Pacar Taruhan

Pacar Taruhan
26) Keterpurukan Andika


__ADS_3

" Andika, ayo bangun. " di usap-usap nya lembut kening Andika


" Na .. Na ..Nana .. kamu bener'an ada di sini?


Andika bangun dengan sangat terkejut


" Iya Ndika, ini aku. " sahut Nana sambil tersenyum


" Kamu gak apa-apa kan Na? Maaf ya aku datang terlambat buat bebas'in kamu dari penculik-penculik itu. " di genggam nya erat tangan Nana


" Aku gak apa-apa Ndika, justru kamu yang keliatan lemah sekarang. Ayo bangun dan sarapan dulu. " sahut Nana sambil menyuapi Andika semangkok bubur


Saat Nana hendak memasukkan suapan pertama nya, tiba-tiba mangkok yang di bawa Nana terjatuh dan pecah. Kemudian Nana menangis dengan keras.


Andika yang melihat Nana menangis berusaha menenangkan nya dan memberikan nya sebuah pelukan hangat. Namun saat Andika hendak meraih tubuh Nana, tiba-tiba saja tubuh Nana terlihat semakin memudar dan kini menghilang dalam sekejab saja.


" Na .. Na .. Nana .. please jangan tinggalin aku lagi Na.


Aku sayang kamu Na.


Na .. Na .. Nana .. " teriak Andika dengan begitu histeris


Mama Andika yang sedang tertidur di samping ranjang Andika langsung terbangun ketika mendengar anak sulung nya memanggil-manggil nama Nana.


" Ndika, ayo bangun sayang. Ndika .. Ndika .. "


kata mama Andika sambil menepuk-nepuk pipi Andika


Sejenak mama Andika seperti kehilangan semangat nya, karna seperti nya Andika tidak mau bangun dari tidur panjang nya ini. Tanpa terasa air mata seorang ibu telah menetes membasahi kening anak nya itu.


" Ma .. mama .. " kata Andika pelan


Mendengar anak nya memanggil diri nya, segera di hapus nya air mata yang mengalir dari tadi.


" Kamu sudah bangun nak, sini-sini mama bantu kamu bangun. Kamu sudah seminggu ini belum sadarkan diri. Sekarang kamu makan dulu ya sayang, mama sudah siap'in bubur ayam kesukaan mu yang sudah mama buatkan khusus untuk mu tadi. Di habiskan ya sayang. " sahut mama Andika sambil menyuapi Andika dengan perlahan


" Ma, gimana keadaan Nana? Apa Nana sudah masuk sekolah? Besok Andika ke sekolah ya ma buat ketemu sama Nana. "


Saat mendengar pertanyaan ini dari Andika, ia pun tak tahu harus menjawab apa sekarang ini.


Karna masih belum ada informasi sedikitpun tentang keberadaan Nana. Saat ini semua orang seperti kehilangan jejaknya Nana.


" Ma .. mama kok diem aja sih? "


" Hm .. iya Ndika maaf tadi mama sedikit kepikiran sama kerja'an nya mama di luar negeri yang sudah mama tinggalkan selama seminggu ini. "


" Ma, kalau mama masih banyak kerja'an di luar negeri kenapa repot-repot datang ke sini buat ngurus'in Andika? Kan Andika sudah besar ma, udah bisa urus diri Andika sendiri. "


Mama Andika masih tetap tak tahu harus memberikan jawaban apa untuk Andika. Meskipun diri nya di anggap masih lebih mementingkan pekerjaan nya saat ini di bandingkan dengan anak nya sendiri, itu tidak masalah. Asal bisa mengulur waktu agar Andika tidak shock lagi saat mengetahui kabar tentang Nana yang masih belum berhasil di temukan. Jika tidak, pasti saat ini Andika bersikeras keluar rumah untuk mencari keberadaan Nana. Walaupun kondisi diri nya sendiri masih belum cukup pulih sepenuh nya.


" Sayang, besok kamu gak usah ke sekolah dulu ya. Tolong mama bantu untuk merekap keuangan perusahan mama. Karna sekretaris mama masih cuti. Sedangkan 3 hari ke depan mama harus segera memberikan rekapan ini untuk para pemegang saham di perusahan mama. Atau kalau kamu keberatan membantu mama, bagaimana kalau besok kamu bantu adik mu untuk mengerjakan tugas-tugas nya yang akan di bawa nya kembali ke luar negeri?


Kamu kan sudah seminggu ini belum bertemu dengan adik mu, pasti kamu juga sudah merindukan nya bukan? "

__ADS_1


Andika yang mendengarkan penjelasan dari mama nya tadi seakan masih bimbang, apakah ada sesuatu yang di sembunyikan oleh mama nya. Namun Andika tak mau berburuk sangka terlebih dahulu. Yang terpenting sekarang diri nya harus segera pulih untuk dapat segera bertemu dengan Nana di sekolah.


" Wah, hebat anak mama. Makanan nya sudah habis.


Sekarang kamu minum air putih dulu ya, setelah itu kamu istirahat lagi aja. Mama mau telepon papa sebentar untuk memberi nya kabar bahagia ini, kalau putra kesayangan ini sudah bangun dari tidur panjang nya. "


Dengan segera mama Andika pergi keluar kamar Andika dan menelpon suami nya.


Andika masih begitu lemas, namun diri nya masih tidak tenang sebelum mengetahui kabar tentang Nana secepat nya. Dengan rasa kesakitan yang masih belum hilang, Andika turun dari ranjang nya. Di cari nya ponsel kesayangan nya. Dan akhirnya ia berhasil menemukan nya di laci meja belajar nya.


Dengan segera Andika menelpon nomor Nana.


Namun sangat disayangkan, nomor Nana sedang berada di luar jangkauan. Dengan panik nya, Andika mencoba menelpon Felix. Karna sesama pria tidak mungkin ia akan membohongi diri nya yang saat ini sedang kebingungan memikirkan Nana.


" Halo, ini siapa ya? " tanya Felix heran


" Lix, ini gue Andika. "


" Ndika, apa bener ini kamu? OMG, setelah seminggu ini kamu gak ada kabar akhir nya kamu menelpon ku. Oy, gimana keadaan mu sekarang? Kamu pakai ponsel siapa untuk menelpon ku? Kok nomor mu ganti?


Pantas aja aku sama Okta menelpon mu berkali-kali tapi tidak ada jawaban sama sekali. Ternyata kamu ganti nomor ya? "


" Gue pakai 2 nomor dalam satu ponsel. Tapi itu gak penting sekarang. Gue cuma mau tanya gimana kabar Nana sekarang? Apa dia baik-baik aja selama seminggu ini? Karna gue denger dari nyokap kalau gue udah gak sadarkan diri selama seminggu ini.


Gue cuma kuatir sama Nana sekarang. Nyokap juga udah gue tanya soal kabar Nana tapi gak ada jawaban sama sekali.


Terus gue telpon Nana, nomor nya juga di luar jangkauan. Please Lix, kasih tahu gue kabar tentang Nana ya. "


Suara Andika terdengar begitu pilu dan memendam kerinduan yang begitu mendalam pada Nana.


" Lix, kamu masih di sana kan? Kok diem aja?


Tolong jawab aku Lix. "


Namun tetap sama, Felix tak memberikan jawaban apapun ke Andika. Ia hanya terdiam, namun Andika terus saja mendesak nya untuk menceritakan kabar Nana sekarang. Dan akhirnya ia pun mematikan ponsel nya.


" Halo .. halo Lix .. Felix .. " bentak Andika


tut .. tut .. tut ..


telepon Felix pun terputus begitu saja


Andika tidak merasa putus asa, ia masih terus berusaha menelpon ponsel Felix. Namun ternyata hasil nya nihil, Felix telah mematikan ponsel nya.


Andika semakin bertanya-tanya, sebenar nya ada apa ini. Mengapa tidak ada seorang pun yang bisa memberi nya kabar mengenai Nana.


Dengan kondisi masih lemas, Andika pun berganti pakaian dan segera mengambil kunci mobil nya hendak pergi ke rumah Okta. Namun saat membuka pintu kamar, ternyata papa nya sudah berdiri di depan nya untuk menghentikan langkah nya.


Tiba-tiba ..


Plak ..


sebuah tamparan sudah mendarat di pipi kiri Andika.

__ADS_1


" Apakah demi seorang wanita yang status nya di bawah kita itu kamu pun merelakan harga diri papa dan mama? Kamu sudah mengorbankan diri mu sendiri untuk diri nya sampai kondisi mu seperti ini sekarang. Ingat Andika, papa gak mengijinkan mu untuk berhubungan dengan nya lagi. Papa sudah baik hati tidak membuat perhitungan dengan keluarga nya, saat kamu sudah babak belur di hajar oleh preman-preman itu. Kalau kamu masih berani melangkahkan kaki mu keluar dari rumah ini, papa janji akan membuat mereka sekeluarga sengsara seumur hidup. Pikirkan itu baik-baik Andika. "


" Pa, sudah tenang dulu. Ingat pa, Andika baru aja sadar, jangan buat dia shock berat. Beri Andika sedikit waktu untuk sendirian. Ayo kita ke kamar dulu. "


ajak mama Andika sambil menggandeng suami nya untuk pergi meninggalkan Andika


Andika masih terpaku dan terdiam.


Ia masih tak tahu harus bagaimana sekarang.


Seperti nya tak ada seorang pun yang mengerti tentang diri nya saat ini. Yang ia inginkan saat ini hanya untuk mengetahui bahwa Nana baik-baik saja. Tapi siapa sangka, ternyata ia malah terpojokkan oleh situasi ini.


Jika ia memilih untuk menemui Nana, ke depan nya pasti papa nya benar-benar tidak akan melepaskan keluarga nya Nana. Sebab papa nya tidak pernah main-main dengan kata-kata nya.


Namun jika diri nya memilih tidak menemui Nana, seperti ada suatu kehampa'an dalam diri nya saat ini.


" Agggrrrhh .. aku memang lelaki yang payah.


Tidak bisa melindungi orang yang ku sayang. "


teriak Andika sambil menangis sejadi-jadi nya


Tanpa terasa Andika pun sudah kembali terlelap dalam lelah nya.


Keesokan pagi nya ..


Andika sudah bangun sejak subuh tadi, diri nya tak sabar untuk bertemu dengan Nana di sekolah.


Walau tak dapat menemui dan mengobrol dengan nya secara langsung, namun hanya dengan melihat senyuman nya saja itu sudah cukup bearti bagi diri nya.


Dengan cepat Andika pun turun untuk berangkat ke sekolah. Tetapi hari ini ada sesuatu yang nampak berbeda di rumah ini. Namun Andika tidak menghiraukan nya. Ia tetap melangkahkan kaki nya bergegas keluar rumah.


" Ndika, kamu mau ke mana? "


tanya papa nya dari arah ruang tamu


" Mau ke sekolah pa. "


" Hari ini dan seterus nya kamu gak perlu ke sekolah itu lagi. Papa dan mama sudah mendaftarkan mu di sekolah yang sama dengan adik mu di luar negeri sana. Apa mama mu kemarin belum memberitahu mu? Nanti jam 7 pagi kita semua akan berangkat keluar negeri untuk hidup di sana dan tidak akan pernah kembali ke kota ini lagi. "


" Apa pa? Kenapa mendadak gini? "


" Maaf sayang, kemarin kamu masih kelihatan lemah. Jadi mama belum sempat memberitahu mu. Sekarang kita turuti apa kata papa saja ya sayang. "


sahut mama Andika sambil menggenggam tangan suami nya


Mereka berdua seakan sudah sepakat dengan keputusan ini tanpa menanyakan terlebih dahulu apa pendapat Andika.


Tanpa sepatah kata, Andika langsung pergi menuju kamar nya meninggalkan orangtua nya yang masih berada di ruang tamu.


Saat mama Andika ingin menyusul diri nya, papa Andika mencoba untuk menahan nya.


" Biarkan Andika sendiri. Mau tak mau ia harus melewati ini semua dan memulai hidup baru nya bersama kita di luar negeri. Karna kota ini sudah tidak lagi cocok untuk nya. Kita pun berbuat seperti ini juga hanya untuk kebaikan dan masa depan nya kelak. "

__ADS_1


kata papa Andika sambil menghela nafas panjang


__ADS_2