Pacar Taruhan

Pacar Taruhan
87) Mendadak sakit


__ADS_3

Setelah kepulangan Nana dari luar negeri,


dengan berusaha keras ia mencoba melupakan semua kenangan tentang Andika.


Walau awalnya terasa berat,


namun lambat laun Nana sudah mulai terbiasa dengan menghilangkan setiap jejak Andika di dalam hatinya untuk selama-lamanya.


" Aku tak mau selalu menyimpan kenangan bersama denganmu lagi, Andika ..


Sekarang adalah waktunya bagiku dan untukmu memulai suatu kehidupan yang baru.


Dengan saling melupakan satu sama lain,


maka tidak akan ada pihak-pihak yang tersakiti lagi. "


ucap Nana pada dirinya sendiri


" Kak, jangan melamun terus.


Nanti ote-ote nya gosong dan aku gak bisa makan. "


sentak David yang telah mengagetkan Nana


" Iii .. ii .. iya Vid. Sori ya sori. "


sahutku sambil mematikan kompor


" Sudah matang ya kak ote-ote nya? "


ucap Agnes sambil melihat ke arahku


" Sudah dong Agnes.


Nah ini ote-ote nya, selamat menikmati.


Oh ya, makasih juga untuk David.


Tadi kamu sudah mengingatkan kakak,


kalau tidak pasti ote-ote nya jadi gosong. "


sahutku sambil mengedipkan mata


" Iya kak sama-sama.


Tapi aku perhati'in akhir-akhir ini kakak lebih banyak melamun.


Memangnya ada apa kak? "


tanya David cemas


" Tadi kakak melamun bagaimana bisa adik kakak yang tampan ini bisa memiliki banyak penggemar?


Padahal dia begitu dingin dan cuek. "


ledekku


" Haish, justru karna seperti itu jadi semua cewek pada penasaran sama aku terus sampai terobsesi denganku.


Hahahahahahaha "


ucap David bangga


" Ya .. ya .. terserahlah Vid.


Hahahahahaha "


sahutku dengan tertawa terbahak-bahak


" Kak Nana .. kak David ..


Tolong diam sebentar, aku jadi gak bisa menikmati ote-ote ini dengan tenang. "


pinta Agnes


" Puft .. Hahahahahahahaha "


Aku dan David akhirnya tertawa bersamaan


" Ya sudah, kalian makan ote-ote nya pelan-pelan aja karna masih sedikit panas.


Sekarang kakak tinggal mandi dulu ya. "


pintaku


" Baik kak. "


sahut David dan Agnes bersamaan


Kemudian aku bergegas masuk kamar dan seperti biasa menyiapkan baju ganti untuk kupakai setelah mandi nanti.


Byur .. byur .. byur ..


Ku siram tubuhku dengan air yang dingin ini.


Selang beberapa menit aku telah selesai mandi dan mengerjakan semua tugas sekolahku.


Dan lupa juga belajar untuk ulangan akhir semester besok.


" Hmm .. mm .. tak terasa waktu berlalu dengan begitu cepat.


Sudah mau kenaikan kelas saja sebentar lagi ..


Dan juga pertunanganku dengan kak Steven juga tinggal dua minggu lagi.


Oh ya, gimana kabar kak Steven sekarang ya?


Semenjak kepulangan kami ke kota ini,


dia jarang sekali menghubungiku.


Apakah pekerjaannya sebegitu banyaknya sampai-sampai ia tak punya waktu untuk berada di sampingku? Hah .. (menghela nafas) "


gumamku dalam hati


Saat aku merasa jenuh dengan semua pelajaran sekolah ini,


sesekali ku tengok layar ponselku untuk melihat apakah ada notif pesan masuk dari kak Steven.


Tetapi sama saja, hasilnya nihil.


Ia belum menelepon ataupun mengirimiku pesan singkat.


Kemudian aku melanjutkan kembali belajarku,


sampai akhirnya aku merasa kelelahan dan tertidur di kursi.


Tok .. tok .. tok ..


Terdengar suara ketukan pintu dari depan kamarku.


Namun aku sudah tak punya tenaga untuk bangun lagi karna tubuhku yang sudah merasa kelelahan.


Karna merasa tidak ada respon apapun dari dalam kamar,


maka aku mendengar suara pintu kamarku terbuka.


Siapakah dia???


Ingin ku buka kedua mata ini namun seakan-akan aku sudah tak punya tenaga lagi untuk membangunkan diriku sendiri saat ini.


" Sayang, kenapa kamu tidur di sini? "


ucap papaku dengan memegang keningku


" Ggrrhh .. ggrrhhh .. "


rintihku


" Astaga, badanmu kenapa panas sekali sayang?


Ma .. mama .. cepat ke sini ma. "


teriak papa dengan cemas


" Iya pa, ada apa kok teriak-teriak begitu? "


sahut mama sambil melangkah masuk ke dalam kamarku


" Ini ma, badannya Nana panas.


Tolong mama ambilkan kain sama air hangat ya.


Nanti kita kompres keningnya Nana agar panasnya turun. "


pinta papa sambil merebahkan tubuhku di atas tempat tidur


" Baik pa. Sebentar ya mama ambilkan dulu. "


sahut mama sambil bergegas pergi


Tak lama kemudian mama sudah datang kembali dan segera mengkompres keningku.

__ADS_1


" Ma .. pa .. kak Nana kenapa? "


tanya David cemas


" Kak Nana badannya panas sayang.


Mungkin kakakmu kelelahan dan kurang istirahat. "


terang papaku


" Tapi tadi kak Nana masih bisa membuatkan kami ote-ote pa sebelum papa sama mama datang.


Masa sekarang tiba-tiba badannya kak Nana panas?


Sini coba Agnes periksa ya pa. "


sahut Agnes sambil menempelkan telapak tangannya ke keningku


" Bagaimana sayang?


Sekarang sudah percayakan kalau kakakmu ini benar-benar sakit? "


ucap papa sambil melihat ke arah Agnes


" Iya pa, badannya kak Nana panas.


Kak, ayo cepat sembuh supaya bisa buatkan aku makanan yang enak-enak lagi.


Kalau kak Nana gak sembuh,


nanti aku laporin lho sama kak Steven kalau kakak lagi sakit. "


ucap Agnes


" Ya sudah, sekarang kita semua keluar dulu supaya kak Nana bisa istirahat.


Sekalian mama mau buatin kak Nana bubur. "


ajak mamaku


Kemudian semua orang keluar dari kamarku.


Tetapi aku masih merasa lemas karna suhu panas tubuhku yang tak kunjung turun.


" Apa aku harus memberitahu kak Steven ya kalau aku sedang sakit?


Supaya ia bisa datang kemari dan menemaniku.


Tapi .. sudahlah .. biarkan saja.


Lebih baik aku istirahat saja dulu untuk memulihkan kesehatanku ini. "


gumamku dalam hati


Akhirnya akupun kembali tertidur.


Selang beberapa menit ..


Kriek ..


Pintu kamarku kembali terbuka


" Silahkan masuk nak Steven,


itu Nana nya sedang istirahat di dalam.


Oh ya, sekalian tolong nak Steven suapi Nana bubur ini ya. "


ucap mama


" Iya tante. "


jawab Steven sopan


" Makasih banyak ya nak Steven.


Sekarang tante tinggal dulu,


karna tante mau memasak untuk makan siang. "


pamit mama


Kemudian mama meninggalkanku dan kak Steven di dalam kamar ini.


Tap .. tap .. tap ..


Steven melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar.


Tetapi pintu kamar Nana masih di biarkan terbuka begitu saja.


Setelah itu, ia duduk di samping Nana dan mengganti kompres Nana.


" Hm .. mm ..


Pantas saja sejak tadi pagi aku ingin datang kemari untuk menemuimu,


ternyata kamu sedang sakit seperti sekarang ini.


Tolong maafkan aku ya sayang ..


Yang sudah membuatmu kuatir karna jarang memberimu kabar. "


ucap Steven pelan


Karna mengetahui ada seseorang di sampingku,


dengan sekuat tenaga aku mencoba membuka kedua mataku.


" Kak Steven ??? "


ucapku lemas


" Hai sayang .. "


sapa Steven sambil memegang tangan Nana


" Kenapa kakak ada di sini?


Aku tidak sedang bermimpikan sekarang? "


tanyaku bingung


" Hust .. apa kamu lupa janji kita???


Jangan panggil aku kakak saat hanya ada kita berdua.


Panggil aku dengan sebutan sayang juga ya. (tersenyum)


Hm .. ini benar kok sayang.


Kamu sedang tidak bermimpi.


Sebenarnya sejak tadi pagi aku ingin kemari,


tapi aku masih ada beberapa pekerjaan di kantor.


Jadi tadi aku selesaikan dulu pekerjaanku baru datang kemari.


Ternyata saat aku datang,


om dan tante memberitahuku bahwa kamu sedang sakit.


Jadi tante langsung mengantarkanku untuk menemuimu dan meminta tolong padaku untuk menyuapimu bubur ini.


Ayo sini aku bantu kamu untuk duduk bersandar dan makan bubur ini selagi masih hangat. "


ucap Steven dengan penuh perhatian


Dengan perlahan aku duduk bersandar dan tak lupa kak Steven memberikan bantal di belakang punggungku agar aku merasa nyaman saat duduk.


" Makasih ya sayang, sudah mau mampir kemari. "


sahutku dengan mata berkaca-kaca


" Sama-sama ..


Tapi gak perlu menangis begitu dong ..


Atau jangan-jangan kamu sudah sangat merindukanku ya? "


goda Steven


Tetapi aku hanya diam dan menundukkan kepala di depan kak Steven.


Aku tidak boleh menangis di depannya.


Masa karna ia jarang menghubungiku saja aku sampai mau menangis begini???


Sejak kapan aku jadi cengeng seperti ini?


Slap ..


Dengan cepat kak Steven menarik tanganku dan memelukku.

__ADS_1


" Jangan menangis ya sayang.


Karna saat kamu menangis, hatiku seperti teriris pisau.


Tolong maafkanlah kesalahanku ini..


Mulai hari ini aku janji akan selalu memberimu kabar dan memperhatikanmu.


Cepatlah sembuh ya sayang, aku mencintaimu. "


Muach .. (mencium kening Nana)


Setelah itu kak Steven menyuapiku bubur dan aku menghabiskan dengan lahap.


Tok .. tok .. tok ..


" Apa buburnya sudah di makan sayang?


Kalau sudah ini di minum obat penurun panasnya supaya kamu cepat sembuh. "


ucap mama sambil tersenyum


" Gak mau ah ma, obat itu pahit. "


sahutku sambil menutup mulut dengan kedua tanganku


" Aduh, kenapa anak mama yang satu ini jadi seperti anak kecil begini?


Hm, nak Steven tolong bujuk Nana supaya mau minum obatnya ya.


Tante mau pergi memanggil semua orang untuk makan di ruang makan.


Setelah Nana selesai meminum obatnya,


nak Steven juga turun ya untuk makan siang bersama. "


ucap mama sambil menepuk pundak Steven


" Oke tante. Serahkan saja sama saya.


Nana pasti mau minum obatnya nanti. "


sahut Steven sambil mengedipkan mata ke arahku


" Kalau begitu urusan minum obatnya tante serahkan sama nak Steven ya.


Sekarang tante permisi dulu ya.


pamit mama


Kemudian mama mengambil mangkok bekas buburku tadi dan membawanya pergi.


" Sayang .. obat itu pahit.


Aku gak mau meminumnya !!! "


pintaku


" Tenang saja, aku punya cara agar obat ini terasa manis. "


sahut Steven


" Oh ya? Bagaimana caranya? "


tanyaku penasaran


Kemudian kak Steven memasukkan obat itu ke dalam mulutnya dan menarik daguku.


Slup ..


Dengan cepat kak Steven memasukkan obat itu ke dalam mulutku dengan cara memberikanku ciuman.


Umm .. umm ..


Dengan sekuat tenaga kak Steven mengoper obat itu dengan lidahnya di dalam mulutku.


Karna ciuman kami begitu intens nya,


sehingga akupun menelan obat itu bersama dengan air liurku dan air liur kak Steven.


Melihatku yang sudah kelelahan,


maka ia mengakhiri ciuman kami ini.


" Ini minum air putihnya.


Setelah itu kamu istirahat ya sayang.


Kalau nanti kamu sudah sembuh,


ciumannya bisa kita lanjutkan lagi. "


goda Steven


Glek .. glek ..


Dengan cepat aku menelan air putih ini.


" Jangan berani coba-coba seperti itu lagi ya. "


sahutku sambil cemberut


" Iya .. iya .. maaf sayangku.


Kalau gak pakai cara itu kamu pasti gak bakal mau minum obatnya.


Lagian seharusnya kamu bersyukur,


karna kamulah wanita yang sudah berhasil merebut ciuman pertamaku. "


ucap Steven dengan bangga


" Oh ya???


Aku gak percaya kalau itu adalah ciuman pertamamu .. "


sahutku sinis


" Karna kamu gak percaya,


bagaimana kalau kita melakukannya sekali lagi? "


goda Steven


" Gak mau .. "


sahutku sambil menutup wajahku dengan guling


" Ya sudah, jangan dipikirkan lagi.


Sekarang kamu istriahat ya. "


ucap Steven


" Tapi .. kamu juga yang sudah mengambil ciuman pertamaku tadi .. "


sahutku sambil meletakkan guling di sampingku


" Benarkah???


Bagus itu, bearti aku adalah lelaki yang paling beruntung sedunia. "


ucap Steven bangga


" Sebahagia itukah kamu sayang? "


tanyaku heran


" Tentu saja ..


Tetapi berjanjilah untuk tidak memberikan ciumanmu ini pada lelaki lain.


Karna kamu hanyalah milikku seorang. "


sahut Steven sambil menyentuh bibirku


" Aku janji .. "


ucapku sambil tersenyum


" Ya sudah, sekarang kamu istriahat aja dulu.


Kalau perlu sesuatu, kamu telepon aku ya. "


pinta Steven


Kemudian aku berbaring di atas tempat tidur dan perlahan menutup kedua mataku.


" Cepat sembuh ya sayang ..


Aku mencintaimu .. "


Muach .. (mencium kening Nana)

__ADS_1


Akhirnya kak Steven meninggalkanku seorang diri di dalam kamar.


Dan akupun kembali beristirahat.


__ADS_2