
Tak lama setelah Okta melihat pesan singkat di ponsel nya, ia pun segera tersenyum-senyum sendiri layak nya orang yang sedang di mabuk cinta.
Begitu pula dengan Mey, di ponsel nya pun selalu berbunyi.
Hanya hp ku saja yang tampak sepi seperti kuburan, sesepi nya hati ku saat ini.
" Maaf ya teman-teman, aku harus balik ke asrama duluan ni. Mama ku mau telepon bahas sesuatu yang penting. Nanti kita lanjutin ngobrol nya via WA ya.
Bye Okta .. bye Nana .. "
pamit Mey yang terlihat terburu-buru pergi meninggalakan kita berdua di sini
" Na, kita balik juga yuk. Sekolah udah sepi ni kayak nya. " pinta Okta
Tanpa basa-basi aku pun mengangguk tanda setuju dengan nya.
Saat di dalam mobil Okta, aku pun penasaran dengan Okta yang sedari tadi sibuk melihat notifikasi di ponsel nya yang berbunyi tiada henti.
" Ta, ponsel mu bunyi terus tuh. Gak mau berhenti dulu kah buat menjawab panggilan itu dulu?
Siapa tau itu telpon penting. "
" Hm, gak usah Na. Ini aku anter kamu pulang rumah dulu aja ya, habis gitu aku langsung pulang. Karna si mbok hari ini udah balik ke rumah ku. Nanti gak enak kalau gak ada orang yang bukain pintu si mbok. "
" Oh, oke Ta terserah kamu aja. Tapi beneran kamu gak mau angkat telpon itu dulu? Terus kamu gak nginep di rumah ku lagi dong hari ini? "
" Iya Na sori banget ya. Nti tolong sampai'in maaf ku buat tante yang belum berpamitan karna aku langsung pulang nanti. Tadi sewaktu sebelum masuk mobil, mamaku WA kalau si mbok hari ini udah balik.
Jadi aku pun terburu-buru Na. Nanti sore deh kita telpon-telpon'an ya seperti biasa nya. "
" Iya iya, it's oke. "
Selang beberapa menit, kita pun sudah sampai di rumah ku. Okta yang melambai-lambaikan tangan nya ke arah ku segera ku balas dengan melambaikan tangan ku, seperti aku gak mau berpisah dari nya.
Karna bagi ku Okta adalah sahabat ku yang selalu menemani ku di mana pun. Tapi hari ini Okta terlihat berbeda dari biasa nya.
Ah, mungkin itu hanya khayalan ku saja.
Setelah mobil Okta mulai jauh, aku pun masuk ke dalam rumah. Ku lihat mama yang sedang asyik memasak makanan kesukaan ku, yaitu rica-rica bebek.
__ADS_1
Harum nya sudah tercium sampai ruang tamu, membuat seakan ingin segera menyantap nya.
" Ma, masih belum matang ya rica-rica bebek nya? Kalau belum sini Nana bantuin, barangkali ada yang perlu di tangani. "
" Oy sayang, maaf ya ini belum matang. Mungkin sebentar lagi. Tolong kamu siapin piring-piring di meja makan, supaya nanti adik-adik mu bisa langsung duduk makan setelah mama selesai menyiapkan rica-rica bebek ini. "
" Siap deh ma. "
Tak perlu lama bagi ku untuk menata meja piring-piring dan gelas-gelas di meja makan. Hanya dengan waktu 5 menit semua sudah siap.
" Ma, semua nya sudah siap di meja makan ya.
Nana mau naik dulu ke kamar, mau ganti baju.
Karna Nana udah keringatan ni dari tadi. "
" Iya sayang, makasih ya udah bantuin mama. Oy, nanti sekalian tolong panggil'in adik-adik mu untuk turun makan ya sayang. Makasih sebelum nya. "
" Beres ma. "
Aku pun bergegas masuk ke kamar, tapi karna keringat ku yang sebegitu banyak nya membuat badan ku lengket semua. Akhir nya aku pun mandi. Saat ini berlama-lama di kamar mandi, aku teringat akan masakan mama tadi. Seakan membuat ku tergesa-tesa menyelesaikan mandi ku. Karna aku gak mau kehabisan rica-rica bebek kesukaan ku.
Karna mama sudah menunggu kami di meja makan untuk makan bersama.
" Ma, ayo makan. Aku udah gak sabar ni makan makanan kesukaan ku. "
sahut ku sembari membalikkan piring di depan ku
" Na, tunggu sebentar. Kan kita belum berdoa sama-sama. Kali ini kamu yang pimpin doa ya. "
kata mama ku sambil memberi kode ke adik-adik ku untuk berdoa bersama
Tak lama kemudian kami pun berdoa bersama.
Selesai berdoa, kami mengambil nasi di piring kami masing-masing. Setelah itu giliran mama ku yang membagikan lauk nya untuk kami. Karna kalau tidak di bagi sama mama ku, nanti nya pasti ada yang tidak kebagian karna habis. Dari sini kami di ajari oleh mama supaya tidak menjadi orang yang serakah,
mau berbagi dan sabar menunggu antrian makanan.
Itu lah yang di ajarkan oleh orangtua ku semenjak kecil hingga saat ini. Meskipun keluarga kami tergolong keluarga sederhana, tapi kebersamaan dan kehangatan keluarga kami lebih dari kata 'sederhana'.
__ADS_1
" Nana sayang, apa hari ini kamu bertengkar sama Nak Okta? Kok hari ini nak Okta tidak mampir ke rumah dulu setelah kalian pulang sekolah? Kan biasa nya nak Okta main-main ke sini dulu. "
tanya mama ku dengan kebingungan nya
" Oh iya ma, tadi Nana lupa sampai'in maaf nya Okta ke mama. Hari ini Okta gak bisa mampir karna si mbok balik hari ini ke rumah nya Okta. Jadi Okta takut si mbok nunggu lama di depan rumah. "
jawab ku dengan apa ada nya
" Iya sayang tidak apa-apa. Yang penting kalian rukun ma2 sudah tidak kuatir lagi. Karna nak Okta sudah seperti anak mama juga. "
Setelah selesai membantu mama membersihkan meja makan, aku pun berpamitan untuk naik ke kamar hendak mengistirahatkan diri ku yang mulai lemah, letih, lesu karna MoS tadi.
Ku tengok layar di ponsel ku ternyata belum ada WA dari Okta. Ku coba mengirimkan foto rica-rica bebek yang ku potret tadi untuk menggoda Okta. Karna biasa nya setelah aku kirimkan foto makanan pasti dia langsung menelpon ku untuk meminta makanan tersebut di anter oleh bapak driver online ke rumah nya.
5 menit .. 15 menit .. 30 menit .. 45 menit ..60 menit ..
WA ku belum terbaca oleh Okta. Seakan dada ini terasa sesak menunggu balasan dari Okta yang sudah berjam-jam lama nya. Ku ingat lagi kejadian di sekolah tadi saat Okta bersama dengan Felix. Apakah mereka sekarang sedang asyik ngobrol sendiri tanpa aku ya?
Sebegitu cuek nya kah Okta terhadapku?
Selama ini Okta tidak seperti ini ke aku. Tak terasa air mata sudah membasahi pipi ku. Walau hanya sebentar tapi aku rindu sosok Okta yang selalu ada di dekat ku.
Yang selalu mengomeli ku, yang selalu mengingatkan ku akan hal ini dan itu, yang selalu pamer barang-barang baru nya. Sekarang semua nya menjadi berbeda. Tidak seperti dulu, sepi rasa nya tanpa Okta. Walau ini hanya beberapa jam tanpa kabar dari nya.
Karna Okta lah satu-satu nya sahabat ku saat ini.
Teman-teman SMP ku dulu kini telah sekolah keluar kota semua. Mereka pun sudah tak dapat aku hubungi nomor nya. Entah karna ganti nomor atau karna mereka sudah sibuk dengan pacar baru mereka.
Aku yang dari dulu memang belum pernah berpacaran, jadi tak tau bagaimana rasa nya punya pacar.
Karna bagi ku, dengan adanya kehangatan di dalam keluarga ku itu sudah lebih .. lebih .. dari cukup.
Aku saat ini hanya ingin fokus belajar dan meraih impian ku untuk mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri. Agar kelak aku pun dapat membantu perekonomian keluarga ku juga.
Kembali aku berfikir, apakah hari ini aku ada melakukan kesalahan yang menyinggung nya?
Tapi aku merasa tidak ada hal seperti itu tadi ...
Ah, ya sudahlah mungkin Okta sudah tertidur karna capek. Nanti kan dia juga pasti buka WA dari ku. Setelah dia membaca nya pasti dia segera menelpon ku minta meminta maaf. Aku pun nanti sebaik nya meminta maaf pada nya juga, mungkin ada sikap ku tadi yang menyakiti hati nya ...
__ADS_1
Lelah memikirkan perubahan sikap Okta, tanpa terasa aku pun mulai tertidur.