
Pagi ini adalah hari MoS terakhir ku.
Tema MoS hari ini adalah pengenalan lingkungan sekolah.
Antara penasaran dan minder bercampur aduk jadi satu.
Seperti biasa, Okta selalu setia menjemputku untuk berangkat sekolah sama-sama. Yang tak lupa Okta juga sarapan terlebih dahulu di rumahku.
Saat sampai di sekolah kita melihat suatu pengumuman di mading sekolah tentang pembagian grup untuk acara pengenalan lingkungan sekolah. Grup-grup ini di buat untuk memudahkan kami bergantian berkeliling-keliling. Agar tidak terkesan sembrono dan rapi.
Tetapi aku sedikit kecewa, karna ku lihat nama ku dan Okta tidak ada dalam satu grup. Kita berada di lain grup. Kemudian ku liat daftar nama grup Okta, ternyata Felix lagi-lagi beruntung karna satu grup dengan Okta.
Hais, kenapa denganku ini. Mengapa aku selalu saja iri dengan si Felix itu. Ya sudah lah, akhirnya akupun tak mau meneruskan melihat daftar anggota grup ku.
Karna di grup ku sudah tidak tertulis nama Okta.
Tak lama kemudian bel berbunyi menandakan kami harus segera berkumpul di aula sesuai dengan grup kami masing-masing.
Meski dengan berat hati aku pun berpisah dari Okta.
" Hai Na, sedang ngelamunin apa'an ni? Kok sampai cemberut gitu sih? " sapa Andika
" Oh, hai. Kamu Andika kan?
Hm, gak lama ngelamun kok.
Wah, kita sekelompok ya? " tanya ku canggung
" Iya kita sekelompok. Kamu gak baca pengumuman yang di tempel di mading kah tadi? Atau karna kamu kecewa sekelompok sama aku jadi ngelamun gitu ya? " sahut Andika
" Eng .. eng .. enggak kok. Aku malah seneng bisa sekelompok sama kamu. Karna orang yang aku kenal semua nya gak sekelompok sama aku. "
" Wah, jadi tersanjung nih aku. "
jawab Andika sembari tersenyum ke arahku
" Hais, apa'an sih kamu. "
sahut ku sambil memukul pundak Andika
" Hai kalian berdua yang ada di belakang sana, sampai kapan mau berdiri di sana dan gak segera ikut kita keliling sekolah ini? " ucap kakak senior yang memimpin kelompok kami.
Dengan muka masih merah aku pun segera mengikuti mereka. Sengaja aku melangkah lebih dulu dari Andika agar Andika tidak melihat muka merah ku ini karna tersipu malu tadi.
Sekolah ini benar-benar membuatku takjub.
Bangunan nya begitu besar dan kokoh.
__ADS_1
Taman dan halaman sekolah nya pun tak kalah cantik dari ruangan-ruangan lainnya di sekolah ini.
Betapa beruntung nya aku bisa masuk ke sekolah ini.
Tekad ku semakin bulat untuk terus bisa berprestasi di sekolah ini, agar beasiswa kuliah pun dapat ku raih di sini.
Akhirnya perjalanan berkeliling kami telah selesai.
Kami kembali berkumpul di aula untuk melanjutkan acara pembubaran MoS hari ini.
Sebelum acara pembubaran, semua siswa/i sibuk mengisi buku perkenalan mereka dengan teman-teman nya yang lain. Sebenar nya aku malas berkeliling meminta mereka mengisi buku ku, karna kaki ku sudah kaku selepas berkeliling sekolah tadi.
Tapi karena kegiatan ini di wajibkan dan harus di isi, jadi aku pun terpaksa ikut berkeliling meminta teman-teman yang tak ku kenal untuk mengisi dan aku pun mengisi buku mereka.
Ada yang dengan senang hati mengisi buku ku, ada juga yang berlagak sombong tak mau mengisi buku ku dengan alasan aku tak terlalu cantik bagi mereka.
Semakin membuat kesal saja.
Akhir nya pun aku putuskan untuk hanya meminta siswi perempuan saja yang mengisi buku ku. Karna mereka tidak mungkin mempersulitku sebagai sesama kaum hawa.
Tak terasa buku ku sudah terisi hampir penuh.
Kini tiba saat nya Bapak Kepala Sekolah sendiri yang turun tangan untuk mengecek buku-buku kami.
Yang memenuhi syarat langsung di berikan sertifikat kelulusan MoS, yang tidak dapat sertifikat terpaksa harus mengulang MoS tahun depan.
Lelah ini sudah terbayar lunas saja rasa nya.
Sekarang saat nya kami semua pulang sekolah.
Seperti biasa, aku - Okta - dan Mey berkumpul di halaman parkir sekolah. Kami mulai bercerita tentang pengalaman berkeliling sekolah tadi. Ternyata hanya aku saja yang kagum dan takjub dengan sekolah ini.
Reaksi Okta dan Mey biasa-biasa saja. Mungkin karena mereka sudah terbiasa bersekolah di sekolah elite. Berbeda dengan ku yang baru kali ini masuk di sekolah elite.
Selesai melepas penat dan mengobrol ria, kami pun berpamitan pulang. Mey juga segera masuk ke asrama karna harus menelepon mama nya.
Sesampai nya di rumahku, Okta kali ini tidak langsung pulang. Melainkan ia ingin bermanja-manja di kamar ku, yang walaupun tidak sebesar kamar nya, tapi kamar ku benar-benar bisa membuat nya merasa nyaman.
Kebetulan hari ini mama ku sedang sibuk arisan di rumah tetangga. Jadi mama ku tidak ada di rumah siang ini. Sedangkan adik ku Agnes ikut dengan mama ku.
Adik ku David, sejak pagi tadi sudah berangkat keluar kota dengan keluarga sahabat nya, yaitu Alex.
Karna setiap hari Sabtu sekolah adik ku David libur.
Besok minggu baru lah David pulang ke rumah.
Jadi sekarang tinggal aku dan Okta yang ada di rumah ini. Untung nya tadi sewaktu dalam perjalanan pulang kami mampir makan bakso di tempat langganan kami.
__ADS_1
Karna hari ini mama sibuk arisan jadi tidak sempat untuk memasak makan siang untuk kami.
Selesai ganti baju, tiba-tiba Okta di telpon oleh Felix.
Ku dengar percakapan mereka yang berencana pergi nanti sore. Mungkin mereka ingin malam mingguan berdua'an. Saat asyik menguping pembicaraan Okta dan Felix, ponsel ku tiba-tiba berbunyi. Nampak nomor tak di kenal yang menelpon. Aku jadi malas untuk menjawab nya. Okta yang merasa risih dengan bunyi ponsel ku, langsung menjawab telpon ku. Walaupun dia sendiri pun sedang telpon-telpon'an dengan Felix.
Jadi telinga kanan-kiri Okta ada hp semua, serasa orang sibuk yang sedang menjawab 2 panggilan sekaligus.
" Halo, siapa ini? Ada perlu apa ya? Yang punya ponsel sedang malas menjawab telpon. Kalau tidak ada hal yang penting tolong jangan telpon-telpon lagi. "
bentak Okta dengan perasaan geram.
" Siapa Ta yang telpon tadi? " ledek ku ke Okta
" Kalau kamu mau tau ya tadi kamu aja yang angkat telpon nya. Sekarang nyesel kan gak tau siapa yang telpon. " balas Okta dengan nada menggoda ku
" Kamu ngomong sama siapa Ta? " tanya Felix
" Sama sahabatku si Nana. Emang dia paling males menjawab telpon dengan nomor tak di kenal. "
jawab Okta dengan ceplas-ceplos
Tak terasa sekarang sudah jam 4 sore.
Okta terlihat terburu-buru untuk membersihkan diri dan berdandan. Karna nanti jam 5 sore Okta ada janjian keluar bareng Felix. Karna gak sabar'an Okta sudah siap beberapa menit sebelum jam 5 sore.
Tapi aneh nya Okta minta di jemput Felix di rumah ku, bukan di rumah nya sendiri. Aku jadi heran dan ingin bertanya pada Okta. Lagi-lagi sebelum aku bertanya, Felix sudah sampai di depan rumahku. Memang Okta dan Felix pasangan yang serasi, mereka sama-sama tipekal orang yang tepat waktu.
" Permisi " sapa Felix
" Hai Lix, silahkan masuk. " sahut ku
" Kamu udah siap Ta? Yuk kita berangkat sekarang. "
tanya Felix
" Iya udah kok. Yuk berangkat.
Nana, kita berdua pamit dulu ya.
Kamu hati-hati di rumah ya. "
pinta Okta yang seperti mama ku saja
" Bye Nana " serentak kata Okta dan Felix
" Bye .. hati-hati di jalan ya. "
__ADS_1
kata ku sambil melambaikan tangan ke arah mereka berdua