Pacar Taruhan

Pacar Taruhan
58) Kejadian tak terduga


__ADS_3

Saat sudah sampai rumah,


ku parkirkan sepeda miniku di depan rumah.


Kemudian aku membuka pintu dan jendela ruang tamu,


agar ada sirkulasi udara yang baik di rumah ini.


Sesaat aku melihat foto keluarga kami yang terpasang di ruang tamu ini.


Entah mengapa airmata ini mulai mengalir dan membasahi kedua pipi bulatku ini.


"Pa, cepat pulang ya.


Nana kangen keluarga kita berkumpul kembali di sini."


(ku usap-usap foto papa yang ada di depanku ini)


kring .. kring .. kring ..


Ponselku berdering cukup lama di sampingku.


"Halo .. "


"Na, ini kak Yonathan."


"Kakak, kenapa nomormu berbeda?"


"Ini nomor telepon asramaku.


Oh ya Na, nanti tolong sampaikan ke mama sama papa kalau hari ini aku gak bisa pulang.


Karna aku sedang sibuk dengan tugas-tugas kuliahku di sini."


"Tapi kak, apa kamu gak mau jenguk papa sebentar di rumah sakit?"


"Udahlah Na, aku gak punya waktu untuk bahas itu.


Aku sedang sibuk.


Pokoknya kamu sampaikan saja pesanku tadi ke mama sama papa ya.


Oh ya satu lagi, jangan lupa kirim uangnya jangan lama-lama.


Uang yang di kasih papa bulan lalu sudah habis.


Bye Na .. "


tut .. tut .. tut ..


"Halo kak .. kak .. "


Astaga, kenapa kak Yonathan masih sama seperti dulu.


Gak pernah peduli sama papa.


Tahunya cuma minta uang aja terus.


Padahal kan sekarang papa sedang sakit,


tapi tetap aja yang di ingat uang terus.


Aku harus bilang gimana nih ke mama sama papa???


Hais, pagi-pagi teleponnya kak Yonathan ini membuat kepalaku sakit.


Hm, sudahlah lebih baik aku beres-beres rumah saja sekarang.


Kemudian akupun naik ke atas dan mulai dari membersihkan kamarnya David.


Setelah itu kamarnya Agnes.


Karna kamarku sudah ku bereskan sebelum menyiapkan sarapan,


jadi sekarang akupun kembali turun ke bawah dan mencuci piring di dapur.


Selesai mencuci piring,


aku menyapu dapur, ruang makan, dan yang terakhir ruang tamu.


Hah, akhirnya selesai sudah tugas bersih-bersih rumah.


Untungnya rumah ini tidak seberapa besar,


coba kalau besar,


sudah encok-pegel linu nih pinggangku.


Akupun duduk di kursi sofa ruang tamu ini untuk bersantai sejenak.


Lumayanlah, bisa istirahat 10menit.


Astaga, aku sudah berkeringat begitu banyak.


Pantas saja badanku terasa lengket-lengket semua.


Akupun segera naik ke kamarku dan masuk ke kamar mandi.


Byur .. byur .. byur ..


Ah .. segarnya ..


Selesai mengelap badanku dengan handuk,


aku baru sadar ternyata aku lupa tidak membawa baju ganti untuk ku pakai setelah mandi.


Bagaimana bisa aku lupa begini ..


Ya sudahlah, pakai handuk ini saja untuk menutupi tubuhku.


Untung saja tidak ada orang di rumah ini selain aku.


Klik ..


ku buka pintu kamar mandiku ini dan akupun melangkah keluar menuju ke lemari pakaianku.


Ku buka lemari pakaianku dan segera mengambil kaos berwarna kuning dan hotpant favoritku.

__ADS_1


Saat aku akan menutup pintu lemariku,


betapa terkejutnya aku ..


" Kak .. kak Steven .. "


"Wah, pagi-pagi begini mau menggodaku ya dengan hanya memakai handuk begitu?"


"Hm, tolong kak Steven keluar sebentar ya.


Aku mau pakai bajuku dulu."


Seperti tak mendengar ucapanku,


ia melangkah mendekat padaku.


Ku pegang erat-erat handuk yang ku pakai ini,


dan akupun melangkah mundur.


"Kak, tolong keluar ..


Tidak sopan jika seorang pria masuk ke kamar perempuan yang bukan istrinya seperti saat ini."


"Mengapa tidak sopan?


Kamu adalah calon istriku.


Cepat atau lambat aku tetap akan masuk ke kamar ini."


"Kak, tolong jangan seperti ini ..


Aku .. aku malu .. "


Slap ..


Dengan cepat kak Steven menggenggam tangan kiriku .


"Tidak perlu malu Na,


kan cuma ada kamu sama aku di sini.


Kamu cukup jadi Nana yang penurut saja dan aku janji akan melakukannya dengan sangat lembut untukmu."


"Lepaskan kak !!!


Aku peringatkan sekali lagi,


jangan berbuat macam-macam !!!


Kalau tidak aku akan berteriak."


"Kamu mau berteriak? Silahkan saja.


Terus orang-orang akan datang ke sini dan melihat tubuhmu yang hanya di tutupi handuk seperti ini,


apa kamu pikir mereka juga tidak akan tergoda?


Akan lebih baik jika hanya aku seorang saja yang melihatmu seperti ini di sini"


sahutnya sambil mengelus rambutku dengan tangan kirinya.


Jangan lakukan ini .. "


Brak ..


Seketika ia menghempaskan tubuhku ke atas tempat tidur.


Tapi aku tak menyerah, aku tetap berusaha melarikan diri darinya.


Melihatku yang masih memiliki tenaga untuk melawan,


iapun mengerahkan seluruh tenaganya untuk menindihku.


Dengan isakan tangis aku memohon padanya untuk melepaskanku.


Namun tetap tak dihiraukannya ..


Melihatku yang menangis,


ia langsung ******* habis bibirku.


Sedangkan tanganku di angkatnya di atas kepalaku dengan tangan kanannya.


Tangan kirinya masih saja bergerilya di bawah handuk yang ku pakai saat ini.


Seketika aku merasakan ada suatu sensasi kenikmatan yang tak pernah kurasakan selama ini


saat tangannya sedang asyik bergerilya di tubuhku.


Namun tetap saja aku meronta-ronta di bawah tubuhnya saat ini.


Semakin aku melawan,


ia semakin ganas memainkan bibirku dan memainkan tangannya di tubuhku.


Dicium nya leherku dan meninggalkan banyak kissmark di sana.


Tak hanya itu, ia juga semakin birahi atas diriku.


Ah .. ah .. ah ..


aku hanya bisa mendesah di tengah isak tangisku ini.


"Bagaimana Na 'pelayananku' ini?


Kamu menikmatinya juga kan?"


"Kamu jahat kak!!!


Aku benar-benar membencimu!!!"


sahutku dengan penuh amarah dan isakan tangis.


Uhm .. uhm ..


Kembali dia memberikan ciuman di bibirku.

__ADS_1


Tak ada jalan lain, akhirnya akupun mengigit bibirnya.


Plak ..


sebuah tamparan mendarat di pipi kiriku.


Yah, ini adalah kesempatanku untuk melarikan diri darinya.


Dengan sekuat tenaga,


aku segera mendorong tubuhnya dan aku berlari keluar kamar.


Tanpa pikir panjang aku langsung masuk ke dalam kamarnya David dan kukunci kamar ini agar ia gak dapat masuk ke dalam sini.


Dengan cepat aku memakai pakaian yang ada di lemari baju David.


Untung saja yang aku ambil ini langsung pas di tubuhku.


Setelah selesai memakainya,


aku tidak mendengar suara apapun dari balik pintu kamar ini.


Kurasa situasinya sudah aman sekarang.


Ku coba mencari-cari ponselku,


ternyata aku tidak dapat menemukannya.


Bagaimanapun caranya,


aku harus segera keluar dari rumah ini dan meminta bantuan.


"Tuhan, tolonglah lepaskan aku dari orang yang tak tahu malu dan tak punya perasaan ini.


Aku tak mau ia berhasil menghancurkan masa depanku"


doaku dalam hati dengan penuh kecemasan.


Kemudian terdengar suara langkah kaki yang semakin dekat menuju kamar ini.


"Nana .. di mana kamu???


Sampai kapan kamu mau main petak umpet seperti ini???


Ayolah, aku sudah tak sabar melanjutkan permainan kita tadi."


"Dasar orang gi** ..


Siapa juga yang mau meladenimu!!!"


bisikku dalam hati.


Saat ku dengar suaranya semakin dekat,


akupun nekat melompat keluar melalui jendela kamarnya David.


Bruak ..


Akhirnya aku sudah berhasil melompat turun, tapi ..


Aw .. sakit ..


Kulihat kedua lutut kaki dan tanganku mengeluarkan darah.


Dengan rasa sakit ini, aku berdiri dan berlari keluar rumah.


Rasa sakit ini harus ku tahan,


daripada aku kehilangan kehormatanku di tangannya.


Tin ..


Suara klakson mobil mengejutkanku


Ku lihat itu adalah mobilnya Okta.


Akupun bergegas masuk ke dalam mobilnya.


"Ta, ayo jalan cepat .."


"Na, kamu kenapa?


Kok mukamu pucat begitu?"


tanya Okta heran.


"A .. a .. aku .."


Kembali airmataku mengalir begitu saja dan aku tak dapat melanjutkan perkataanku.


Karna aku tak dapat menjawab pertanyaannya,


Okta pun sudah mengerti pasti ada sesuatu yang tidak beres di dalam rumahku yang membuatku ketakutan seperti ini.


Dengan perasaan marah,


Okta turun dari mobil dan menutup pintu mobilnya.


"Na, kamu di sini saja.


Kunci pintu mobil ini dengan rapat.


Tunggu sampai aku kembali.


Aku janji akan menyelesaikan ini dengan cepat."


"Tapi Ta .."


Okta tetap berjalan masuk ke dalam rumahku tanpa menoleh ke arahku lagi.


Bagaimana ini, apa yang akan terjadi dengan Okta kalau tahu yang ada di dalam rumahku itu adalah kak Steven yang tak lain dan tak bukan adalah calon tunanganku ..


Apakah Okta bisa melawannya???


Ketakutan semakin bertambah saat Okta masuk ke dalam sana.


Apapun yang terjadi kamu harus keluar dengan selamat Ta ..

__ADS_1


"Tuhan, tolong lindungilah sahabatku itu .."


pintaku dalam hati.


__ADS_2