Pacar Taruhan

Pacar Taruhan
89) Sikap overprotektif Steven


__ADS_3

Ujian hari ini telah berakhir ..


" Lega rasanya setelah melewati ujian hari ini.


Ayo kita pulang Na. "


ajak Okta


" Sori Ta, hari ini aku gak pulang bareng kamu ya.


Soalnya nanti kak Steven mau jemput aku. "


sahutku sambil tersenyum


" Asyik bearti aku bisa seharian sama ayang Okta nih. "


sela Felix


" Jangan mimpi deh. "


jawab Okta jutek


Tin .. tin ..


Terdengar suara klakson mobil yang berhenti tepat di depan sekolahku.


Kemudian seseorang menurunkan kaca mobil dan melambaikan tangan ke arahku.


Yah, dia adalah calon tunanganku.


Kak Steven ..


" Tuh, udah di jemput sama pangeranmu Na.


Cepat samper'in sana.


Sebelum di tikung sama cewek-cewek di sekolah ini. "


goda Felix


" Oke Lix. Titip jaga Okta ya.


Ta, aku balik dulu'an ya.


Bye ..


pamitku sambil melambaikan tangan


" Hati-hati di jalan ya Na. "


sahut Okta dengan membalas melambaikan tangan ke arahku


" Yuk, kita juga pulang sayang. "


ajak Felix


Tanpa menjawab perkataan si Felix,


Okta segera berjalan masuk ke dalam mobilnya.


Dan aku segera berlari menghampiri mobil kak Steven.


" Silahkan masuk tuan puteriku. "


ucap Steven sambil membuka pintu mobil


" Terima kasih pangeran tampanku. "


jawabku sambil masuk ke dalam mobil


Kemudian kak Steven juga bergegas masuk ke dalam mobil dan kami segera menjemput David juga Agnes.


" Sayang, nanti kita jemput adik-adikku di sekolahnya Agnes aja ya.


Karna David tadi aku minta untuk menunggu kita di sana. "


ucapku sambil melihat ke arahnya


" Siiap nyonya Nana. "


sahut Steven sambil mengedipkan mata


" Apa'an sih sayang .. "


ucapku sambil menepuk tangan kirinya


Slap ..


Dengan cepat ia menangkap tangan kananku dan menciumnya.


" Aku menyayangi dan mencintaimu sayang dengan sepenuh hatiku. "


ucap kak Steven dengan terus mencium telapak tangan kananku


" Aku juga menyayangi dan mencintaimu sayang. "


sahutku dengan tersipu malu


" Akhirnya aku mendengarmu membalas ucapanku ini dan mengakui kalau kamu juga menyayangi dan mencintaiku.


Aku janji tidak akan mengecewakanmu lagi sayang. "


ucap Steven dengan tegas


" Sudah - sudah, fokus dong kalau lagi menyetir.


Supaya kita juga cepat sampai di sekolahnya Agnes.


Kasihan mereka nanti menunggu kita lama di sana. "


sahutku sambil mencoba melepaskan tanganku


" Siiap sayang ..


Oh ya sayang, nanti sampai di rumah kamu langsung siap-siap ya.


Karna aku mau mengajakmu berbelanja keperluan pertunangan kita bulan depan.


Tapi kamu jangan berdandan terlalu cantik,


nanti banyak pria yang memandangimu.


Aku 'kan gak suka kalau kamu jadi pusat perhatian pria lain.


Karna kamu hanya milikku seorang. "


jelas Steven


" Berbelanja??? Di mana???


Kenapa gak belanja sama om dan tante Ngui aja?


Kok malah ngajak aku? "


tanyaku heran


" Mereka semua juga ikut kok sayang.


Orangtua mu dan adik-adikmu juga ikut.


Semakin banyak orang semakin seru 'kan?


Sekalian juga kita jalan-jalan sama semua orang.


Karna kebetulan hari ini aku sedang cuti,


jadi akupun ingin menghabiskan semua waktuku untukmu.


Hitung-hitung sebagai bentuk penebusan salahku kemarin yang kurang memperhatikanmu sampai kamu terjatuh sakit. "


jawab Steven dengan rasa bersalah


" Ooo .. iya deh kalau gitu bolehlah .. "


sahutku sambil tersenyum


Muach ..


Kucium pipi kiri kak Steven.


" Sudah jangan merasa bersalah lagi ya sayang.


Itu adalah hadiah dariku untukmu karna kemarin juga sudah merawatku dengan baik. "


ucapku dengan tersipu malu


Ciiittt ..

__ADS_1


" Lho, kenapa berhenti di sini sayang? "


tanyaku heran


" Karna kamu sudah memancing area sensitifku sayang.


Jadi sekarang giliran aku yang akan membalas ciumanmu tadi ya. "


goda Steven


" Jangan macam-macam,


kalau gak aku bakal turun nih sekarang. "


sahutku sambil memegang pintu mobil


" Ayolah sayang sebentar saja ya.


Aku 'kan sudah bilang kemarin,


kalau kamu sudah sembuh kita akan melanjutkan ciuman kita lagi. "


goda Steven sambil mendekatkan wajahnya ke arahku


Dengan cepat aku mendorong tubuhnya agar menjauh dariku.


Namun usahaku gagal karna dengan cepat ia sudah mendekat lagi ke arahku.


Slap ..


Dengan cepat dipegangnya kedua tanganku.


Kemudian ia semakin mendekat ke arahku dan kini jarak kami hanya sejauh dua sentimeter.


Deg .. deg .. deg ..


Deg ..deg .. deg ..


Detak jantungku kini berdetak dengan sangat cepatnya.


Dengan perlahan namun pasti kak Steven mendekatkan wajahnya ke wajahku.


Sekarang tidak ada jarak di antara kami.


Wajah kami kini sudah sangat dekat.


Dengan sedikit takut dan malu-malu,


akupun menutup kedua mataku.


Muach ..


Sebuah ciuman mendarat di keningku.


" Jangan takut sayang.


Aku tidak akan mengambil kesempatan apapun darimu jika kamu tidak mengijinkannya.


Karna aku mau belajar untuk menjadi pria yang terbaik untukmu dan tidak memaksakan kehendakku padamu. "


ucap Steven sambil memelukku


" Terima kasih sayang. "


bisikku pelan di telinga kirinya


" Sekarang kamu pakai sabuk pengamannya dulu ya,


karna aku akan mengemudikan mobil ini dengan sangat cepat agar David dan Agnes tidak terlalu lama menunggu kedatangan kita. "


ucap Steven sambil tersenyum


Broom .. broom .. broom ..


Memang benar, kak Steven mengendarai mobil ini dengan sangat cepat.


Sampai-sampai aku memegang sabuk pengaman ini dengan sangat erat karna ketakutannya diriku.


Ciiittt ..


" Nah, kita sudah sampai sayang. "


ucap Steven dengan bangganya


" Oke .. aku turun memanggil David dan Agnes dulu ya sayang. "


" Kamu kenapa sayang?


Kok memegangi kepala seperti itu? "


tanya Steven cemas


" Aku tidak apa-apa sayang.


Tolong tunggu aku di sini sebentar ya. "


sahutku dengan bergegas turun dari mobil


Setelah itu aku berjalan dengan sempoyongan ke arah pintu gerbang sekolah Agnes.


Namun tiba-tiba kepalaku terasa semakin pusing dan ..


Woo .. woek .. wooeek ..


Akhirnya lega juga setelah kutahan-tahan dari tadi.


Tapi kenapa kepalaku ini masih sangat pusing ya???


Dengan berpegangan pada pagar pintu gerbang,


perlahan aku duduk di depan pos satpam.


" Coba kamu hirup ini. "


sapa seseorang dengan menyodorkan sebotol minyak kayu putih padaku


" Terima kasih. "


sahutku dengan menunduk sambil meraih botol minyak kayu putih itu


Syup .. syup ..


" Bagaimana???


Sudah agak mendingankan daripada tadi? "


tanyanya padaku


" Iya sudah. Terima kasih. "


sahutku sambil mengangkat kepala melihat ke arahnya


" Sama-sama. "


balasnya


" Ka .. kamu .. kamu adalah .. "


" Iya, aku adalah dokter yang merawat papamu waktu itu.


Perkenalkan namaku Edo. "


ucapnya sambil mengulurkan tangan kanannya


" Hai dokter, namaku Nana. "


jawabku sambil menjabat tangannya


" Bagaimana papamu sekarang?


Apa sudah tidak ada keluhan lagi? "


tanyanya


" Papa sekarang sudah pulih sepenuhnya.


Terima kasih atas perhatiannya dokter.


Oh ya, dokter di sini mau menjemput siapa?


Ups, maaf bukan maksudku untuk mencampuri urusan pribadi dokter. "


sahutku sambil menundukkan kepala


" Jangan panggil aku dokter terus seperti itu.


Panggil saja namaku tidak apa.

__ADS_1


Hm .. Aku ke sini menjemput anak dari kakak perempuanku.


Karna kakakku hari ini sedang tidak enak badan,


jadi aku membantunya menjemput puteri kecilnya itu.


Kebetulan juga hari ini aku sedang cuti jadi bisa menjemputnya. "


jelasnya sambil tersenyum


" Oh iya dok .. Ups, maksudku kak Edo. "


jawabku sambil tersenyum


" Sayang, mengapa lama sekali tidak kembali ke dalam mobil?


Aku sudah lama menunggumu,


apa semuanya baik-baik saja?


Di mana adik-adikmu? Dan siapa pria ini? "


tanya Steven heran


" Hmm .. mm .. dia adalah dokter yang merawat papa waktu itu.


Kamu pasti mengingatnya.


Tadi setelah turun dari mobil,


aku mual dan kemudian muntah.


Tetapi untunglah kak Edo ini membawakanku minyak kayu putih untuk meredakan mualku itu. "


jelasku


" Oh begitu. Terima kasih atas bantuannya.


Tapi tolong jangan dekat-dekat dengan calon tunanganku ini. "


sentak Steven


" Apa'in sih Kak Steven ??? "


ucapku pelan


" Apa sekarang kamu sudah baik'an sayang?


Lebih baik kita sekarang cepat mencari David dan Agnes,


kemudian kita segera pulang ke rumah.


Agar kamu juga bisa cepat beristirahat.


Sini aku papah kamu untuk jalan ya. "


sahut Steven


" Pelan-pelan, tubuh Nana kelihatannya masih begitu lemas.


Lebih baik kamu biarkan saja dia duduk dulu untuk beristirahat sebentar. "


terang Edo


" Maksudmu membiarkannya duduk di sini bersamamu?


Agar kamu bisa dengan leluasa mendekatinya?


Apa kamu pikir aku tidak bisa membaca pikiranmu itu saat melihatmu menatap calon tunanganku ini? "


ucap Steven dengan emosi


" Cukup kak .. Ku mohon hentikan .. "


sahutku lemas


" Mengapa kamu malah membelanya Na?


Aku ini adalah calon tunanganmu, bukan dia. "


teriak Steven sambil menunjuk ke arah Edo


" Terserah kamu saja kalau begitu. "


ucapku sambil meninggalkannya


" Vid .. Nes .. ayo kita pulang. "


ajakku


" Iya kak. "


sahut mereka bersama'an


Kemudian kamipun segera berjalan keluar meninggalkan sekolah dan kak Steven masih berdiri di sana.


Tetapi kepalaku semakin pusing dan penglihatanku sudah memudar.


Bruak ...


" Kak .. kamu kenapa kak??? "


teriak David panik


Dengan cepat kak Steven berlari menyusul David dan Agnes.


" Kak Nana kenapa Vid? "


tanya Steven cemas


" Gak tahu kak, tadi waktu kita jalan tiba-tiba kak Nana jatuh. "


jelas David


" Ya sudah ayo kita bawa kak Nana ke dalam mobil dulu. "


ajak Steven


Slap ..


Dengan cepat Edo menggendong tubuh Nana dan berpaling pergi dari Steven.


" Hei .. apa yang kamu lakukan?


Cepat kembalikan Nana padaku sekarang !!! "


teriak Steven


" Anggun, tolong paman buka pintu mobil ya.


Kita harus segera membawa kakak ini ke rumah sakit. "


pinta Edo


" Tunggu kak, ijinkan kami ikut untuk menemani kak Nana. "


sahut David


Dengan cepat Edo mengangguk tanda menyetujui permintaan David.


Kemudian mereka segera berlari dan masuk ke dalam mobil Edo untuk membawa Nana ke rumah sakit.


Broom .. broom ..


Saat dalam perjalanan menuju rumah sakit,


David mencoba menghubungi kedua orangtuanya untuk memberitahukan kalau Nana sedang di bawa ke rumah sakit.


Dengan cepat mereka sudah sampai di rumah sakit Melati.


Karna Edo adalah dokter di rumah sakit ini,


jadi ia dapat dengan segera memberikan tindakan untuk Nana.


Setelah beberapa menit,


di tangan kanan Nana sudah terpasang infus untuk membantu mengembalikan cairan tubuhnya yang sudah banyak hilang.


💫💫💫💫💫💫💫


Bagaimana kisah Nana selanjutnya???


Sebenarnya ada apa dengan Nana???


Nantikan di episode berikutnya ya 😉👍


Jangan lupa juga utk memberikan rate, vote, & like agar author Anna bz smkn cpt up nya & memberikan cerita-cerita menarik lainnya 😇

__ADS_1


Terima kasih utk semua dukungan kalian 😍


__ADS_2