagi surat itu menjadi empat bagian.


“Raf, lo…”


Rafa merobek surat itu menjadi delapan bagian, kemudian merobeknya lagi sampai enam belas bagian begitu seterusnya, sampai menjadi potongan-potongan kertas yang kecil-kecil. Rafa menjatuhkan kertas-kertas kecil itu dari genggaman tangannya. Kertas-kertas kecil berhamburan dan berserakan di lantai.


Melani sangat terkejut dengan apa yang baru dilakukan Rafa, apalagi melihat potongan-potongan kertas berhamburan di bawah kakinya. Lalu Melani mengalihkan pandangannya ke wajah Rafa. Cowok itu masih tetap terlihat tenang.


“Raf?” Melani memandang Rafa dengan penuh pertanyaan. Seingatnya, hari ini belum tepat tiga bulan sejak perjanjian kerja itu dibuat. Bukannya surat itu selama ini penting banget buat Rafa, untuk mengatur Melani supaya nggak melanggar perjanjian? Kenapa Rafa malah merobeknya? Apa mungkin Rafa ingin mengakhiri perjanjian itu? Tapi kenapa? Tidak ada satupun pertanyaan yang bisa dijawabnya.

__ADS_1


“Mulai hari ini, perjanjian kita selesai.”


TBC


__ADS_2