Pacar Taruhan

Pacar Taruhan
60) PoV Steven


__ADS_3

Selesai mengantar Nana dan adik-adiknya pulang ke rumah, entah mengapa pikiranku semakin kacau.


Perkataan teman lama Nana tadi sungguh menggangguku.


" Apa kau tahu kalau Nana sudah tinggal seatap denganku selama beberapa hari?


Apakah dia tidak menceritakannya padamu? "


Aargghhh ..


kepalaku semakin mau pecah memikirkan hal itu ..


Nana, sebenarnya berapa banyak rahasia darimu yang belum ku ketahui.


Apakah benar kita akan melangsungkan pertunangan ini???


Sementara dirimu masih banyak menyimpan rahasia dan tak ada satupun yang kau ceritakan padaku.


Apakah masih ada kejujuran di dalam hubungan kita ini???


Tanpa pikir panjang akupun semakin cepat melajukan mobilku ini.


Entah mau ke mana aku setelah ini,


yang kutahu sekarang aku benar-benar butuh ketenangan seorang diri.


Ddrrtt .. ddrrtt ..


Sebuah pesan singkat masuk ke ponselku.


Klik ..


Ku buka pesan singkat itu.


" Bos, untuk hotel di kota N sudah saya pesankan.


Hotel Imperal, untuk nomor kamar anda 767.


Jika anda butuh sesuatu yang lainnya,


silahkan hubungi saya. Terima kasih. "


Oke ..


Begitulah balasan pesan singkatku untuk sekretarisku.


Setelah itu, akupun menuju hotel itu.


Sepertinya aku sudah tak kuat lagi memikirkan hal itu lagi.


Sesampainya di hotel,


aku segera membersihkan diri di kamar mandi.


Ku nyalakan kran di atas bath up dengan suhu hangat.


Dan ku tuang sabun aromaterapi yang selalu menjadi favoritku.


Semua yang kusukai bahkan sekretarisku mengetahuinya.


Bagaimana denganmu Na???


Kemudian dengan pikiran yang masih kacau,


akupun berendam di dalam bath up.


Aku mencoba untuk rileks dengan berendam di sini.


Tanpa sadar kedua mataku sudah tertutup.


" Apa kau tahu kalau Nana sudah tinggal seatap denganku selama beberapa hari?


Apakah dia tidak menceritakannya padamu? "


Apa ???


Mengapa kata-kata itu lagi yang muncul di pikiranku.


Aaarrrrgggghhhh ..


Dengan perasaan kesal dan marah,


me time untuk kali ini dengan cepat kuselesaikan.


Ku pakai handuk piyama yang telah berada di tepi bath up dan segera keluar dari kamar mandi.


Akupun duduk di pinggir tempat tidur yang berukuran king size ini.


Ku tatap lekat layar handphone ini.


Ternyata tidak ada satu pesan ataupun telepon dari Nana.


Ternyata cuma aku yang terlalu mengkhawatirkannya.


Tetapi dirinya masih begitu cuek dengan keberadaanku.


Na, sampai berapa lama kamu butuh waktu untuk benar-benar serius dengan hubungan kita ini???


Apakah jarak usia kami yang cukup jauh sehingga sangat susah bagi kami untuk berkomunikasi satu sama lain???


Hah .. (menghela nafas)


Ya sudahlah, mungkin dia sudah tertidur.


Masalah kecil seperti ini tak boleh kuperpanjang lagi.


Dengan perasaan lelah,


kurebahkan tubuh ini di tempat tidur.


Dddrrttt .. ddrrrttt ..


"Ha .. halo pa ..


Apa ada hal penting yang perlu dibicarakan semalam ini?"


"Tidak ada yang penting nak.


Papa cuma ingin tanya apa kamu malam ini tidak pulang ke rumah?"


"Maaf ya pa, malam ini Steven menginap di kota N.


Karna sepertinya besok Steven masih harus mengantar Nana ke rumah sakit untuk menjenguk papanya."


"Apa???


Pak Roni sakit apa nak???


Apakah sakitnya serius???


Kenapa kamu baru memberitahu papa???"


"Sabar pa.


Tanyanya satu-satu ya,


supaya Steven bisa menjawabnya."


"Iya nak, ini karna papa merasa kuatir sama Pak Roni."


"Paman tadi siang mengalami kecelakaan kerja pa.


Kemudian tante menelpon Steven untuk minta tolong di antar ke rumas sakit.


Kebetulan Steven tadi baru selesai ketemu clien di kota ini, jadi Steven bisa bantu mengantar tante ke sana."


"Kecelakaan kerja?


Sekarang kondisinya bagaimana?"

__ADS_1


"Sekarang sudah cukup membaik pa.


Cukup istirahat beberapa hari sudah boleh pulang dari rumah sakit."


"Oh .. syukurlah kalau begitu ..


Lalu bagaimana dengan Nana?


Apakah kalian sudah bertemu?


Bagaimana kesan pertamamu tentangnya saat kalian kembali bertemu di sana?"


"Iya pa, kita sudah bertemu.


Nana anak yang sangat baik sifat dan sikapnya.


Oh ya pa, apa Steven bisa minta prosesi lamaran dan pertunangannya di percepat?


Steven gak mau sampai Nana di ambil oleh lelaki lain."


"Tenang saja nak.


Bulan depan papa sama mama akan datang ke rumah Pak Roni untuk melamar Nana sebagai istrimu.


Kamu baik-baik saja kerja di sana.


Untuk urusan lamarannya serahkan saja sama papa dan mama di sini ya."


"Makasih ya pa."


"Iya nak sama-sama.


Sekarang kamu istriahat dulu ya.


Papa mau sampaikan kabar tentang Pak Roni dan acara lamaranmu ke mama.


Bye sayang .."


"Bye pa .."


Hm, semoga paman cepat sembuh dan acara lamaranku ini bisa di lakukan bulan depan.


Semakin cepat semakin baik,


agar akupun semakin cepat memiliki Nana.


Tanpa terasa akupun sudah tertidur setelah memikirkan untuk memiliki Nana secepatnya.


☕☕☕☕☕☕


Keesokan paginya ..


Pukul 5 pagi aku sudah bangun dan bergegas membersihkan diri.


Rasanya aku sudah tak sabar untuk datang ke rumah Nana.


Dag .. dig .. dug .. Dag .. dig .. dug ..


Jantungku berdegub kencang menandakan bahwa aku benar-benar mengagumi Nana.


Kuoles selai coklat di atas roti tawar untuk menu sarapanku pagi ini.


Setelah selesai sarapan,


akupun bergegas menuju rumah Nana.


Sesampainya di rumah Nana,


kulihat rumah ini tampak sepi.


Tok .. tok ..


"Na .. Na ..


Apa kamu ada di dalam Na???"


Mengapa tak ada jawaban?


Dengan cepat akupun masuk ke dalam dan mencari Nana di setiap sudut rumah ini.


Tetapi di sini tak ada tanda-tanda bahwa Nana di sini.


Akupun mencoba naik ke atas dan melihat situasinya.


Saat sudah sampai di lantai atas,


kumencoba untuk mencari Nana di setiap kamar.


Di dua kamar yang sudah ku masuki,


tidak ada Nana di sana.


Ini adalah kamar terakhir yang akan kumasuki.


Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Nana.


Saat aku masuk, kulihat ada sebuah pintu lemari yang sedang terbuka.


Akupun mencoba mendekat.


Dan benar, itulah adalah Nana.


Tapi tunggu dulu ..


Nana hanya sedang memakai handuk untuk menutupi tubuhnya?


Apakah ia baru saja selesai mandi?


Oh tidak, ia terlihat begitu menawan dan menggoda.


Saat Nana menutup pintu lemarinya,


ia berteriak dan memintaku untuk keluar.


"Kak .. kak Steven ..


Tolong keluar ya kak, aku mau pakai baju sebentar."


Tapi sayangnya, aku tak menghiraukan permintaannya itu.


"Mengapa memintaku untuk keluar?


Cepat atau lambat aku tetap akan masuk ke kamar ini.


Karna sebentar lagi kita akan menjadi suami-istri."


Justru saat seperti ini, ia semakin menarik untukku.


"A .. apa yang mau kak Steven lakukan?


Tolong keluar kak, aku malu kalau seperti ini."


Kulangkahkan kaki ini untuk semakin dekat padanya.


"Untuk apa malu Na?


Mari kita lakukan ' permainan' ini dengan cepat.


Aku janji akan melakukannya dengan lembut untukmu."


Namun ia menolaknya dan tetap memintaku untuk keluar.


"Tidak kak .. jangan lakukan ini .. kumohon ..


Kalau kakak masih bersikeras,


maka aku akan teriak sekarang !!!"


Aku menghentikan langkahku sejenak.

__ADS_1


"Kamu mau berteriak? Silahkan saja.


Saat mereka semua datang dan melihatmu hanya memakai handuk seperti ini,


apa kamu pikir mereka tidak akan melakukan hal yang sama sepertiku?


Akan lebih baik hanya aku seorang saja yang melihatmu seperti ini."


"Tidak kak .. kumohon .. jangan .."


Slup ..


Kupegang tangan kanan Nana dan akupun mulai mencium bibirnya.


Bibirnya terasa begitu lembut dan manis.


Seakan memaksaku untuk tidak berhenti mencium bibirnya.


Dengan sedikit kekuatan, akupun menghempaskan tubuh Nana di tempat tidur dan menindihnya.


Namun kembali ia mendorong badanku dan tetap melawanku dengan sekuat tenaga.


Akhirnya dengan tangan kanan,


kupegang erat kedua tangannya dan mengangkat di atas kepala nya.


Kemudian akupun kembali mencium bibirnya.


Sedangkan tangan kiriku sudah mulai bergerilya di bawah handuknya.


Saat aku sedang asyik melakukan 'permainan' ini,


Nana masih saja terisak tangis di depanku.


Ada rasa tak tega juga ada rasa masih ingin menikmatinya.


Namun nafsu birahi di dalam diriku lebih kuat dari malaikat yang berbisik di telingaku.


Seakan tak puas dengan hanya menciumi bibirnya,


sekarang akupun semakin berkuasa di atas tubuh kecilnya ini.


Kulihat raut muka Nana yang masih terisak tangis dan iapun mulai mendesah.


"Ah .. ah .. ah ..


Kak .. ah .. hen .. ah .. hentikan .. ah .."


"Bagaimana Na?


Kamu menikmatinya juga kan?"


Ehm .. ehm ..


Kucium kembali bibirnya dan kemudian turun ke batang lehernya.


Kutinggalkan kissmark di sana agar ia mengetahui bahwa hanya diriku yang berhak atas dirinya, bukan lelaki lain.


Namun tetap saja Nana meronta-ronta.


Kemudian dengan cepat Nana menggigit bibirku.


"Awh .. sakit .."


Saat aku merasa kesakitan karna gigitannya,


Nana mendorong tubuhku dan iapun akhirnya bisa lolos dari genggaman tanganku.


Ia berlari keluar kamar dan tak tahu ke mana ia pergi.


Dengan segera aku bangkit berdiri dan mengejarnya.


"Na .. kamu di mana???


Ayo kita lanjutkan 'permainan' kita tadi.


Bukankah kamu juga menikmatinya???"


Bruk ..


terdengar sesuatu terjatuh ke bawah.


Akupun segera menghampiri suara itu berasal.


Ternyata Nana berhasil melompat ke bawah dari jendela kamar David.


"Arghh.. aarrgghhh ..


S*** padahal tinggal sedikit lagi."


Akupun segera merapikan baju dan celanaku.


Kemudian menuruni anak tangga menuju ruang tamu.


Tak di sangka aku bertemu dengan Okta,


yang tak lain dan tak bukan sahabatnya Nana.


"Na .. Na ..


Kamu di mana??"


teriak Okta.


"Nana sedang istirahat di kamarnya."


"Oh ya?


Aku mau melihat bagaimana keadaannya Nana."


"Stop !!!


Berhenti di sana, jangan melewati batasanmu!!!"


Akupun kembali beradu mulut dengan Okta dan tak berhenti di sana,


ia malah menarik tanganku dan memutar badanku menghadap ke depan.


Wanita ini benar-benar membuatku semakin kesal.


Kupukul perutnya dengan tangan kiriku dan akupun berhasil terlepas dari tangannya.


Dengan segera aku meninggalkan rumah Nana dan menuju mobilku.


"Woi .. mau kabur ke mana?


Pertarungan kita belum selesai.


Kembali ke sini .. dasar cemen loe!!!"


teriak Okta.


Hais ..


aku tak punya waktu lagi meladeni wanita gi** satu ini.


Lebih baik aku pergi saja dari sini.


Na, maafkan aku ..


Tadi aku sungguh sangat keterlaluan berbuat seperti itu padamu.


Saat bertemu denganmu lagi,


aku pasti akan meminta maaf dengan tulus padamu.


Sebenarnya aku melakukan itu karna aku tak rela jika harus kehilangan dirimu.


Apalagi perkataan teman lelakimu itu selalu menghantui pikiranku ..

__ADS_1


"Tolong maafkan aku Na ..."


__ADS_2