My CEO My Ex Boyfriend

My CEO My Ex Boyfriend
26


__ADS_3

Hari ini Rafa dan Cyntia pergi jalan-jalan ke mal dengan mengajak Melani. Sebenarnya Melani males banget ikut mereka. Mau ngapain? Mau ngelihatin orang pacaran? Tapi Rafa tetap memaksa dan seperti biasa dengan cara bicaranya yang santai mengancam-ngancam Melani tentang perjanjian kerja mereka. Apa boleh buat, perintah bos.


Rafa dan Cyntia jalan berdua dengan bergandengan tangan, sedangkan Melani mengkuti di belakang dengan membawakan tas dan jaket milik Rafa. Melani merasa sudah dijadikan budak oleh Rafa, dia berpikir lebih baik dia jadi budaknya rentenir draipada jadi budaknya Rafa. Bahkan Rafa juga menyuruh Melani membawakan barang-barang belanjaannya dengan Cyntia yang seabrek, sampai Melani kerepotan. Wajahnya aja sampai nggak kelihatan tertutup kantong-kantong belanjaan.


“Raf, apa kamu nggak kelewatan sama Melani? Dia sampai kerepotan begitu?” Cyntia merasa kasihan melihat Melani repot membawa barang-barang belanjaan,”Lagian aku masih bisa bawa sendiri kok, barang-barang aku.”


“Udah nggak apa-apa. Itu kan emang tugas dia sebagai asisten gue. Kalau gue bilang suruh bawain belanjaan, ya dia harus mau dong. Fungsi dia di sini kan emang buat bawain belanjaan kita biar kita nggak kerepotan,” Rafa berkata santai sambil iseng-iseng memperhatikan beberapa boneka yang ada di dalam lemari kaca.


Melani yang ada di belakangnya, sebel banget mendengar apa yang dikatakan Rafa. Untuk yang kesekian kalinya, Melani sangat ingin menendang wajah Rafa yang angkuh dan nyebelin itu.


Cyntia sempat melihat Melani yang sepertinya bete banget disuruh membawa barang-barang sebanyak itu, tapi kalau Rafa sudah berkata begitu, Cyntia nggak bisa berbuat apa-apa.”Raf, kamu lapar nggak?”


Rafa nggak menjawab, dia masih terlihat sibuk mengamati berbagai bentuk boneka yang ada di dalam lemari kaca. Pandangannya tertuju pada sebuah boneka beruang putih besar dengan pita hijau melingkar di leher. Melihat boneka itu, Rafa seperti teringat sesuatu di masa lalunya.

__ADS_1


“Kamu mau beli boneka, Raf?” tanya Cyntia setelah sadar kalau sejak tadi Rafa mengamati lemari boneka itu.


“Ah, enggak. Gue cuma sedikit inget masa kecil aja.”


“Oh…”


Cowok suka mainin boneka? Ih, aneh banget deh? Biasanya kalau cowok itu kan sukanya main mobil-mobilan atau robot-robotan? Ini malah suka main boneka? Abnormal. Melani bergumam dalam hati.


“Oke, deh.” Rafa melihat ke Melani,”Asisten, gue sama Cyntia mau makan siang di kafe. Lo bawa tuh barang-barang ke mobil terus susul gue di kafe! Oke?” Rafa melemparkan kunci mobilnya pada Melani. Dan karena menangkap kunci mobil Rafa, barang-barang yang dibawa Melani terlepas dari pegangan. Jatuh semua,”Eh, yang bener dong, kalau bawa belanjaan!”


“Iya, iya. Bawel banget sih, lo?” semprot Melani sembari sibuk memunguti belanjaan yang berceceran di lantai mal. Rafa diam-diam tersenyum tipis melihatnya.


“Ya udah, sana cepetan masukin ke bagasi mobil terus susul gue sama Cyntia di kafe! Nggak usah banyak protes!” Rafa mengajak Cyntia pergi dan meninggalkan Melani sendirian, kerepotan membawa belanjaan.

__ADS_1


“Dasar cowok nggak punya perikemanusiaan. Udah tahu ke mal buat pacaran, malah ngajak-ngajak gue segala, lagi? Udah gitu, gue ditinggalin sendirian?” Melani ngomel-ngomel sendiri ke arah Rafa dan Cyntia pergi.


Di tempat parkir…


Melani memasukkan barang-barang belanjaan ke bagasi belakang mobil Rafa, nggak ketinggalan tas dan jaket Rafa juga dimasukkan ke sana. Sebodo amatlah tuh cowok mau marah-marah atau apa. Melani bersandar di mobil dan mengusap keringat yang membasahi wajahnya.


“Aduh, capek banget gue! Tuh cowok bener-bener udah nyiksa gue seharian ini. Baru aja sehari gue kerja sama dia, udah menderita kayak gini. Gimana kalau ntar udah sebulan? Pasti bakalan anjlok deh, reputasi gue di kampus gara-gara gue jadi aistennya cowok gila kayak si Rafa itu!” Melani mengomel sendirian,”Udah gitu, sekarang gue malah disuruh balik lagi ke sana? Emang kurang ajar banget tuh cowok?”


Sebuah pemikiran muncul di kepala Melani,”Eh, tapi…buat apa juga gue musti balik lagi ke sana? Mending gue tunggu aja mereka di sini. Daripada ntar gue ke sana, disuruh-suruh, terus cuma ngelihatin orang pacaran? Kan mendingan gue di sini aja.” Melani masuk ke mobil Rafa dan tidur di kursi belakang,”Ah, rasanya enak banget. Bodo amatlah si Rafa mau ngomel-ngomel kayak apa? Gue kan juga butuh istirahat. Dikiranya nggak capek, dari tadi ngikutin mereka muter-muter mal?”


Baru juga lima belas menit Melani memejamkan mata, itupun belum sampai tertidur, tiba-tiba HP nya berbunyi. Melani sampai kaget,”Aduh, ngagetin gue aja, deh? Siapa sih yang telepon? Gangguin orang lagi istirahat aja?” Melani melihat nama ‘Cowok Gila’ di layar HP,”Ya ampun, nih cowok nggak bisa ngebiarin gue tenang sedikit, ya? Halo…?”


TBC

__ADS_1


__ADS_2