My CEO My Ex Boyfriend

My CEO My Ex Boyfriend
35


__ADS_3

“Ayah…Ibu…Mel pulang!” Melani memanggil-manggil ayah dan ibunya begitu masuk ke dalam rumah.


“Ya ampun, Melani. Kamu itu kemana saja, sih?” Ibu langsung menghampiri Melani begitu melihat Melani pulang.


“Mel, Ayah sama Ibu itu cemas banget mikirin kamu,” Ayah ikutan nimbrung.


Melani heran melihat kecemasan di wajah ayah dan ibunya,”Ayah sama Ibu kenapa sih, panik begitu?” Melani duduk di sofa melepas lelah,”Mel nggak kemana-mana, kok. Tadi cuma jalan sama temen. Biasanya juga nggak apa-apa, kan.”


“Kamu jalan sama siapa? Sama cowok mana? Dia anak baik-baik apa enggak? Terus kamu diapain aja sampai-sampai nggak mau terima telepon dari Ayah?”


“Apa? Tadi Ayah telepon?”


“Iya. Terus kenapa kamu nggak mau angkat? Sebenarnya kamu pergi kemana, sih?” desak Ayah.


“Nggak kemana-mana kok, Yah. Cuma ke mal, abis itu makan-makan bentar, terus pulang. Lagian Ayah tumben banget nelepon Mel? Emangnya ada yang penting?” Melani heran, soalnya selama ini Ayah dan Ibu nggak pernah sampai secemas ini kalau Melani pulang malam. Tapi ini kok kayaknya panik gitu?

__ADS_1


“Masalahnya itu, tadi Rafa ke sini, Mel.” ujar Ibu.


Melani terkejut,”Apa??? Rafa ke sini, Bu??? Mau ngapain tuh orang ke sini?”


“Dia nyariin kamu.”


“Nyariin Mel?”


“Iya,” jawab Ayah,”Katanya kamu di SMS nggak mau bales, ditelepon nggak mau angkat, dicariin nggak ada di kampus? Makanya dia ke sini buat nyariin kamu.”


“Memangnya kamu nggak bilang sama Rafa kalau kamu mau pergi?”


Melani menggeleng.


“Aduh Mel, kamu itu gimana, sih? Rafa itu kan sekarang bos kamu. Masa kamu pergi nggak bilang-bilang sama dia? Sampai dia nyariin kamu ke sini. Kurang sopan itu namanya.” ibunya menegur habis-habisan.

__ADS_1


“Mel emang sengaja men-silent HP Mel biar si Rafa nggak ganggu acara aku hari ini, Bu. Soalnya tuh orang rese banget? Dia itu selalu aja bikin Mel kesel. Selalu neleponin Mel di saat-saat yang nggak seharusnya. Makanya Mel sebel sama dia, Bu.” Melani membela dirinya.


“Tapi, Mel. Itu kan memang tugas kamu sebagai asisten untuk menuruti semua perintah bos kamu,” Ayah ikut-ikutan menegur Melani,”Kamu nggak bisa dong, seenaknya begini! Kamu tahu nggak, Ayah itu malu sama dia. Rafa itu sudah membantu membayar utang-utang keluarga kita pada rentenir, kamu bukannya menghormati dia sebagai bos, malah seenaknya sendiri?”


“Iya, Mel. Tadi saja Rafa kelihatannya cemas banget mikirin kamu,” Ibu menambahkan.


“Hah? Si Rafa cemas?” Melani menunjukkan tampang nggak percaya,”Ah, pasti Ibu mengada-ngada, nih. Nggak mungkin tuh cowok bisa cemas cuma gara-gara Mel. Palingan, dia cuma marah aja gara-gara Mel nggak jawab telepon dari dia.”


“Sudah, sudah! Kamu itu kalau dibilangin orang tua selalu saja ngeles.” Ayah menengahi.


Melani menarik napas,”Iya, Ayah, Ibu. Mel minta maaf. Maafin Mel, ya? Mel nggak bermaksud bikin Ayah sama Ibu marah.”


“Ya sudah, nggak apa-apa,” ujar Ayah yang akhirnya bisa merasa sedikit tenang,”Sekarang lebih baik kamu telepon Rafa dan minta maaf sama dia! Ayah nggak mau sampai kehilangan pekerjaan cuma karena masalah ini.”


Melani pun menurut,”Iya, Ayah. Mel akan minta maaf sama Rafa. Mel ke kamar dulu, ya!”

__ADS_1


TBC


__ADS_2