
Okta telah pergi bersama Felix.
Tapi aku masih penasaran dengan nomor asing yang menelpon ku tadi. Ku amati nomor itu di ponsel ku.
Tiba-tiba ponsel ku berbunyi, dan nomor asing itulah yang menelpon ku lagi.
Angkat gak ya ? ...
Tapi kalau gak di angkat, nanti jiwa penasaran ku meronta-ronta. Terus kalau ku angkat tapi memang orang yang salah sambung, kan males jadi nya.
Hm .. ku angkat aja deh ..
" Halo, siapa ya? "
" Ini Nana kan? "
" Iya betul, kalau kamu siapa? "
" Wah, ternyata bener ya cepet banget lupa'in aku ni. "
Terdengar hela'an nafas putus asa dari seberang sana.
" Siapa sih, kalau gak kasih tau aku tutup aja ya telpon nya. "
" Emang bener kamu itu ya. Selalu aja jutek gitu.
Hahahahahaha (tertawa nya yang seakan puas mengatai ku)
Ini aku Andika. Kamu lagi ngapain sekarang?
Keluar yuk temenin aku cari angin di luar.
Kamu kan suka kalau angin-angin'an gitu, kayak kemarin itu di aula. Kamu nti WA aku ya alamat rumah mu, habis gitu kamu siap-siap biar bisa langsung aku jemput. Bye Na .. "
Tanpa menunggu jawaban dari ku langsung aja menutup telpon nya. Emang dasar cowok aneh.
Kan ya belum tentu aku mau pergi keluar sama dia.
Gue sih egoh sama elu.
Mendingan gue nyantai-nyantai di rumah sambil nyamil kue kering buatan ku dan Okta tadi siang.
5 menit kemudian ..
Drtt .. drtt .. drtt .. drtt ..
Semoga pesan baru di WA ku masuk.
Ku usap layar ponsel untuk melihat pesan baru itu.
Betapa kaget nya aku, ternyata Andika yang WA.
" Kok belum di kirim alamat rumah mu Na?
Lagi gak mau keluar kah sama aku?
Iya deh maaf kalau gitu ya. "
Seteleah membaca nya aku pun tak kunjung lekas membalas WA nya. Karna memang aku tipekal cewek yang cuek. Hari ini aku pun lagi malas keluar-keluar rumah. Sebab hari Sabtu gini kan punya nya sepasang kekasih. Pasti di mana-mana banyak pasangan yang bergandengan tangan lah, makan bareng lah, nongkrong bareng, dan lain nya. Serasa panas diri ku melihat pemandangan seperti itu. Karna memang aku tak pernah tahu bagaimana rasa nya ketika berpacaran. Bagi ku pacaran hanya akan membuang waktu ku dengan percuma. Lebih baik aku pakai waktu ku yang berharga untuk belajar dan mengerjakan soal-soal latihan.
Tapi masalah sekarang di sekolah baru ku ini pelajaran belum di mulai. Jadi aku pun tidak punya kesibukan untuk mengerjakan tugas.
Sedikit bosan sih memang, tapi apa boleh buat ..
Ini waktu nya bagi ku untuk bersantai sejenak sebelum sekolah di mulai dengan mata pelajaran yang menumpuk.
Ponsel ku kembali berbunyi, ternyata Andika yang menelpon. Entah kapan aku sudah menyimpan nomor Andika yang sebelum nya tadi belum ku simpan nomor nya. Mungkin saat setelah dia mengirimi ku pesan WA. Agar aku mudah untuk mengenali nomor nya.
Sehingga itu bukan lagi nomor asing bagi ku.
" Na, kenapa chat ku tadi gak kamu bales?
Apa kamu marah? "
" Hm, maaf Ndika bukan nya aku gak mau bales tapi aku tadi sedang ada telpon dari kakak ku yang sedang kuliah di luar kota. Kan kita jarang ngobrol, jadi sampai lupa buat bales chat mu.
__ADS_1
(cuma ini alasan agar aku gak ketahuan kalau aku memang malas balas chat nya)
Oh ya, kamu tadi mau ajak aku pergi ya?
Maaf Ndika, jangan sore ini ya. Mungkin lain waktu aja, karna nanti sore aku mau bantu ma2 ku bikin kue kering 50 toples pesanan tetangga ku. Gak enak kan kalau aku gak bantuin ma2 ku. "
(entah mengapa bagi ku jawaban ku kali ini benar-benar memberi nya harapan bahwa selanjut nya saat di ajak nya pergi aku pasti mau ikut.
Ya udah lah biarin aja dulu, nanti kalau dia ajak keluar lagi, baru aku pikirin alasan lain buat nolak.
Yang penting sekarang Andika gak nelpon-nelpon aku lagi. Karna aku memang enggan dan gak pernah keluar rumah berdua dengan cowok selain pa2 ku.
Terserah orang mau bilang aku kolot lah, penakut lah, yang penting aku mau jaga image buat diri ku sendiri hingga saat ini.)
" Iya Na gak apa kok. Kalau kamu masih repot, nanti kita sambung via WA aja ya. Karna aku masih ingin ngobrol sama kamu. Walau cuma chat aja.
Bye Nana .. "
dengan segera Andika menutup telpon nya.
Kemudian di sambung nya dengan pesan singkat WA dari nya :
Semangat Nana .. 😁
Yang enak ya nanti bikin kue kering nya, jangan sampai gosong ya. Hahahahaha.
Sesekali bawain aku kue kering juga dong ke sekolah,
supaya bisa tahu seenak apa ku kering buatan mu dan tante 😊
" Iya Ndika, makasih udah nyemangatin aku. "
Balas ku dengan singkat, padat, dan jelas.
Hm, di rumah sendirian berasa sepi.
Gak ada ma2 sama adik-adik ku ..
Aku jadi bosen banget ..
Apa tadi harus nya aku setuju keluar bareng Andika ya?
Biasa nya emang kan aku males keluar sama cowok, kenapa sekarang tiba-tiba aku kepikiran menerima ajakan nya si Andika?
Gak .. gak boleh .. bagaimanapun lebih enak di rumah.
Selang beberapa menit kemudian, aku pun sudah tertidur pulas.
Mungkin karna kecapekan acara pembubaran MoS tadi yang menguras banyak tenaga ku.
------------------------ 💝 --------------------------- 💝 --------------------------
* POV Okta *
" Kita mau ke mana ni Lix? " tanya ku yang seakan memecah keheningan di antara kami berdua di dalam mobil yang sedang melaju ini.
" Ke mana-mana aja yang penting bisa bikin kamu happy Ta. "
jawab Felix dengan senyuman nya yang manis nan menawan
" Beneran ni gak mau kasih tahu Lix? " tegas Okta
Felix pun mengangguk kan kepala nya, karna dia sedang sibuk menyetir.
Ku lihat arah jalan ini semakin lama semakin sepi ..
Ke mana kita akan pergi ya ..
Jalanan yang tadi nya beraspal kini kami melalui jalanan yang berkerikil dan rusak.
Terlihat sebuah papan penunjuk jalan yang sudah tua dan usang menunjukkan arah suatu tempat yang bertuliskan " Panti Asuhan Bakti "
What ??? Panti asuhan ???
Gak mungkin kan kalau kita ini mau ke sana ..
__ADS_1
Ngapain juga mesti ke sana, pasti nanti bakal membosankan.
Aku semakin bingung namun tak berani bertanya lagi pada Felix.
Kita lihat sana nanti tempat tujuan nya, kalau sampai tempat yang membosankan pasti aku langsung minta pulang ke Felix.
Sepanjang perjalanan ini aku semakin berfikir yang tidak-tidak. Aku selalu melamun dan melihat pohon-pohon di sebelah kiri ku. Agar aku tak bosan dengan kesunyian di dalam mobil ini.
Tak lama kemudian mobil Felix pun berhenti di suatu tempat. Rumah ini terlihat cukup besar namun ramai dengan suara anak-anak yang sedang asyik bermain di halaman depan rumah.
Felix pun dengan bergegas membuka pintu mobil untuk ku, seakan memperlakukan layak nya seorang tuan puteri.
Betapa senang nya hati ku saat ini ..
" Ayo masuk Ta. Ini adalah rumah ku. "
kata Felix sambil menunjuk ke arah rumah yang ada di depan kita
" Oke Lix " sahut Okta
Sampai di pintu masuk, aku di kejutkan kembali dengan sesosok wanita setengah baya yang berdiri menyapa kami.
" Hai Felix ayo masuk. Bagaimana kabar mu? "
tanya wanita setengah baya itu
" Felix baik-baik Bu. Kalau kabar Ibu dan anak-anak bagaimana? " terang Felix
" Ibu baik .. Anak-anak di sini juga baik semua Nak Felix. "
Tiba-tiba ada dua anak kecil berlarian ke arah Felix.
Mereka menarik-narik tangan Felix untuk bisa ikut bermain bersama dengan mereka.
Felix pun tak menolak ajakan mereka.
Tak lama kemudian mereka bermain-main layak nya kakak beradik.
Sembari menunggu Felix, ibu tadi memperlihatkan sebuah album foto yang sudah tua namun masih saja rapi dan bersih.
" Perkenalkan, nama saya Ibu Merry. Saya adalah pemilik Panti Asuhan ini. " sapa nya pada ku
" Nama saya Okta. Salam kenal Bu Merry. "
jawab ku dengan sopan
" Hm .. (helaan nafas yang panjang) ini adalah album foto Nak Felix dari bayi hingga berumur 2 tahun. Sewaktu dulu Ibu menemukan Nak Felix di sebuah kardus sampah di depan rumah Panti ini.
Nak Felix menangis sekencang-kencang nya.
Mungkin karna dia lapar dan ingin di gendong.
Beruntung waktu itu bukan musim hujan.
Kalau sampai musim hujan, mungkin bayi Nak Felix sudah hanyut di bawa air hujan. "
Ku amati foto-foto masa kecil Felix, ternyata sedari kecil pun diasudah terlihat gagah dan tampan.
Tak heran sekarang pun dia semakin menawan.
Bu Merry menjelaskan pada ku bahwa saat berumur 2 tahun itulah Felix di adopsi oleh keluarga Bapak Richwell. Keluarga yang cukup berada di kota ini.
Kemudian keluarga Bapak Richwell inilah yang membantu memperbaiki rumah ini dan menjadi donatur tetap panti ini.
Setelah selesai berbincang dengan Ibu Merry, beliau mengajak ku berkeliling di dalam Panti Asuhan ini.
Tanpa sadar aku tengah asyik menggendong dan membantu memberi dot susu pada bayi-bayi mungil di Panti Asuhan ini.
Tak ku sangka, bahwa berada di Panti Asuhan ini tidak membosankan seperti yang ku kira.
Justru aku dapat belajar dari mereka bahwa aku harus bersyukur dengan kehidupan ku saat ini.
Hidup dengan memiliki kedua orangtua yang masih lengkap dan menyayangi ku.
Jangan lupa like dan comment ya semua nya 😉
__ADS_1
Supaya author nya lebih semangat bikin cerita-cerita menarik selanjutnya 😍
Terima kasih 😇